Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#44


__ADS_3

Di sekolah, Merlin sudah sampai sejak lima belas menit yang lalu. Dia bahkan sudah berkeliling melihat-lihat sekolah yang sudah lama dia tinggali.


Merlin menghirup udara segar pepohonan yang ada di setiap sudut sekolah. Udara itu sungguh sangat menyegarkan buat Merlin.


Perlahan, satu demi satu siswa berdatangan memasuki sekolah. Merlin tersenyum melihat teman-temannya yang baru datang dari jendela kaca kelasnya. Hatinya merasa begitu bahagia saat melihat pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat ini.


Puas melihat teman-teman yang baru datang, dia memilih mengeluarkan buku dari tasnya sekarang. Saat itu pulalah, beberapa teman masuk ke dalam kelas.


Merlin tersenyum pada teman-teman itu. Namun, senyum yang ia berikan malah mendapat tatapan sinis, ejekan, juga cemoohan dari para teman-teman yang dia senyumin.


"Wah ... masih berani datang ke sekolah ternyata. Gak ada malu-malunya sama sekali," ucap salah satu teman pada teman yang lain.


"Mana mungkin dia malu. Diakan gak ada muka." Kata-kata itu di sambut tawa oleh teman yang lain.


"Ih, benar banget tuh apa yang kamu katakan barusan. Dia gak punya muka. Tentu saja dia gak akan malu."


Mendengar ucapan itu, jujur saja, Merlin bingung. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang teman-temannya bicarakan. Baru saja dia ingin bertanya, niatnya itu terhenti oleh kedatangan Jenny yang datang sambil senyum manis masuk ke dalam kelas.


"Selamat pagi semua .... Apa kabar kalian pagi ini? Sehat-sehat aja bukan?"


"Eh, tunggu! Aku kok berasa ada yang aneh ya pagi ini?"

__ADS_1


"Teman-teman, apa kalian bisa jelaskan padaku? Siapa dia? Apa dia murid baru yang pindah ke kelas kita? Tapi ... rasanya, aku kok seperti mengenali dia ya? Gak asing gitu wajahnya."


"Jenny temanku sayang. Tentu saja kamu kenal. Dia itukan adik tiri mu yang belagu dan tidak tahu diri itu," kata teman baik Jenny yang biasa selalu ada di samping Jenny ke manapun Jenny pergi.


"Apa? Kamu bilang apa barusan? Dia adik tiri aku?" tanya Jenny dengan wajah yang dibuat kaget. Tentu saja itu hanya pura-pura saja. Karena sejak awal, dia sudah tahu kalau itu Merlin.


"He'em." Temannya berucap sambil mengangguk.


"Ah. Kamu yang benar saja. Diakan udah nikah. Mana mungkin dia sekolah sekarang. Kan, orang udah nikah itu gak akan datang ke sekolah karena sudah pasti sibuk sama kehidupan rumah tangganya. Kayak ... layani suami gitu," ucap Jenny sambil melirik Merlin dengan tatapan mengejek.


Mendengar ucapan itu, kesabaran yang Merlin miliki hilang juga akhirnya. Dia bangun sambil menepuk meja sekuat tenaga sehingga menimbulkan bunyi geprakan keras yang membuat seisi kelas kaget tentunya.


"Hiks ... hiks-hiks." Jenny segera mengeluarkan air mata buayanya agar Merlin tidak berkata lebih lanjut. Kata-kata yang tentunya akan membuat dia dikucilkan dari sekolah nantinya.


"Jenny. Jangan nangis. Kamu gak panas mengeluarkan air matamu hanya karena kata-kata yang dia ucapkan." Temannya berusaha membujuk Jenny sambil membelai pundak Jenny.


"Iya, Jen. Kamu gak boleh sedih hanya karena kata-kata yang keluar dari mulut yang tidak bermoral seperti mulut dia," kata teman yang lain sambil menuding Merlin.


"Terima kasih teman-teman. Kalian sangat baik padaku. Itulah nasib saudara tiri yang tak dianggap. Merlin tidak suka padaku karena aku dianggap sebagai perebut papanya. Tapi padahal, nggak." Jenny berucap sambil terus menangis.


"Sabar ya, Jen. Orang baik memang selalu ditindas."

__ADS_1


"Kamu Merlin! Dasar perempuan gak tahu malu. Merusak citra kaum perempuan saja. Hanya karena papamu tidak memberikan apa yang kamu mau, kamu mau-maunya jadi simpanan duda kesepian. Cuih! Perempuan gak bermoral."


"Iya. Jijik banget aku rasanya. Ogah banget aku satu kelas dengan perempuan kayak kamu. Memilih menikah muda, hanya karena apa yang kamu inginkan tidak dituruti. Ih ... jijiknya."


"Iya. Aku juga jijik satu kelas sama orang kayak gitu. Ogah!"


Satu persatu teman-teman yang ada di kelas itu pergi meninggalkan tempat mereka. Mereka pergi dengan tatapan jijik pada Merlin. Mereka bahkan tidak membiarkan Merlin angkat bicara untuk menjelaskan tentang tuduhan yang mereka lemparkan.


Kini, tinggal Jenny dengan teman baiknya di dalam kelas tersebut. Jenny tersenyum penuh kemenangan sambil melirik Merlin. Sementara temannya, masih terus menegang bahu Jenny dengan lembut.


"Aku juga jijik berada di sini. Mau muntah rasanya saat lihat wajah adik tiri mu yang naif ini, Jen. Ayo pergi!"


Jenny tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan sambil mengikuti langkah kaki temanya. Namun, sempat juga dia tersenyum mengejek pada Merlin sebelum benar-benar pergi dari kelas tersebut.


Merlin terdiam sambil melihat kelas yang kosong tanpa penghuni. Hatinya begitu terluka sekarang. Perlakuan teman-teman yang memihak pada Jenny tanpa mencari tahu kebenaran barusan, membuat Merlin kehilangan separuh keberanian yang dia miliki.


Merlin terduduk dengan air mata yang mengalir perlahan melintasi pipi putihnya. Dia terus menangis sampai bel tanda masuk berbunyi.


Ketika bel berbunyi, dia bergegas menghapus air mata yang tersisa di pipi. Dengan hati penuh harap, Merlin mengalihkan pandangannya ke pintu masuk kelas.


Merlin berharap, teman-teman akan masuk ketika bel berbunyi. Tapi, kelas mereka masih saja kosong kerontang tak ada yang datang. Meski bel sudah berbunyi, tetap tidak ada satu pun yang masuk ke dalam kelas. Jangankan perempuan, laki-laki pun tidak ada yang muncul.

__ADS_1


__ADS_2