
Telah dua hari penuh Luna masih belum sadarkan diri, dia terlihat sangat betah sekali memejamkan mata. Sejak itu Luna juga dinyatakan koma. Sedangkan Atha setiap saat selalu memandang istrinya dengan tatapan kosong bahkan sering kali dia menangis secara diam-diam. Tanpa mempedulikan kesehatan nya.
Kedua Abang nya, kedua Kakak iparnya bahkan Daddy nya sudah sering kali menegaskan tapi tak di dengar kan.
...
“Atha, lebih baik kamu isi lambung dulu dan bersih-bersih. Kita gak mau kamu sampai sakit. Sedih...tentu kita juga sedih dan ingin Luna segera sadar, tapi gak gini juga...apa kamu pikir Luna akan senang saat dia tau jika kamu seperti ini!” Anna berkata dengan lembut sambil memegang posisi pundak adik iparnya tersebut.
“Bukannya kamu ingin membalas perbuatan dia!” Mike ikut menambahkan.
“Benar, nyawa harus dibalas nyawa!” Kata Sean dengan nada dingin.
“Iya Tha...tapi sebelum itu kamu bersih-bersih dulu dan makan...masa adik tampan kakak berantakan begini kan tampan nya jadi hilang!” Ucap Alisya dengan nada meledek.
“Om jelek...Aleta gak cuka om jelek” Aleta mengembungkan pipinya tak suka. Mereka hanya terkekeh mendengar suara cadel bocah itu. Atha yang lagi lesu itu ikut tertawa kecil.
“Yaudah, aku kerumah...nanti kalo ada apa-apa langsung kabari aku!”
“Iya kamu tenang aja, biar kita jagain Luna”
Kemudian Atha bangkit dan berjalan keluar dari ruangan tersebut, namun saat akan membuka pintu langkahnya berhenti oleh suara Alano.
“Om Atha ikuuuutt..” Alano langsung meluncur dari gendongan Sean dan berlari kecil mengejar Atha.
“Om Alano ikut ya!” Alano menarik-narik kemeja Atha dengan tatapan imut nya, membuat siapa saja tak tahan mencubitnya.
Anna dengan cepat menghentikan putranya, “Sayang... Kamu disini aja sama bunda, ayah dan yang lain nemanin tante Luna” Bujuk Anna karena putranya ini sedikit keras kepala.
“Gak mau, aku mau ikut om Atha aja” Alano menggeleng ribut dengan bibir mengerucut sebal.
“Alano!” Sean memandang datar sang putra karena jika tidak begitu tidak akan menurut. Namun entah kenapa sekarang anak itu tidak takut dan tetap keukeh ikut dengan omnya.
Atha sendiri hanya tersenyum, lalu menggendongnya, “Yaudah Alano ikut om”
“Yeey...ayo om Alano udah gak betah lagi lama-lama disini” Atha hanya terkekeh, sekarang dia tau ponakannya itu ternyata tidak suka berada dirumah sakit. Sebelum keluar Atha memandang mereka dengan menganggukkan kepala mengatakan tidak masalah baginya.
...
Hampir setengah jam, akhirnya mereka sampai di mansion. Atha langsung menuju kamarnya dengan membawa Alano yang sedang tertidur dalam gendongan nya.
Atha memindahkan Alano keatas tempat tidurnya, anak itu terlihat sangat pulas sekali tidur nya padahal dalam mobil selalu mengoceh membuat Atha melupakan sedikit kesedihan nya.
“Hahh... seandainya Luna tidak keguguran mungkin sebentar lagi kami akan memiliki seorang anak” Atha memandang Alano lama, kemudian pergi ke kamar mandi.
Berselang 15 menit, Atha menyelesaikan ritual mandi nya, saat keluar dari kamar mandi ia melihat Alano telah bangun duduk bersandar di kasur.
“Eh... kenapa bangun” Atha menghampiri Alano dan mengelus kepalanya lembut.
“Udah gak ngatuk lagi om” sahutnya dengan nada lesu dan sesekali menguap. Atha hanya geleng-geleng lalu beranjak memakai bajunya. Atha memilih memakai baju kaos putih oblong dan celana jeans hitam, terakhir mengambil jaket kulit warna hitam dan disampirkan di bahu nya.
“Om mau kemana? Apa balik kerumah sakit lagi” Alano bertanya dengan cemberut.
“Nanti, sebelum itu om ada urusan lain”
__ADS_1
“Urusan apa? Alano boleh ikutkan, Alano gak mau ditinggal”
Atha hanya terkekeh mendengar rengekan dan muka cemberut bocah itu. Sebenarnya tidak mungkin ia membawa Alano tapi kalo ditinggal tidak mungkin juga.
“Iya Alano pasti ikut, sekarang Alano mandi dulu ya” Mendengar nya tentu saja Alano menjadi semangat dan berlari kecil pergi ke kamar nya. Walaupun Alano masih kecil tapi dia tidak akan mau dimandikan katanya ia sudah besar dan malu dilihat. Ada-ada saja.
“Hais...” Atha ikut keluar mengikuti Alano.
Beberapa setelah selesai, Atha membawa Alano ke ruangan makan, disana telah disajikan beberapa makanan enak.
“Om suapin Alano ya” rengeknya dengan mulut sudah buka. Melihat itu Atha tertawa dan menyuapkan. Entah kenapa bocah ini menjadi sangat manja padanya.
“Kenapa kamu jadi manja gini sih?” Gemas Atha mencubit pipi tembam Alano.
“Ih... emang nya kenapa gak boleh ya, Alano kan kangen soalnya udah lama gak ketemu om” ucap Alano dengan sebal. Atha tersenyum ternyata karena itu toh.
“Boleh dong” Alano tersenyum lebar tapi beberapa saat dia menjadi sedih.
“Truus kapan tante Luna bangun, Alano kan pengen main sama tante Luna” Mendengarnya, Atha kembali menjadi sedih. “tante Luna pasti bangun...jadi Alano terus berdoa ya biar tante nya cepat bangun”
Dengan antusias Alano mengangguk, “pasti, Alano pasti bakal terus berdoa biar tante Luna bangun dan bisa main sama Alano”
“Pintar” Atha mengelus lembut kepala Alano sambil menyuapkan makanan bocah itu dan juga makanan nya.
Setengah jam menyelesaikan makan siang mereka, itu juga karena harus menyuapkan Alano membuat sedikit lama. Kemudian, Atha keluar dengan menggandeng Alano, Sesampai di halaman depan mansion mereka melihat seorang pria berjas lengkap sedang menunggu.
“Apa Daddy disana?” Atha bertanya dengan datar pada pria itu yang tak lain adalah Anton.
“Sudah tuan” sahut Anton seraya membukakan pintu mobil untuk mereka.
Setelah itu, Anton segera melajukan mobilnya ketempat yang akan dituju. Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan sebuah rumah yang terbilang cukup mewah tapi sedikit muram dengan cat hitam abu-abu. Alano yang berada dalam gendongan Atha terlihat kebingungan.
“Om kita ngapain kesini! Kok rumah nya seram gini sih!”
“Om ada urusan disini, sekarang kamu tinggal sama Om Anton bentar ya!” Karena tidak mungkin dia membawa Alano kedalam.
“Tapi jangan lama ya om” Atha bernafas lega ternyata bocah ini mau menurut ia pikir akan menolak.
“Pasti, om cuman sebentar kok” Setelah menurut kan Alano, Atha melanjutkan langkahnya memasuki rumah tersebut.
Sepeninggal Atha, Alano merengek dan memaksa Anton untuk membeli kan Es Krim. Anton tidak bisa menolak dan lebih memilih menuruti kemauan cucu tuan besar nya itu.
...
Dalam ruangan yang cukup gelap hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dengan bau amis yang begitu pekat. Disana juga terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk dengan santai meminum wine seraya memandang acuh seorang wanita yang sedang diikat dan merintih pilu di hadapan nya.
Tap
Tap
Terdengar suara langkah kaki seseorang menghampiri pria paruh baya tersebut.
“Dad, apa dia orangnya!” Seseorang itu tak lain adalah Atha yang telah memasuki rumah tersebut. Dan pria paruh baya itu adalah Arya dan wanita itu ialah pelaku yang telah mencelakai Luna.
__ADS_1
“Tentu saja. Sekarang terserah mu apa ingin kamu lakukan padanya. Tapi satu hal yang Daddy ingatkan! Nyawa harus dibalas dengan nyawa!”
Sorotan mata Atha menjadi sangat tajam dan dingin dengan tangan mengepal erat. Dia menatap wanita itu dengan tatapan pembunuhan yang sangat kental.
“Oh... ternyata dia!” Atha menyeringai iblis saat melihat dengan jelas wajah wanita itu, dia sangat ingat siapa wanita itu.
Puk...
“Lakukan sesuai keinginan mu! Daddy akan menunggu diluar” ucap Arya menepuk pundak putranya lalu berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Sekarang disana hanya tinggal Atha dan wanita itu serta seorang bawahan Arya.
“Hehh... ternyata kau masih belum kapok mengganggu ketenangan istriku!” Dengan sinis Atha mencengkram kuat rahang wanita tersebut sampai berdarah.
“AAARRGH... S-a-k-it!” rintih wanita itu dengan teriakan pilu. Namun, Atha tidak peduli dan semakin kuat mencengkram nya.
“Kau pikir ini setimpal apa yang telah kau lakukan terhadap istri ku dan anakku!”
“Kau membuat ku kehilangan anakku...DASAR PEMBUNUH!!” Dengan kasar menghempaskan tangannya membuat wanita itu terjungkal ke belakang dengan darah mengalir segar dari dagunya. Bahkan beberapa bagian lengan, kaki nya juga terdapat beberapa sayatan dengan darah sudah terlihat mengering.
Atha yang sudah dikendalikan amarah mengambil sebuah cambuk dan tanpa ampun mencambuk tubuh kaku dan lemah wanita tersebut.
Ctar...Ctar...
“Aarkh... a-m-p-un”
Ctar...
“A-m-p-un... S-a-k-it, M-aaf...”
Beberapa kali terdengar rintihan dari wanita itu, namun Atha tetap tak peduli. Sampai kapan pun tidak akan pernah ada ampun karena telah melukai dan membuat nya kehilangan.
“Cih...apa sebelum nya kau pernah memikirkan akibat dari perbuatanmu Hahh...tidak kan, jadi nikmati saja pembalasan dariku!” Merasa bosan dengan cambukkan, ia beralih mengambil sebuah pisau.
“T-tidak...J-angan!” Wanita itu semakin ketakutan, sudah cukup dengan luka ini rasanya dia ingin mati saja dan sekarang akan ditambah lagi. Benar-benar kejam. Ia menggelengkan kuat saat merasakan ujung pisau itu menyentuh kulit wajah nya dengan air mata bercucuran deras.
“Jangan takut, rasanya tidak akan sakit...sesakit apa yang telah kau lakukan pada istri dan anakku!” Atha tertawa dingin dengan sorotan kebencian mendalam.
Setengah jam kemudian, Atha langsung mengakhiri kegiatan nya dan keluar dengan senyum kepuasan.
“Apa kau puas putraku!” Arya menatap putranya yang telah berjalan dengan santai kearah nya.
“Tentu saja”
Arya mengangguk puas, lalu berdecak saat melihat pakaian putranya, “lihatlah pakaian mu...cepat sana ganti jangan sampai Alano melihat nya” Dengan kesal Arya melemparkan paper bag pada Atha.
“Ehehe...baik Dad” Atha juga baru sadar ternyata kaos putih nya sudah berubah merah kena darah wanita sialan tadi.
Selesai mengganti pakaiannya, mereka menghampiri Anton yang sedang menemani Alano. Lalu mengajak mereka untuk kembali. Dan soal wanita tadi Arya memerintahkan pada bawahannya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT