
Merlin akhirnya mengalah. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Dicky. Dia memilih menuruti apa yang Dicky inginkan.
Menyuapi Dicky makan. Menyiapkan air panas untuk Dicky mandi. Lalu, menemani Dicky beristirahat di kamar itu hingga malam kembali menyapa.
"Lin, kamu tidur di mana?" tanya Dicky setelah Merlin siap menyuapinya makan malam.
"Tidur ... tidur di sofa mungkin. Atau mungkin juga akan tidur di kamar lain. Karena sepertinya, kamu sudah baik-baik saja sekarang."
"Jangan! Aku mohon jangan tidur di sofa malam ini. Apalagi tidur di kamar lain. Tolonglah ... aku tidak ingin sendiri. Aku masih belum sembuh. Kau tahu, yang luka itu hatiku, kamu tidak bisa melihatnya seperti apa luka itu bukan?"
"Karena aku tidak bisa melihat luka itu, makanya aku bilang kamu sudah sembuh. Lagian, kamu sih aneh-aneh. Kamu yang putus cinta, aku yang ikutan sengsara. Ah, yang benar saja."
"Lin, kamu sahabatku. Masa iya, kamu tega melihat aku terluka sendirian. Lagipula ... kamu
... kamu istri sah ku. Apa salahnya jika aku dan kamu tidur di satu ranjang setiap saat."
"Hei! Jangan coba-coba ambil kesempatan dalam kesempitan ya. Kita nikah cuma sebatas perjanjian pernikahan ya, Dic. Jangan lupakan hal itu."
"Aku tidak melupakan apapun, Merlin. Hanya saja, aku cuma mengingatkan status kita saja. Tidak salah jika aku minta kamu temani aku tidur di kamar ini. Karena kita .... "
"Cukup-cukup. Jangan banyak bicara lagi. Aku akan temani kamu tidur di kamar ini. Tapi ingat, jangan macam-macam karena kita hanya sebatas teman saja. Jangan lupakan hal itu."
"Tidak akan. Kamu tenang saja."
Pada akhirnya, Merlin harus mengalah lagi dan lagi. Dia tidak punya kekuatan untuk beradu debat dengan Dicky yang terkenal keras kepala juga tidak ingin mengalah ini.
__ADS_1
Ketika Merlin ingin beranjak meninggalkan Dicky. Tangan Dicky reflek langsung menahan tangan Merlin dengan cepat. Bukan hanya sekedar menahan, tangannya malah menarik tangan Merlin.
Tarikan itu membuat tubuh Merlin terhuyung langsung jatuh ke dalam pelukan Dicky yang sedang terbaring di atas ranjang. Yang paling tidak masuk akalnya adalah, bibir mereka saling sentuh karena jatuh tersebut.
Detak jantung Merlin seakan berhenti karena hal tersebut. Kesadaran yang dia miliki hampir hilang. Namun, sekuat tenaga dia berusaha menyadarkan diri agar tidak terus terhanyut ke dalam suasana indah namun tidak disengaja ini.
Merlin bergerak bangun dengan cepat. Wajah kesal tak lupa ia perlihatkan pada Dicky yang sepertinya terlihat agak kaget sekaligus bahagia dengan apa yang baru saja terjadi.
"Dicky! Apa yang kamu lakukan sih, hah! Gila kamu ya? Ciuman pertama aku itu," ucap Merlin kesal sambil menutup bibirnya dengan satu tangan.
"Apa? Apa yang kamu katakan barusan? Kenapa kamu malah menyalahkan aku sih, Lin? Itukan gak di sengaja. Lagian ... aku tidak percaya kalau itu ciuman pertama kamu. Tapi ... tadi itu tidak termasuk ciuman kok."
Dicky berusaha menjelaskan panjang lebar. Tak lupa ia perlihatkan wajah tak bersalahnya pada Merlin. Dia juga berpura-pura kalau mereka barusan tidak terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya, dia begitu bahagia ketika mendengar penjelasan Merlin soal ciuman pertama. Hatinya bangga sekaligus sangat bahagia Bagaimana tidak? Dia barusan mendapatkan ciuman pertama dari seorang gadis.
"Ah, terserah padamu saja. Aku kesal padamu sekarang. Jangan panggil aku lagi. Karena aku tidak sudi bicara dengan orang yang suka mengambil keuntungan."
"Cantik?" tanya Merlin tiba-tiba bersemu malu.
"Iya. Cantik. Kenapa? Ada yang salah?"
"Tidak ada. Jangan coba-coba berulah lagi. Karena aku tidak akan membiarkan kamu bikin onar lagi di sini."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Begitulah selanjutnya. Merlin dan Dicky selalu saja adu debat yang pada akhirnya akan membuat Merlin harus mengalah lagi dan lagi. Tapi anehnya, hal itu membuat hubungan mereka yang sebatas teman itu terasa semakin dekat saja.
Bahkan, Dicky sekarang lebih terbuka lagi pada Merlin. Dia menjadikan Merlin sebagai teman curhat samapi dia tak sungkan-sungkan meminta pendapat dari gadis yang berstatus istrinya itu.
Dua hari berlalu, hubungan Dicky dan Merlin semkain akrab saja sekarang. Dia bahkan tidak pulang ke mansion keluarga Prasetya ketika jadwalnya pulang. Hal itu membuat sang mama merasa sangat gusar. Sedangka papanya, biasa-biasa saja.
Di mansion, Intan sedang munda-mandir tak karuan. Dia memikirkan cara apa yang harus dia ambil karena sekarang, Dicky terasa semakin jauh dari jangkauan.
"Pa, katakan padaku, di mana Dicky sekarang? Kenapa dia tidak pulang juga, hah? Bukankah papa bilang, dia hanya akan tinggal di rumah istrinya setiap sabtu dan minggu? Inikan hari senin, pa. Kenapa dia tidak pulang juga?"
"Mungkin dia merasa nyaman tinggal bersama istrinya dari pada tinggal bareng kita. Jadi, biarkan saja."
"Nyaman? Biarkan saja? Papa gak salah bicara, Pa? Jangan lupa, pah. Dicky itu masih berstatus pelajar. Dia masih punya banyak hal yang harus dia lakukan untuk mempersiapkan kehidupannya."
Bagas yang sedari tadi tenang dengan ponsel di tangannya, kini terlihat kesal. Sambil meletakkan ponsel ke atas meja, dia tatap wajah istrinya yang terlihat sedikit panik.
"Tahu apa kamu soal anak aku, hm? Bagaimanapun, apapun yang akan terjadi, dia tetap anak aku. Pewaris satu-satunya keluarga Prasetya. Bagaimanapun pendidikannya kelak, dia tetap akan jadi orang kaya yang mewariskan seluruh kekayaan keluarga Prsetya. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Karena kekhawatiran kamu itu, tidak akan pernah terjadi."
"Oh ya. Satu lagi yang harus kamu ketahui, Intan. Aku tidak akan biarkan kamu menyakiti hati anak aku dengan cara apapun. Termasuk, merusak hubungan anak aku dengan istrinya. Jika kamu melakukan hal itu, maka bersiap-siaplah hidup sengsara. Karena aku tidak akan main-main dengan ucapanku. Camkan itu."
Intan tersentak kaget. Tubuhnya seakan membeku karena ucapan Bagas barusan. Sementara Bagas, dia beranjak pergi setelah berucap kata-kata ancaman buat Intan barusan.
Namun, belum beberapa langkah Bagas berjalan meninggalkan Intan, langkah Bagas tiba-tiba terhenti. Dia kembali memutar tubuh untuk menghadap ke arah Intan yang masih diam membeku.
"Ingat Intan. Jika masih ingin hidup sebagai nyonya besar Prasetya, maka jaga sikapmu dengan baik. Jangan pernah lagi kamu rusak barang-barang milikku. Apalagi barang kesayangan aku. Jika tidak, siap-siap kamu tinggal di dalam penjara. Dan akan aku pastikan, kamu hidup di dalamnya sampai ajal kamu tiba."
__ADS_1
Bak tersambar petir di siang bolong. Intan merasakan jantungnya berhenti berdetak karena ucapan Bagas barusan. Bagas sangat jauh berbeda sekarang. Dia seperti bukan Bagas yang Intan kenali lagi. Dia seperti orang asing yang selalu menebarkan genderang perang setiap bicara dengan Intan. Hal itu membuat Intan tak habis pikir.