Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 68. Perdebatan ibu dan anak


__ADS_3

“Tante Rini, maaf ya Luna baru sempat mampir! Soalnya akhir-akhir ini sibuk jadwal kuliah, apalagi kak Atha larang aku ini itu!” Sekarang Luna berada dirumah Rini, tante nya. Tadi sebelumnya pas di kampus tiba-tiba saja ia merindukan tante nya itu karena sudah lama juga tidak ketemu semenjak ia pindah.


Rini hanya tersenyum lembut seraya membawa Luna ke ruangan tamu, “udah gak papa, tante nggak masalah kok. Apalagi kamu sedang hamil besar gini, seharusnya tante yang kesana! Tapi sejak Dava naik kelas ini susah ditinggal, om kamu juga sering dinas keluar kota sekarang jadi waktu tante kerumah kamu tertunda terus”


“Dava nya mana tan, masih sekolah ya!” tanya nya saat tidak melihat bocah SD itu, biasa nya paling ribut.


“Main ke sebelah sama teman-teman nya, paling nanti pulang pas sore itu pun harus tante tarik pulang, susah banget dibilangin. Tapi kalo dengar suara om kamu, langsung nurut” Curhat tante Rini sambil geleng-geleng kepala mengingat kelakuan anak satu-satunya. Luna hanya terkekeh mendengarnya, dia aja sampai lupa sifat bandel bocah itu.


“sabar aja tan, namanya aja anak-anak” Rini mengangguk saja.


“mau minum apa biar tante buatin, biasanya kalo lagi hamil suka minta yang tidak disukainya kayak tante dulu, awalnya enggak suka kopi tapi pas hamil Dava malah kopi paling enak!”


“Enggak tante, nggak usah di buatin biar Luna sendiri aja”


Namun, Rini menolak, “ish...jangan dong, kamu tuh lagi hamil besar mending duduk manis aja biar tante buatin”


Luna mengalah saja dan kembali duduk, “yaudah deh, maaf udah ngerepotin Tante!”


“Apasih, kamu kayak orang jauh aja” geleng Rini. Sedangkan Luna hanya terkekeh.


“Mau apa nih”


“Hmm...jus lemon aja tan”


“Ok, bentar tante buatin” lalu Rini pergi ke dapur.


...


Di sisi lain, Atha baru saja menyelesaikan pekerjaannya yaitu meeting dengan klien nya.


“Tio, tolong kamu atur jadwal pertemuan kita dengan bapak Johan besok” Atha berkata sambil terus melanjutkan langkahnya kearah ruangan kerjanya dengan Tio mengikuti di belakang.


“Baik tuan”


“Setelah ini ada jadwal apa lagi!” tanyanya sekali lagi tepat telah memasuki ruangan kerjanya.


Tio membuka schedule yang dibawa nya, “Tidak ada hal penting lagi tuan”

__ADS_1


“Hahh...baik lah kau boleh keluar, satu lagi tolong kamu pesankan makanan siang saya!”


“Baik tuan” Kemudian, Tio berbalik keluar.


Atha menghela nafas lega seraya memijit pangkal hidung nya lelah juga dia hari ini.


“Apa Luna udah pulang ya!” lalu mengeluarkan ponselnya mengingat sejak melakukan meeting tadi ia tidak membuka ponsel sama sekali. Bisa saja ada pesan masuk.


Dan ternyata benar, itu pun dari istri tercintanya.


“aish...pergi nggak ngajak-ngajak” Sungut nya saat melihat isi pesan dari istrinya.


“Lagian udah dibilang pergi nggak boleh sendirian” Karena tidak merasa nyaman, ia memilih bangkit menyusul ketempat istrinya berada. Bahkan melupakan rasa lelahnya.


Cklek


“Eh...mau kemana tuan! Ini makanan siang nya udah datang” Tio yang baru masuk dibuat bingung, masalah nya tuannya ini pesan makanan dan malah mau pergi.


“Saya harus pergi, lebih kamu saja yang makan” Lalu Atha melewati Tio keluar, karena lebih nikmat makanan bersama istrinya dari pada sendirian.


Tidak masalah, Tio tentu saja senang sekali bisa makan gratis kapan lagi coba, “Waahh...si tuan mah tau aja saya lagi laper!” Tio cengengesan kemudian kembali keluar pergi ke ruangan nya.


🌼🌼


Cukup lama melakukan perjalanan dari kantor ke rumah tante Rini akhirnya, Atha sampai disana. Bahkan istrinya saja tidak tau kedatangannya.


Kebetulan Dava baru balik main, saat melihat Atha dia langsung heboh sendiri, “Waahh...bang Atha ya, suaminya kak Luna...pasti mau ketemu bunda ya!”


Atha hanya tersenyum tipis melihat kelakuan bocah tersebut, “itu juga, abang mau nemuin istri abang soalnya dia ada didalam” jawab nya sambil mengelus kepala Dava.


“Istri abang, berarti kak Luna dong, kok Dava enggak tau ya kak Luna ke rumah” Kiki bingung.


“Masuk aja yuk bang, Dava mau mandi takut di marahin ayah nanti” Atha mengangguk, lalu mengikuti langkah kecil Dava masuk kedalam rumah minimalis tersebut.


“laikum bunda!” suara Dava mengalah kan suara salam Atha. Tapi ia geleng-geleng mendengar cara ucapan Kiki.


“Ya Allah, Dava udah berapa kali bunda bilang ngucapin salam itu yang benar bukan setengah begitu!” Tampak Rini berjalan menghampiri mereka, lebih tepatnya menatap sebal putranya.

__ADS_1


“Tante!” sapa Atha yang langsung saja membuat Rini sadar.


“Kamu ta, lah kenapa bisa samaan ama nih bocah” Dava tentu saja kesal disebut bocah, emang nggak sadar diri kalo dirinya memang bocah.


“jangan panggil bocah bunda tapi Dava, namaku Dava!” serunya mengangkat dagunya songong membuat mereka tertawa kecil. Lalu Rini mengajak Atha ketempat Luna. Sedangkan Dava berlari-lari kecil kearah kamar mandi.


...


Di kediaman Sandi sekeluarga terjadi perdebatan antara ibu dan anak.


“Mama udah bilang kan, jangan berhubungan lagi sama anak itu! Sekarang gini kan akibatnya, kamu itu enggak pernah mau dengarin nasehat mama semenjak kamu dekat sama laki-laki itu!”


“Malu mama tau nggak, sekarang kamu marah-marah sama mama karena laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab!” Santi memandang putrinya marah, dia tidak menyangka akan begini, anak yang selama ini ia bangga-banggakan malah mencoreng nama baik keluarga, memalukan.


Dona malah membalas dengan keras seraya membentak-bentak, “m-mama enggak usah nyalahin aku terus, semuanya salah mama. Seandainya mama enggak ngomong kasar dan nyakitin perasaan Reno pasti dia nggak bakalan buat aku kayak gini, dia pasti nggak bakal ninggalin aku gitu aja!” Emang anak durhaka malah mendorong Santi sampai membuat Santi terjatuh duduk ke lantai.


Bertepatan Davin baru masuk pulang ngampus, dia seketika melotot lebar melihat hal tersebut.


“Dona...Lo apa-apaan sih dorong mama!” Davin cepat-cepat berlari menghampiri mamanya dan membantu nya berdiri. Sedangkan, Santi hanya meringis, ia juga tak menyangka Dona akan mendorongnya.


Dona sebagai pelaku hanya membuang muka kearah arah lain, tidak ada rasa kasihan jika dirinya sedang emosi.


“Dona, kenapa kamu dorong mama Hahh...kamu benar-benar mau jadi anak durhaka hanya karena bela in laki-laki tidak tau diri itu!” Santi geleng-geleng kepala kacau.


“Sebenarnya ada apa sih ma? Kenapa Dona sampe tega dorong mama?” Davin menjadi bingung, baru saja pulang sudah disungguhkan pemandangan ini.


“Tanya saja pada adik kembaran kamu itu, mama udah pusing tau nggak!”  Santi mengacak rambutnya lalu pergi meninggalkan kedua kembaran itu disana. Davin beralih menatap Dona tajam.


“mending Lo cerita semuanya sama gue, maksud Lo apa sampe dorong mama kayak gitu, gue sebagai kembaran Lo selama ini enggak pernah ngajarin kurang ajar sama orang tua! Sebenarnya ada masalah apa Lo sama mama?!”


“Salahin aja mama, udah buat gue kayak gini!” cetus Dona dengan tatapan sinisnya dan berbalik pergi kearah kamar nya.


Davin memandang kesal punggung Dona, kembaran nya itu suka sekali berbicara setengah lalu pergi gitu aja.


“Bangsat!” habis mengumpat memilih pergi, padahal sudah pusing karena tugas kuliah sekarang malah bertambah lagi. Papanya juga malah belum pulang juga.


 

__ADS_1


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


__ADS_2