
Sementara itu, Dicky duduk di samping ranjang sambil memperhatikan wajah Merlin yang sedang terlelap. Rasa menyesal atas apa yang telah ia lakukan, kini semakin terasa dalam hatinya. Dia menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi pada Merlin barusan.
"Merlin, maaf. Rasa kesal atas sikap papamu telah membuat aku mempersulit dirimu hari ini. Aku benar-benar menyesal. Tidak seharusnya aku bersikap kasar padamu. Padahal sebenarnya, aku tahu, kamu juga korban di sini." Dicky berucap sambil memegang tangan Merlin dengan lembut.
Ya ... Dicky berubah kasar dan terkesan membenci Merlin setelah menikah. Itu alasannya karena papa Merlin. Karena orang tua itu telah meminta keluarga Prasetya menukar Merlin dengan uang senilai dua puluh milyar.
Uang yang cukup besar jumlahnya itu mereka minta dengan alasan, mereka sudah membesarkan Merlin dengan susah payah. Mereka bersedia menikahkan Merlin asalkan keluarga Prasetya mau memberikan mereka uang dua puluh milyar.
Persyaratan yang sangat gila menurut Dicky. Dia sungguh tidak terima dimanfaatkan seperti itu oleh orang tua Merlin. Berpikir kalau Merlin dan orang tuanya sekongkol untuk memeras keluarga Prasetya. Hal itu membuat Dicky gelap mata.
Tapi ... pada akhirnya dia sadar. Merlin mau menikah dengannya, itu bukan atas keinginan Merlin. Melainkan, tawaran dari dirinya sendiri. Jadi, dialah yang terlalu berlebihan berpikir tentang keburukan Merlin. Keburukan yang sama sekali tidak ada dalam diri gadis itu.
Dicky terus menatap wajah Merlin. Sampai tanpa sadar, bibirnya berucap kata-kata pujian untuk gadis itu.
"Kalau dilihat-lihat, dia lumayan cantik," ucap Dicky tanpa sadar.
"Apa, tuan muda?" tanya Hero yang baru tiba setelah mengantarkan dokter Zaki sampai ke mobil.
"Hero! Kenapa kamu tiba-tiba muncul di sini, hah?"
"Maaf, tuan muda. Saya ... saya datang cuma mau menyampaikan pendapat saya pada tuan muda."
"Pendapat apa? Katakan cepat!"
__ADS_1
"Sebaiknya, tuan muda carikan asisten rumah tangga untuk menemani nona Merlin tinggal di apartemen ini. Supaya, nona muda tidak kesepian. Karena .... "
"Aku tahu. Nanti aku pikirkan soal itu."
"Baiklah, tuan muda. Oh ya, saya juga mau mengatakan, nyonya barusan menghubungi saya. Dia menanyakan keberadaan tuan muda."
"Apa yang kamu katakan pada mama?"
"Saya bilang ... tuan muda di ... kantor."
"Bagus. Jawaban yang tepat. Nanti jika dia menghubungi kamu lagi, katakan saja aku nginap di hotel. Tidak pulang malam ini."
"Tuan muda nginap di sini malam ini?" tanya Hero dengan wajah tak percaya.
"Tuan muda benar. Lalu, saya bagaimana? Apa saya juga nginap di sini malam ini?"
"Terserah kamu. Tapi lebih baik jika kamu tidak nginap di apartemen ini."
"Apa .... "
"Jangan banyak pikiran yang tidak-tidak. Aku hanya ingin menjaga dia dengan baik." Dicky berucap dengan nada kesal. Namun, wajahnya terlihat sedikit bersemu.
"Baik, tuan muda. Saya paham," ucap Hero sambil menahan senyum.
__ADS_1
'Aku tahu tuan muda hanya ingin berduaan dengan istrinya. Aku juga tahu diri kali .... '
Hero bicara dalam hati sambil beranjak pergi.
Setelah kepergian Hero, Dicky kembali melanjutkan kegiatan sebelumnya. Yaitu, menatap wajah Merlin yang sedang terlelap dengan seksama. Hingga akhirnya, dia merasa lelah dan memilih untuk berbaring di atas karpet yang ada di samping ranjang.
Adzan subuh berkumandang. Merlin akhirnya sadar setelah hari yang melelahkan dia lalui dengan susah payah. Dia dengan malas membuka matanya, lalu bagun dan berniat untuk segera ke kamar mandi.
Saat Merlin menjatuhkan kaki ke lantai samping ranjang, dia langsung menginjak bahu Dicky yang sedang terbaring. Sontak, hal itu membuat Merlin terlonjak kaget.
"Dicky." Merlin berucap lirih sambil melihat ke bawah.
Untuk beberapa saat lamanya, Merlin diam sambil memperhatikan tubuh Dicky yang sedang terbaring di samping ranjang tanpa selimut atau bantal sebagai alas. Lalu kemudian, Merlin menarik selimut yang ada di atas ranjang. Selimut yang sebelumnya dia gunakan tadi malam.
Merlin memberikan selimut itu pada Dicky dengan cara menyelimuti tubuhnya. Lalu, dia meninggalkan Dicky untuk segera ke kamar mandi.
Sebenarnya, Dicky sudah terbangun karena injakan itu. Namun, dia sengaja diam karena tidak ingin melihat wajah bersalah atas apa yang Merlin lakukan barusan padanya. Dicky pura-pura tertidur dengan lelap sampai tidak sadar kalau bahunya susah diinjak oleh Merlin.
Perlahan tapi pasti, Dicky melukiskan senyum manis di bibirnya ketika mengingat apa yang Merlin lakukan barusan. Perhatian kecil itu mampu membuat relung hati Dicky merasa hangat dan nyaman. Tanpa bisa ia cegah, hatinya merasakan sebuah kebahagiaan.
Merlin keluar dari kamar mandi setelah hampir dua puluh menit dia berada di dalam kamar mandi tersebut. Entah apa yang dia lakukan, tapi yang pastinya, Merlin keluar dengan wajah segar dan terlihat kembali bersemangat. Ya meskipun masih menggenakan pakaian yang kemarin dia pakai.
Ketika dia keluar dari kamar mandi tersebut, dia tersentak kaget karena melihat Dicky yang ada dihadapannya saat ini. Mata mereka beradu dan mereka saling tatap untuk beberapa saat lamanya.
__ADS_1
Namun, sebisa mungkin, sekuat tenaga, Merlin berusaha menolak pesona Dicky dari tatapan maut yang terasa langsung menusuk hati itu. Merlin cepat memalingkan wajah dari Dicky setelah dia berusaha menyadarkan dirinya atas apa yang baru saja terjadi.