Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#53


__ADS_3

Sopir itu terdiam memikirkan kata-kata yang Merlin ucapkan. Melihat hal itu, Merlin merasa sedikit kesal. Tanpa berucap, dia ingin membuka pintu mobil untuk keluar. Namun, bi Imah menahan tangannya dengan cepat.


"Jangan, nona! Apa yang pak sopir katakan itu benar adanya. Takut ini cuma jebakan, keselamatan nona bisa jadi taruhan. Bibi gak mau nona kenapa-napa."


"Tapi bik, bagaimana jika itu memang orang yang benar-benar butuh pertolongan? Kita begitu jahat jika tidak memberikan pertolongan buat dia, bik."


"Bibi tahu apa yang nona rasakan sekarang. Untuk itu, biar bibi saja yang pergi. Sementara nona, tetap di dalam mobil. Jika ada apa-apa, tolong jangan keluar. Panggil saja polisi langsung. Tapi ingat, jangan beranjak dari dalam mobil."


"Jangan, bik! Jangan kamu yang pergi. Biar aku saja. Karena aku laki-laki, jadi biar aku saja yang pergi. Tolong jaga nona muda baik-baik. Ingat! Jangan keluar jika ada masalah," ucap pak sopir sambil beranjak dari mobil secepat yang dia bisa.


Tidak ada yang bisa Merlin katakan selain mengikuti apa yang bik Imah dan sopirnya katakan. Dalam hati, dia merasa sedikit bahagia. Karena di kelilingi oleh orang-orang yang sangat peduli dengan dirinya walau mereka melakukan hanya karena tanggung jawab yang sedang mereka emban.


Tidak ada hal yang mencurigakan yang terjadi di tempat itu. Pak sopir membawa perempuan yang dia tolong ke mobil.


"Nona, dia sepertinya memang orang yang butuh bantuan. Harus kita apakan dia?" tanya sopir itu sambil terus berjalan mendekat.


"Bawa dia ke rumah sakit saja pak sopir. Di sana, dia bisa diobati oleh dokter. Dia terlihat sangat lemah."


"Tidak perlu. Tidak perlu bawa aku ke rumah sakit. Tolong bawa aku cepat pergi dari sini saja. Itu sudah cukup," ucap perempuan itu dengan nada lemah karena tidak punya tenaga.


"Tolonglah. Cepat bawa aku pergi sebelum mereka menyadari kalau aku sudah tidak ada lagi di rumah mereka. Tolong .... " Perempuan itu kembali bicara dengan suara lemah. Dia bicara dengan suara pelan yang sangat mengiba.


"Baiklah."

__ADS_1


"Cepat bawa dia masuk, pak sopir! Jangan buang waktu lagi."


"Baik, nona muda."


Sopir itu menduduki perempuan tersebut di sampingnya. Lalu, dia masuk dengan cepat untuk menjalankan mobil meninggalkan tempat tersebut.


"Jalankan mobil dengan kecepatan sedang saja, pak sopir!"


"Tapi ... jalan gak bagus, nona. Nona akan terganggu nantinya."


"Gak papa. Aku gak masalah. Tante ini terlihat sangat lemah. Dia butuh pengobatan juga makanan untuk memulihkan tenaganya."


"Baiklah, nona. Akan saya lakukan sesuai perintah nona."


"Jangan terlalu memujiku, tante. Karena apa yang aku lakukan sekarang, memang harus aku lakukan. Tante sedang sangat membutuhkan pertolongan, jadi ... jikapun bukan aku yang lewat, jika orang lain yang lewat, juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan sekarang."


"Tidak, gadis baik. Tidak ada yang berani menolong orang seperti yang kamu lakukan tadi. Sudah asa beberapa orang yang lewat di jalan ini, mereka tidak berani menyelamatkan aku. Mereka hanya melihat, terus melajukan mobil mereka dengan cepat. Kamu adalah orang pertama yang begitu berani menyingkirkan kemungkinan buruk hanya karena rasa simpatimu pada orang lain. Kamu pantas mendapatkan semua pujian terbaik."


Merlin hanya memperlihatkan senyum nyengir pada perempuan itu. Dia tidak ingin berkomentar lagi. Karena rasanya, komentar yang dia keluarkan tidak terlalu perlu untuk dia ucapkan.


"Oh ya, tante. Tante kelihatannya sangat lemah. Aku punya sedikit roti. Mungkin ini bisa tante makan dulu sambil nunggu kita sampai di rumah makan," ucap Merlin sambil menyodorkan sebungkus roti manis yang masih utuh.


"Nona, itukan roti kesukaan nona. Nona saja belum mencicipi roti itu, bukan? Kenapa harus nona berikan padanya. Dia bisa menunggu sampai kita menemukan rumah makan," ucap bi Imah tidak setuju dengan apa yang Merlin lakukan sekarang. Bi Imah berucap dengan suara kecil. Namun, masih bisa didengar oleh orang lain karena mereka berada di tempat yang tertutup seperti mobil.

__ADS_1


"Gak papa, bik. Nanti aku bisa beli lagi."


"Iya. Tapi nona harus nunggu minggu depan, bukan? Karena roti ini hanya akan dijual satu minggu sekali di toko itu. Bahkan, tidak ada dijual di toko lain."


"Gak papa, bik. Aku udah pernah coba roti ini. Lagian, tante itu terlihat sangat kelaparan. Jadi, biarkan dia mencoba roti manis yang penuh keberkahan ini."


"Tante. Ini silahkan makan dulu."


"Apa ... apa gak papa jika aku memakannya? Karena kebetulan, aku memang sedang sangat lapar. Aku belum makan selama tiga hari."


"Gak papa, tante. Makan saja," ucap Merlin sambil memperlihatkan senyum manisnya yang sangat tulus.


"Te-terima kasih lagi anak baik. Kamu benar-benar baik," ucap perempuan itu kini dengan air mata yang mengalir sambil melihat roti manis yang dia terima dari Merlin barusan.


'Tuhan ... jika ini cobaan, maka aku terima dengan lapang dada. Namun, jika ini karma atas segala yang telah aku lakukan sebelumnya, maka tolong, maafkan aku. Ampuni aku, dan tolong sudahi karma ini. Karena aku sudah tidak kuat lagi. Aku benar-benar sudah sadar dengan kesalahan yang telah aku perbuat,' ucap perempuan itu dalam hati sambil terus melihat roti yang ada di tangannya. Air mata masih mengalir turun melintasi pipi kusamnya yang tidak terawat.


Merlin melihat perempuan itu dengan perasaan iba. Lalu, dia melihat ke arah bi Imah yang juga ikut terdiam tanpa kata dengan mata yang tertuju pada perempuan malang tersebut.


"Tante, ada apa? Kenapa tante menangis?"


"Ti--tidak ada apa-apa anak baik. Aku hanya sedikit terharu saja dengan apa yang baru saja aku alami. Semua yang baru aku alami, seperti mimpi di siang hari bagiku."


"Itulah yang dinamakan takdir, tante. Semua yang terjadi, kita tidak pernah tahu seperti apa kedepannya. Oh ya, jangan terlalu dipikirkan lagi. Ayo di makan rotinya, karena menurut petunjuk yang ada di ponsel ini, rumah makan sedikit masih jauh lagi dari sini."

__ADS_1


"Iy--iya. Ba--baiklah."


__ADS_2