
Di mansion keluarga Prasetya. Intan di kurung di kamarnya. Dia di jaga oleh dua bodyguard dengan pakaian serba hitam juga bertubuh besar.
"Papa! Aku ini bukan tahanan, pa. Aku ini nyonya Prasetya. Apa papa lupa itu?"
"Tidak. Aku tidak lupa siapa kamu, Intan."
"Lalu kenapa papa memperlakukan aku sebagai tawanan sekarang, hah?"
"Karena aku tidak ingin kamu bikin ulah lagi. Aku tidak ingin kamu mengecewakan hati anakku untuk yang kesekian kalinya. Untuk malam ini, kamu akan aku diamkan di kamar ini sebagai tawanan."
"Pa!"
"Tidak ada toleransi sedikitpun, paham!"
Setelah berucap kata-kata itu, Bagas lalu meninggalkan Intan. Intan berusaha mengejarnya, namun, kedua bodyguard itu malah menahan tubuhnya untuk mengejar Bagas.
"Hei! Apa yang kalian lakukan, hah! Aku ini nyonya kalian. Apa kalian tidak takut aku pecat karena tidak berbuat sopan padaku?"
"Maaf, nyonya. Kami hanya menjalankan perintah dari tuan besar Prasetya. Maaf atas kelancangan kami pada nyonya."
"Dasar sialan! Papa!"
Intan tidak punya pilihan lain lagi selain duduk di atas kasur miliknya. Dia tak habis pikir atas apa yang suaminya lakukan sekarang. Dia benar-benar diperlakukan seperti seorang tawanan di tempat tinggalnya sendiri.
"Tidak masuk akal! Benar-benar tidak masuk akal!" Intan berteriak kesal.
__ADS_1
'Tunggu! Apa papa sudah tahu dengan rencana yang aku susun selama ini?' tanya Intan dalan hati pada dirinya sendiri.
'Tidak mungkin. Dia tidak mungkin tahu soal rencana yang aku buat. Karena selama ini, aku sudah sangat hati-hati.'
'Aduh ... sial! Benar-benar sial. Aku tidak bisa tinggal diam dan menunggu semua rencana yang aku buat gagal begitu saja. Tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang? Ponsel tidak punya. Di kurung di kamar seperti ini, bagaimana bisa berbuat apa-apa." Intan kesal sambil mengacak-acak rambut hitam miliknya.
Sementara itu, Dicky diam di kamarnya sambil melihat bingkai foto yang baru saja dia keluarkan dari laci nakas yang ada di samping tempat tidur. Dia membelai lembut bingkai foto itu dengan penuh perasaan.
"Semoga ini keputusan yang paling tepat untuk cinta kita, Ning. Tunggu aku. Aku akan jemput kamu, dan akan aku jadikan kamu nyonya besar di keluarga Prasetya ini nantinya."
_____
Satu hari satu malam, ternyata tidak sulit bagi Merlin untuk melewatinya. Karena ternyata, sikap oma Ratih begitu bersahabat padanya.
Semua kebutuhan Merlin ditanggung penuh oleh keluarga Prasetya. Dia bebas melakukan apapun, karena pernikahan mereka bersifat tertutup. Tidak akan ada yang tahu selain keluarga dekat.
Itu dilakukan hanya untuk menjaga nama baik mereka selama berada di sekolah. Karena keluarga Prasetya tidak ingin sekolah Dicky terganggu dengan rumor pernikahan ini.
Malam berikutnya, pernikahan Merlin dan Dicky dilaksanakan di kantor KUA. Tidak ada foto pernikahan, tidak ada resepsi, juga tidak ada tamu undangan. Yang ada hanya orang-orang penting saja. Karena pernikahan ini, benar-benar bersifat tertutup.
Setelah Dicky menjabat tangan Bondan dan mengucapkan ijab kobul dengan lancar, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Meskipun tidak ada yang tahu apa perjanjian di balik pernikahan ini. Yang jelas, pernikahan itu telah resmi dan sah menurut agama juga negara.
"Ini cek dua puluh milyar yang bapak minta. Setelah ini, kita tidak punya urusan lagi kedepannya," ucap Bagas sambil menyodorkan selembar cek pada Bondan setelah ijab kabul selesai.
"Apa? Papa minta uang dua puluh milyar pada keluarga Prasetya? Tidak benar! Ini sungguh tidak benar," ucap Merlin begitu kaget.
__ADS_1
"Apanya yang tidak benar. Aku sudah membesarkan kamu dengan susah payah sejak kecil. Sekarang, kamu sudah besar. Sudah menikah dengan orang kaya. Kenapa aku tidak bisa minta uang pada keluarga suamimu sebagai uang ganti rugi atas apa yang telah aku habiskan untukmu selama ini."
Tubuh Merlin melemah mendengarkan kata-kata yang papanya ucapkan. Sungguh tidak habis pikir, papa kandungnya sendiri tega mengucapkan kata-kata yang tidak bermartabat seperti itu.
"Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Terima kasih banyak tuan Bagas. Senang bekerja sama dengan anda," ucap Bondan sambil beranjak pergi.
"Papa! Kembalikan cek itu! Papa tidak berhak menerimanya," ucap Merlin sambil menangis.
"Anak tidak tahu diri. Jangan panggil aku papa. Karena sekarang, aku bukan siapa-siapa kamu lagi. Bukankah itu yang kamu inginkan sebelumnya? Maka sekarang, aku yang duluan meluluskan permintaanmu kemarin."
Setelah berucap kata-kata itu, Bondan langsung beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Sementara Merlin, dia berusaha menahan papanya agar tidak pergi dengan membawa cek yang bernilai sangat besar buat dirinya.
"Papa .... "
"Merlin. Sudahlah. Papamu tidak menginginkan kamu. Jadi biarkan saja dia mengambil cek itu sebagai uang ganti rugi dari keluarga kami," ucap Bagas dengan lembut sambil memegang kedua bahu Merlin.
"Tidak, Om. Keluargaku tidak pantas menerima uang itu. Aku malu, Om."
"Kenapa kamu yang malu, Merlin? Papamu yang menerima uang saja tidak malu, lalu kenapa kamu yang tidak mendapat apa-apa malah merasa malu?"
"Karena aku ... anak papa," ucap Merlin dengan suara perlahan hampir tidak terdengar.
"Anak apanya? Apakah kamu tidak mendengar barusan dia ngomong apa? Dia sudah memutuskan hubungannya dengan kamu. Jadi, kenapa harus malu sampai kamu menangis seperti ini?" tanya Dicky angkat bicara selama diam melihat semuanya.
"Sudahlah, lupakan saja. Lagipula, uang dua puluh milyar itu tidak ada apa-apanya buat keluarga Prasetya. Itu hanya jumlah yang sedikit," ucap Dicky lagi.
__ADS_1