
Sontak, karena ucapan Dicky barusan itu, Merlin segera menarik diri dari pelukan Dicky. Dia merasa sedikit kaget karena ucapan itu.
"Jangan lakukan apapun untuk aku dengan kekuasaan yang kamu miliki itu, Dic. Karena nantinya, aku semakin akan jadi bahan omongan semua siswa di sekolah."
"Kalau gitu, aku akan bikin perhitungan pada siapapun yang menjadikan kamu bahan omongan. Siapapun orangnya, mereka akan merasakan akibat karena berani membicarakan kamu."
"Jangan! Jangan lakukan apapun lagi untuk aku. Aku tidak ingin kamu melakukan apapun lagi sekarang. Aku tidak ingin kamu ikut campur urusan pribadi aku, Dic."
"Merlin. Bagaimanapun, ini salah aku. Kamu di keluarkan dari sekolah karena aku. Aku yang sudah bikin ulah, tapi kamu yang kehilangan impian besar mu. Kamu terpaksa kawin muda dengan aku, itu karena cita-cita besar yang kamu miliki, bukan? Jadi .... "
"Dicky. Apa yang kamu bicarakan itu memang benar adanya. Hanya saja, aku tidak bisa berada di sekolah lagi sekarang. Karena wajah ini, sudah sangat malu untuk muncul di depan umum. Aku tidak punya nyali untuk kembali ke sekolah. Meskipun aku punya cita-cita besar untuk menjadi orang sukses, tapi rasa malu ini sangat kuat. Aku tidak bisa mengalahkan rasa malu ini meski aku ingat janjiku pada almarhumah mama."
"Merlin."
"Dic, jangan paksa aku. Aku tidak bisa."
"Baiklah kalau itu yang kamu katakan. Aku tidak akan memaksa kamu lagi. Aku akan carikan kamu guru agar kamu bisa belajar di rumah saja. Dengan begitu, kamu akan tetap bisa mengejar cita-cita besar mu untuk menjadi orang sukses."
"Tidak perlu. Karena aku tidak ingin menambah hutangku padamu lagi. Hutang yang aku miliki sudah sangat banyak, Dicky. Bagaimana caranya aku bisa melunasi hutang itu jika kamu terus menambahnya lagi dan lagi?"
"Caranya gampang, Merlin. Jika ingin hutang yang kamu miliki lunas, maka kamu hanya perlu tetap berada di sampingku selamanya."
"Apa?"
"Eh ... tidak ada. Lupakan saja apa yang aku katakan barusan. Oh ya, sepertinya, kita harus turun dari mobil sekarang. Karena ... kita sudah sampai ternyata." Dicky terlihat gugup dengan caranya mengalihkan perhatian Merlin dari apa yang dia katakan barusan. Sejujurnya, dia masih tidak yakin untuk mengatakan apa yang ingin hatinya katakan pada Merlin.
Di mansion keluarga Prasetya, semua sedang kehilangan Intan. Meskipun dia tidak dianggap dan kata-katanya tidak di dengarkan lagi, tapi tetap saja, dia nyonya besar keluarga itu.
"Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan, Intan?" tanya Bagas sambil duduk dengan wajah cemas di kursi dalam ruang kerjanya.
"Maaf, tuan besar. Kami masih belum bisa melacak di mana keberadaan nyonya. Karena nyonya tidak membawa perangkat lunak apapun pergi bersamanya."
__ADS_1
"Sial. Ke mana perginya dia? Dari rekaman cctv, dia sudah pergi sejak tadi pagi. Tapi, sampai sore begini, dia masih belum pulang juga. Apa yang sebenarnya dia lakukan di luar sana?"
"Awas saja jika dia masih bertingkah nekat. Aku akan turun tangan sendiri menghukumnya nanti."
"Tuan, bagaimana jika nyonya diculik seseorang?"
"Tidak mungkin. Siapa yang mau menculik perempuan tua seperti dia? Tidak ada gunanya. Yang aku takutkan sekarang itu bukan dia diculik, tapi dia bikin ulah. Awas saja kalau apa yang aku takutkan ternyata terbukti. Akan aku buat dia menyesal nantinya."
_____
Dua hari berlalu. Dicky sepertinya berhasil mengembalikan Merlin ke sifat semula. Perempuan itu terlihat kembali bersemangat menjalani hari setelah susah payah Dicky menyenangkan hatinya dengan berbagai cara.
Selama dua hari itu juga, Dicky memutuskan untuk tinggal di rumah bersama Merlin. Karena dia merasa, Merlin sangat membutuhkannya. Meskipun Merlin selalu mengusir dirinya agar segera menjauh dan tidak terus-terus ada di rumah. Tapi Dicky sama sekali tidak peduli dengan perlakuan Merlin itu.
"Aku gak akan pergi ke mana-mana. Karena ini, rumah kita." Itulah jawaban Dicky ketika Merlin mengusirnya untuk berangkat ke sekolah.
Memasuki hari ketiga, Merlin benar-benar sudah melupakan masalah yang dia alami. Dia bahkan terlihat semakin bersemangat lagi sekarang.
"Hm ... bicara apa? Oh ya, bukannya barusan kamu memang sudah bicarakan ya?"
"Maksudku, aku ingin bicara hal serius dengan kamu."
"Lah, tinggal bicara aja. Kok repot?"
"Ih, sepertinya aku lebih suka kami yang beberapa hari yang lalu deh, Lin. Lebih .... "
"Lebih apa? Katanya mau bicara hal serius. Eh, malah bicara hal yang tidak penting."
"Iya-iya, nona Merlin. Aku akan bicara sekarang. Dengarkan!"
"Sudah dari tadi, Bambang. Kamu aja yang lemot. Gak bicara langsung pada intinya."
__ADS_1
"Hm .... " Dicky membuang napas kasar karena kesal. Tapi, itulah sikap Merlin yang sesungguhnya. Yang membuat dia ikut merasa bahagia ketika bersama.
"Lin, aku ingin katakan, kalau aku sudah carikan kamu guru terbaik agar kamu bisa belajar di rumah. Guru ini adalah guru terkenal di kota ini. Dia lulusan sarjana pendidikan luar negeri. Pelajaran yang dia ajarkan sama dengan pelajaran di sekolah. Dan kabar yang paling baiknya adalah, kamu akan dapat sertifikat kelulusan yang sama dengan yang didapatkan oleh murid yang bersekolah di sekolah setiap hari."
"Bagaimana? Kamu senang bukan, dapat kabar bahagia ini? Karena dengan begitu, kamu akan bisa mengejar cita-cita yang kamu miliki, Merlin."
Merlin tidak langsung menjawab. Dia menatap wajah Dicky lekat. Mata bening itu terlihat berkaca-kaca, tapi Merlin masih bisa menahan mata itu agar tidak menumpahkan air.
"Merlin. Kamu tidak senang?" tanya Dicky hati-hati.
"Bukan. Bukan tidak senang. Tapi ... aku tidak bisa menerima kebaikan dari kamu lagi. Kamu tanggung aku hidup dengan semua yang aku miliki sekarang saja susah lebih dari cukup. Bagaimana bisa aku mendapatkan hal lain yang lebih besar lagi dari kamu, Dic? Aku tidak bisa."
"Jangan pikirkan soal itu, Merlin. Karena semua yang aku berikan, itu sudah menjadi tanggung jawab aku ke kamu. Kita ini ...." Dicky menggantungkan kalimatnya. Dengan tatapan sayu, dia melihat Merlin yang ada di hadapannya.
"Apa?" Merlin sepertinya tidak sabar untuk mendengarkan sambungan dari kata yang Dicky gantung. Meskipun sebenarnya, dia sudah tahu apa sambungan dari kata tersebut.
"Ya kita ini su .... "
Masih tidak bisa menyambung kata yang dia gantung sebelumnya. Karena sekarang, bunyi ponsel yang Dicky miliki menjadi penghalang dari kata-kata yang akan Dicky ucapkan.
"Tunggu sebentar. Aku jawab panggilan dari papa dulu."
"Halo, Pa. Ada apa?"
"Dic, mama mu menghilang. Dia sudah tidak pulang selama tiga hari tanpa kabar, juga tanpa tahu di mana keberadaannya."
"Apa? Mama menghilang? Kok bisa?"
"Tentu saja bisa. Karena mamamu itu perempuan keras kepala."
"Dia bukan mamaku. Dia istri papa. Wajar jika dia keras kepala."
__ADS_1