Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#37


__ADS_3

Merlin segera meninggalkan kamar mandi saat dia ingat akan kondisi Dicky sebelumnya. Tubuh Dicky yang panas saat dia menyentuh dahi Dicky waktu pertama kali mendekat. Namun, itu terlupakan karena Dicky yang tiba-tiba menarik tubuhnya untuk dibawa ke dalam pelukan.


Ketika dia kembali ke tempat tidur, dia menemukan Dicky yang sudah terlelap. Merlin memperhatikan wajah itu lagi. Namun, dengan perasaan yang sedikit takut. Dia takut kalau-kalau Dicky kembali kambuh seperti tadi. Memeluknya tiba-tiba saat dia tidak siap.


Ketika Merlin memperhatikan wajah Dicky semakin dekat, Merlin menemukan buliran bening yang perlahan jatuh dari mata Dicky yang tertutup rapat. Hal itu sama persis dengan apa yang dia lihat tadi malam. Dicky menangis sambil terlelap.


'Dic. Apa luka hatimu begitu dalam dan besar sehingga kamu terus menangis sampai sekarang? Apa kamu begitu sakit saat ini? Maafkan aku yang tidak bisa membantu. Sebagai seorang teman, harusnya aku bisa membantumu meringankan luka yang kamu derita,' ucap Merlin dalam hati dengan rasa sedih.


Dia merasakan kesedihan yang Dicky rasakan meski hatinya tidak ingin. Entah kenapa, dia juga tidak tahu. Hatinya tiba-tiba saja ikut bersedih saat Dicky sedih.


Perlahan, tangannya bergerak mengusap air mata yang jatuh dari mata Dicky. Sontak, dia kembali dibuat kaget dengan perlakuan Dicky. Walau kali ini berbeda dengan sebelumnya. Tapi tetap saja dia kaget. Dicky membuka mata dengan tangan yang bergerak memegang tangan Merlin.


"Merlin. Kamu kembali? Kenapa begitu lama kamu di kamar mandi? Aku sampai tertidur karena kamu terlalu lama."


"Kamu beneran tidur barusan?" tanya Merlin tak percaya. "Jangan bohong, Dic. Aku yakin kamu tidak benar-benar tidur tadi."


Dicky terdiam. Dia hanya menatap Merlin dengan tatapan sayu. Sejujurnya, dia ingin sekali berada di pelukan Merlin sekarang. Karena pelukan itu mampu membuat hatinya merasa tenang.


"Apa hatimu sangat sakit sekarang? Maaf, aku tidak bermaksud menambah rasa sakit itu. Hanya ingin tahu saja."


Dicky tersenyum kecil.


"Haruskah aku menjawabnya, Lin? Karena kamu tahu jawabannya. Jadi, aku rasa, aku tidak perlu menjawabnya lagi, bukan?"


"Aku tidak tahu." Merlin berucap dengan wajah polos sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku baru putus cinta. Cinta besar yang aku punya malah dikhianati oleh orang yang paling aku cintai. Aku yakin kamu pasti tahu rasanya seperti apa."


Merlin menatap lekat mata Dicky yang sedang terbaring di hadapannya.


"Sayangnya, aku tidak pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Jadi, aku tidak tahu. Karena aku tidak pernah dikhianati oleh orang yang benar-benar aku cintai. Karena aku tidak punya."


"Apakah kamu belum pernah pacaran sebelumnya?"

__ADS_1


Merlin menggelengkan kepalanya lagi.


"Belum."


"Benarkah."


"Tentu saja."


"Aduh, kenapa malah membahas soal aku? Apa hubungannya dengan aku. Oh ya, aku harus hubungi Hero sekarang. Tubuhmu panas. Kamu butuh dokter untuk memeriksa keadaanmu."


"Tidak perlu. Aku tidak butuh dokter. Karena sejujurnya, tubuh ini tidak sakit. Yang sakit itu hati. Tidak ada dokter yang mampu mengobati hatiku yang sakit ini."


"Siapa bilang tubuhmu tidak sakit. Tubuhmu panas sekarang. Tadi malam kamu telah menyakiti tubuhmu dengan minum alkohol terlalu banyak."


"Gak papa. Aku tidak sakit. Panas itu akan hilang sendiri nanti. Itu hanya efek sementara dari tubuh yang tidak bisa menerima terlalu banyak alkohol. Tidak perlu cemas dengan tubuhku, karena yang perlu kamu cemaskan itu hatiku. Hatiku yang hancur ini butuh tempat untuk menyatukannya kembali."


"Maksud kamu?"


"Tidak ada. Lin, bisakah aku pinjam tubuhmu untuk aku peluk? Aku mohon."


Dicky tersenyum kecil. Senyum tulus yang terlihat dipaksakan. Namun, Merlin tidak ingin mempermasalahkan hal itu sama sekali.


Dia malah ikut merasa nyaman dan terhanyut ke dalam pelukan Dicky.


Entah berapa lama mereka saling berpelukan dengan posisi berbaring itu, yang jelas, saat Merlin membuka mata, suasana sudah sangat terang. Hari sudah begitu siang dengan matahari yang bersinar cerah. Cahayanya sampai masuk ke dalam kamar melalui jendela kaca yang di tutupi gorden.


Namun, dia sama sekali tidak bisa bangun karena Dicky yang masih memeluk tubuhnya dengan erat. Dicky masih nyaman dengan pelukan itu, sehingga Merlin tidak tega untuk melepasnya.


'Ya Tuhan, andaikan aku yang dia cintai sekarang. Pasti hati ini sangat-sangat bahagia. Terlebih, dia mencintai dengan sepenuh hati. Aku pasti akan jadi perempuan yang paling bahagia di dunia ini.'


'Ah! Apa yang aku pikirkan? Aduh ... Merlin. Sadarlah. Kamu berkhayal terlalu tinggi. Ngapain tiba-tiba ngomong yang tidak jelas,' ucap Merlin lagi dalam hati sambil menggelengkan kepalanya dengan tidak sadar.


Gerakan itu membuat Dicky terbangun dari tidur nyenyak nya. Dia segera melonggarkan pelukan untuk membiarkan Merlin lepas dari cengkeramannya.

__ADS_1


Merlin beranjak cepat menjauh dari Dicky. Dengan wajah yang masih merona, tanpa kata tentunya, Merlin berjalan meninggalkan kamar itu secepat yang dia bisa.


Beberapa menit kemudian, Merlin kembali masuk ke kamar dengan membawa napan yang berisikan semangkuk bubur juga segelas air. Dia membawakan sarapan itu untuk Dicky yang sekarang masih nyaman berbaring di atas ranjang miliknya.


"Dic, aku bawakan sarapan untukmu. Sebaiknya, kamu segera makan sarapan ini. Karena aku yakin, kamu belum makan apapun selain alkohol yang kamu minum tadi malam. Benar bukan?"


"Tidak perlu seperhatian itu padaku, Merlin. Aku baik-baik saja. Lagian, aku juga tidak merasa lapar. Napsu makan ku juga tidak ada untuk saat ini. Jadi .... "


"Jadi apa? Kamu tidak ingin makan, begitu? Mm ... sebenarnya, aku tidak terlalu perhatian padamu, tuan muda. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Jika kamu sakit, terus berada di rumah ini, maka kamu akan menyusahkan aku."


"Hei ... Jaga bicaramu itu ya. Aku tidak akan menyusahkan kamu. Kamu tenang saja, oke."


"Tidak akan menyusahkan apa, hm? Kamu terus terbaring di kamar ini. Itu akan membuat aku susah. Dan lagi, jika kamu terus-terusan sakit, papa mama mu pasti akan datang ke sini untuk menjenguk mu. Nah ... siapa yang akan di susahkan kalau begitu?"


"Ya Tuhan ... kenapa begitu ribet isi benakmu, hm? Kenapa kamu harus memikirkan hal sejauh itu sih, Lin? Kenapa kamu tidak langsung bilang kalau kamu itu sedang mencemaskan keadaanku. Kamu sedang perhatian padaku. Itu akan semakin menambah obat untuk hatiku yang luka ini."


"Itu ... ah, tidak usah banyak bicara lagi. Sekarang, sebaiknya kamu cepat sarapan. Aku ingin keluar sebentar."


"Tidak. Aku tidak mau sarapan. Apalagi sarapan sendiri. Tidak akan mau."


"Lho, jadi harus bagaimana?"


"Aku akan sarapan jika kamu yang menyuapkan. Jika tidak, aku tidak akan sarapan."


"Aku sedang sakit. Aku butuh perhatian."


"Lagian, kamu tidak ingin aku sakit terlalu lama, bukan? Ya sebaiknya kamu rawat aku dengan penuh kasih sayang."


Merlin menatap tajam mata Dicky. Lalu, dia menghembus napasnya dengan kasar.


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, Dicky."


"Tidak. Aku tidak begitu."

__ADS_1


"Aku hanya mencari belas kasihan saja," ucap Dicky sambil mengukir senyum kecil di sudut bibir.


__ADS_2