Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#58


__ADS_3

"Kamu gak perlu takut, karena kita bukan pertama kali melakukan hal ini, kan? Kita sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya di rumah."


Mendengar ucapan itu, Merlin mempelototkan matanya lebar-lebar untuk menatap Dicky. Raut wajah kaget terlihat sangat jelas di wajah Merlin saat ini.


"Apa maksud dari ucapan kamu barusan, Dicky? Melakukan hal apa? Hal apa yang pernah kita lakukan di rumah, hah?"


Pertanyaan yang disertai dengan tatapan tak percaya itu membuat Dicky kembali tertawa. Dia tidak bisa menahan rasa geli dalam hatinya. Wajah Merlin yang merah merona itu terlihat begitu lucu dan menggemaskan di mata Dicky.


"Lin, kamu barusan itu mikir apa sih, hm? Jangan mikir yang nggak-nggak. Aku hanya ingin bilang, kita sudah pernah tidur berdua dalam satu ranjang di rumah. Jadi, kamu jangan takut. Tidak akan terjadi apa-apa."


"Si--siapa yang mikir ... mikir yang tidak-tidak. Aku tidak," ucap Merlin sambil menahan rasa malu. Merlin merasa sangat malu karena tanggapannya yang terlalu berlebihan.


"Ya sudah kalo gitu, kalo kamu gak mikir yang nggak-nggak. Ayo sini! Istirahat. Jangan buang-buang waktu untuk melamun. Karena melamun itu tidak akan ada gunanya."


"Siapa bilang kalau melamun tidak ada gunanya? Ada kok." Merlin membantah karena dia tidak ingin kalah.


Dicky menarik napas dalam-dalam. Lalu melepaskan napas itu secara kasar.


"Terserah kamu saja. Apa yang baik menurut pendapatmu, maka pakaikan saja pendapatmu itu."


Merlin tidak lagi membantah. Dia malah memilih diam tanpa berucap, namun bergerak mendekat ke sisi ranjang besar yang di atasnya sudah ada penghuni yang berbaring dengan posisi menelungkup.

__ADS_1


Sementara itu, di kamar utama mansion ini, Intan sedang duduk di pojokan ranjang. Dia duduk sambil menghadap jendela yang bisa langsung dia lihat taman bunga kesayangannya miliknya.


"Tuhan ... haruskah aku pergi? Tapi ... aku harus pergi ke mana? Aku tidak punya keluarga yang benar-benar dekat dengan aku. Lagipula, jika mereka tahu aku bukan nyonya keluarga Prasetya lagi, siapa yang akan peduli dengan nasibku nanti."


"Tapi ... bertahan di sini sebagai nyonya yang tak dianggap juga tidak akan baik. Itu sama saja menyiksa hati secara terang-terangan." Intan berucap sambil terus menatap keluar jendela.


Perlahan, tanpa dia sadar, apa yang baru saja dia ucapkan itu didengar dengan sangat jelas oleh Bagas suaminya. Bagas yang baru saja masuk, langsung mendengarkan ucapan yang lebih mirip mengeluh dari Intan. Hal yang sangat amat langka bagi Bagas. Karena selama ini, Intan yang dia kenal itu adalah orang yang sangat ambisius dan sedikit kejam.


"Yang membuat kamu tak dianggap itu dirimu sendiri, Intan. Jadi, untuk apa mengeluh?" tanya Bagas langsung menjawab.


Sontak saja, jawaban yang tiba-tiba itu membuat Intan kaget bukan kepalang. Dia langsung memutar tubuh untuk menghadap Bagas yang berada tak jauh dari ranjang sekarang.


"Papa! Masuk kok gak ketuk pintu dulu?"


Intan melepas napas kasar. Matanya menatap sedih pada wajah sang suami yang selama ini dia banggakan. Wajah orang yang dulunya begitu peduli pada dirinya. Tapi, karena kesalahan yang dia perbuat, semuanya mendadak berubah.


"Aku tahu semua yang ada di sini milik kamu, Mas. Tapi setidaknya, kamu hormati aku yang sedang berada di kamar ini."


"Lho, kenapa aku harus menghormati kamu, Intan? Kamu sebagai istri saja tidak menghormati aku. Kamu pergi diam-diam dari rumah ini tanpa berpamitan, lalu kemudian, kamu menghilang selama tiga hari tanpa kabar berita. Kamu anggap aku ini apa, hah?"


Intan tertawa mendengarkan ucapan suaminya. Hatinya mendadak merasa geli dengan kata-kata yang suaminya ucapkan barusan. Namun, sejujurnya, yang dia rasakan sekarang adalah rasa sedih. Sedih yang terlampau batas.

__ADS_1


"Karena aku pergi tanpa pamit, terus menghilang selama tiga hari tanpa kabar, kamu bilang aku tidak menghormati kamu di sini? Kamu salah, Mas. Aku pergi tanpa pamit karena aku menghormati kamu. Aku tidak ingin kita bertengkar lagi dan lagi. Karena setiap kita bertemu, kamu akan anggap aku musuh mu, bukan istri."


"Dan sepertinya, yang tidak dihormati itu aku di sini. Tiga hari aku menghilang tanpa kabar, kalian di sini hanya diam saja. Kalian tidak tahu apa yang aku alami selama tiga hati itu kan, Mas? Aku tersiksa. Sangat-sangat tersiksa."


"Namun, yang paling mengejutkan lagi adalah, saat aku pulang, tidak ada yang menyambut aku sama sekali. Kalian bahkan tidak peduli dengan keadaanku yang sangat menyedihkan ketika aku sampai di mansion ini. Kalian malah sibuk menyambut istrinya Dicky yang datang ke sini. Sedangkan aku, kalian abaikan begitu saja."


"Diam, Intan. Jangan kamu bawa-bawa nama Merlin dalam masalah kita. Dia tidak tahu apa-apa soal semua ini. Dia datang juga karena tidak di sengaja."


"Iya, aku tahu dia datang karena tidak di sengaja. Aku juga tidak berniat membawa nama dia dalam permasalahan yang sedang kita hadapi. Tapi, aku hanya ingin mengatakan kebenaran yang terjadi di saat aku pulang saja, Mas. Tidak lebih."


"Lalu, apa lagi yang ingin kamu katakan, hah? Katakan apa yang ingin kamu katakan sekarang! Karena nanti, aku tidak ingin kamu bicara hal yang tidak-tidak di depan menantuku."


"Tidak ada lagi, Mas. Hanya itu yang ingin aku katakan. Oh ya, aku ingin mengingatkan satu hal padamu, dia bukan hanya menantu mu saja. Tapi, juga menantuku."


"Cih. Jangan banyak bicara, Intan. Kamu di sini cuma mama tiri. Kamu tidak berhak berharap banyak hal dari anak aku."


Mendengar ucapan itu, buliran bening perlahan turun dari mata Intan.


"Aku tidak akan berharap banyak. Karena aku sekarang cukup sadar diri, Mas. Tapi, apakah salah jika aku mengganggap anak kamu itu juga anak aku, Mas? Aku tidak bisa punya anak karena kamu tidak ingin punya anak lagi selain Dicky. Aku terima, karena aku pikir, dengan punya Dicky, aku merasa sudah cukup jadi mama. Walau pada kenyataannya, di sisi lain, aku juga merasa sangat sedih dengan keputusan yang kamu ambil. Aku wanita normal. Ingin punya keturunan yang aku lahir kan sendiri dari rahimku. Tapi .... "


"Diam, Intan! Jangan coba-coba kamu ungkit semua yang telah berlalu. Jika kamu ingin punya anak dan jadi wanita normal, lalu kenapa kamu bersedia menikah dengan aku walau kamu tahu apa syarat yang aku ajukan sebelum meminang kamu, hah?"

__ADS_1


"Dan ... kamu bilang ingin anggap Dicky sebagai anak kamu. Cih! Aku jijik mendengarkan ucapan munafik yang keluar dari mulut busuk mu itu."


__ADS_2