Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 22. minta jatah


__ADS_3

“ok, jadi gini...” Rehan kemudian menceritakan semuanya pada Luna tanpa perlu ditutup-tutupi karena Luna istrinya jadi harus tau.


...


Luna ternganga setelah mendengar cerita Rehan, benar-benar membuat nya tak percaya.


“Waahh... ternyata suami gue seorang tuan muda miliarder. Ckck...benar mencengangkan” heboh Luna dengan penuh kekaguman seraya menangkup muka Rehan dengan kedua tangan nya. Luna menatap Rehan dengan mata berbinar-binar.


Rehan diperlakukan seperti itu hanya diam saja, merasakan tangan lembut itu menangkup pipi nya membuat jantung nya jadi tak normal.


“Hehe... senang banget ya dapat suami orkay” Kekeh Rehan sambil tersenyum tengil.


Membuat Luna mendengus tak lupa menarik kembali kedua tangannya dari pipi Rehan. “Ck, gak usah sombong, yang kayakan cuman ayah Lo”  


“Ya sama aja dong, dia kan ayah gue bukan ayah orang lain!” timpal Rehan tak terima.


Luna hanya memutar bola matanya males, kemudian berpikir, “Hm... tadi siapa nama asli Lo” tanya Luna lagi saat tak mengingat jelas nama Rehan sebenarnya.


“Athalla Alteonel Albert, terserah lo panggil apa. Tapi menurut gue Lo panggil Rehan aja dah” sahut Rehan.


“Ya gak bisa gitu dong, itu kan cuman nama lain aja bukan nama asli Lo” geleng Luna protes.


“Bukan gitu ya, soalnya gue udah biasa selama ini di panggil Rehan nanti yang ada Lo panggil Atha atau Teo yang ada gue gak jawab nanti..”


“Rehan- ralat maksud gue Atha lebih Lo biasa in mana taun dengan begitu Lo bisa mengingat sesuatu kan, atau Lo harus sering ketemu keluarga lo biar sering waktu ingatan Lo bisa pulih kembali...” jelas Luna.


Rehan tampak berpikir, “maksud akal juga sih, tapi gak akan semudah itu Lun” geleng Rehan sedikit lesu, sebenarnya sangat ingin sekali ingatan segera pulih.


“Jangan lesu gitu dong, pasti ada jalannya kok. Gak akan selamanya Lo amnesia... dengan perlahan pasti bakal pulih”  ucap Luna memberikan semangat.


“Ya udah kalo gitu peluk dong” Rehan bergeser sambil membuka lebar kedua tangannya ke arah Luna.


“Gak udah aneh-aneh” cetus Luna kesal.


“apanya yang aneh sih, gue kan cuman minta peluk bukan minta ***-*** my istri”


“ Nih peluk” Luna melempar tas sekolahnya yang mana mengenai muka ganteng Rehan.


“Jahat banget Lo sama laki sendiri!” Rehan cemberut dengan tangan memukul-mukul tas itu, ia kesal tau punya istri tapi minta peluk doang pelit. Padahal ia juga pengen kayak di drakor itu.


“REHAAAAN...!”


“Astaga!” hampir ia jantungan dibuatnya, suara istrinya benar-benar berbahaya.


“Ada apa sih pakai teriak-teriak segala, apa gak sakit tenggorokan nya” Rehan bergegas memasuki kamar, namun ia tak menemukan orang nya.


“Rehaaaan” mendengar panggilan Luna yang ternyata di dalam kamar mandi.

__ADS_1


“Ada apa?”


“Kenapa shampoo gue jadi beda Han, Lo kemanain sampoo Sunsilk stroberry gue hahh...loh tau kan itu shampoo favorit gue!”


“Oh itu, udah habis makanya gue buang makanya gue beliin yang baru, lagian kenapa sih? Pakai yang ada aja bisakan” jelas Rehan santai, tadi sebelum pulang ia sempatkan belanja di minimarket.


“seharusnya Lo beli yang sama dong bukan beda gini iihh...”


“Lupa, ya udah pakai aja dulu, nanti gue beliin”


Hanya terdengar degusan dari kamar mandi. Rehan hanya geleng-geleng kepala, shampoo saja di permasalahkan.


...


19.00 malam


Terlihat kedua pasangan itu sedang nikmat melahap makan malamnya.


“Lun, kapan sih gue dikasih jatah!”


Uhuk-uhuk


Luna langsung tersedak minumannya mendengar pertanyaan Rehan, ia bukan cewek polos jadi ia mengerti apa yang dimaksud Rehan. Lagian ngapain nanya itu di saat makan, gak ada akhlak banget.


“Ya Allah demi apa? Ngapain Lo nanya soal itu di saat makan begini”


“jadi kapan” tanya Rehan lagi sambil menaik-turunkan alisnya pada Luna.


Katanya tadi keceplosan lah sekarang nanya lagi, membuat Luna kesal sendiri.


“Gak usah nanya lagi, habisin makan Lo” cetus Luna yang sekarang telah menyelesaikan makannya.


“Oke, tapi nanti harus dijawab ya..”


Luna menatap jengah saat melihat senyuman menggoda Rehan, tapi gak ayal pada kenyataannya ia sedikit malu.


“Besok-besok gak usah liat drakor lagi, kalo perlu skip saat lagi nganu nya”  ia yakin Rehan jadi begini karena kebiasaan nonton drakor.


Rehan yang telah menghabiskan makanan nya mendelik, “bukan salah gue Lo nya aja yang kagak mau ganti channel lain, terus gimana gue gak nonton coba” protes Rehan, walaupun ia akui ada asyiknya juga.


Luna sadar ia jadi salah tingkah, ternyata salahnya sendiri. “Oke, Fine. Gue yang salah, Kedepannya gak usah di tonton lagi”


“emang kenapa sih, Lo aja nonton gak gue larang kok”


“serah” cetus Luna yang telah beranjak dan mencuci piring kotor di wastafel.


...

__ADS_1


Setengah jam kemudian...


“Lun, Lo belum jawab yang tadi loh” aju Rehan yang baru saja memasuki kamar. Luna yang lagi merapikan pakaiannya hanya melirik males. Bukannya apa-apa ya, ia belum siap melepas keperawanan nya, menikah saja terpaksa.


Rehan menghampiri Luna, “kok diam aja sih, emang berat banget jawabnya ya”


“masak punya laki di anggurin doang sih, gak kasian Lo sama gue. Gue cowok normal Lun”


“Yang bilang Lo belok siapa hah!” kesal Luna, sambil beranjak naik ke atas tempat tidur.


Sebenarnya Luna merasa berdosa banget sih karena tidak menuntaskan tugas nya sebagai istri. Tapi ia kan belum siap apalagi sekarang ia juga masih sekolah.


“Ayolah Lun, dosa lho nolak permintaan suami” Rehan terus merengek seperti bocah, bahkan ia sudah memeluk Luna dari belakang.


Jangan tanya Luna tentu saja kaget, “Rehaaan...jangan peluk-peluk gue, ih...risih tau gak” pekik Luna berusaha melepaskan kedua tangan Rehan yang melingkar erat di perutnya. Posisi Luna berbaring membelakangi Rehan.


Rehan tidak peduli, ia malah semakin mempererat pelukannya dengan bibir membentuk senyuman.


“Han” panggil Luna untuk sekian kalinya.


“Hm” deham Rehan dengan mata terpejam. Berbeda halnya dengan Luna saat merasakan nafas hangat Rehan menerpa kulit lehernya, membuat muka memerah sendiri.


“Rehan, bangsat”


Akhirnya, dengan terpaksa ia membiarkan pelukan itu, tapi entah kenapa terasa sangat nyaman dari biasanya.


“Oke, mending tidur” dengan pelan Luna ikut memejamkan mata.


Beberapa menit kemudian, Rehan tampak membuka matanya saat mendengar nafas teratur dari Luna.


“Udah tidur aja” gumamnya, karena dari awal ia hanya pura-pura tidur saja.


“Gue gak akan maksa Lo kok, gue bakal tunggu kapan Lo siap”


Cup


Satu kecupan ia berikan di kening Luna, lalu turun ke pipi Luna.


Cup


“Sweet dreams, wife!” kemudian, melanjutkan tidurnya, masih dengan posisi memeluk Luna.


 


BERSAMBUNG...


 

__ADS_1


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


__ADS_2