Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#50


__ADS_3

Bagas terdengar mendengus kesal. Dia lupa kalau Dicky sebenarnya tidak terlaku suka dengan Intan. Karena selama ini, bagi Dicky, Intan adalah benalu yang berkuasa atas tanaman yang sesungguhnya.


"Lupakan saja soal itu. Papa menghubungi kamu karena ingin minta bantuan padamu. Tolong papa. Kerahkan anak buah yang kamu miliki buat nyari keberadaan mamamu. Karena papa khawatir, takut dia bikin ulah di luar sana."


"Kenapa aku harus bantu nyari dia?"


"Karena jika mamamu berulah, bukan hanya papa yang akan dapat masalah. Tapi kamu dan oma mu juga akan ikut menanggung beban itu. Karena dia masih anggota keluarga Prasetya."


Dicky mendengus kesal mendengar penjelasan dari papanya barusan.


"Baiklah. Aku akan bantu, tapi dengan satu syarat."


"Apa? Katakan saja. Jika papa bisa, maka papa akan turuti."


"Katakan padaku apa alasan papa membela aku akhir-akhir ini! Karena sebelumnya, papa tidak pernah melakukan hal itu padaku. Bahkan saat mama menjodohkan aku dengan kerabat jauhnya. Papa juga masih setuju."


Bagas tidak langsung menjawab. Karena saat mendengarkan kata-kata itu, dia langsung diam selama beberapa saat. Sampai Dicky harus berdaham untuk mengakhiri keheningan antara mereka.


"Jika kamu ingin tahu apa alasannya, kembali ke kediaman sekarang. Papa akan katakan semua alasannya padamu."


"Baiklah. Aku akan pulang sekarang juga."


"Iya. Papa tunggu kamu di rumah."


"Oh ya, bisakah kamu ajak Merlin ikut serta pulang denganmu?"


"Sepertinya tidak. Aku tidak ingin dia tahu apa masalah yang sedang terjadi di keluarga kita. Karena aku tidak ingin melihat dia terbebani. Dia baru saja bisa keluar dari masalah yang baru-baru ini menimpanya. Jadi, aku tidak ingin melihat dia terbebani lagi."

__ADS_1


"Hm ... baiklah kalau gitu. Jika itu keputusanmu, papa bisa terima. Tapi, tolong bawa dia jalan-jalan nanti ke kediaman kita. Karena dia wajib tahu di mana dan bagaimana keadaan keluarga kita, bukan?"


"Ya, aku tahu soal itu. Ada waktunya aku bawa dia datang ke kediaman. Tapi, setelah semua masalah keluarga kita beres. Juga setelah mama tidak berulah lagi. Karena aku tidak ingin hati Merlin terluka karena sikap mama."


"Iya, papa tahu. Ya sudah. Segera datang."


"Hm .... "


Selesai bicara panjang lebar dengan papanya lewat telepon, Dicky langsung memutuskan sambungan teleponnya. Saat itu, dia baru ingat kalau orang yang dia bicarakan sedang berada di hadapannya saat ini.


Dicky tersenyum tidak enak saat dia melihat wajah Merlin. Tentu saja karena sekarang, dia mendapat tatapan tajam dari si istri yang merasa sangat penasaran dengan obrolan yang menyinggung namanya barusan.


"Katakan! Ada masalah apa? Eict ... bukan aku ingin ikut campur dalam urusan pribadi kamu, terutama urusan keluarga kamu. Hanya saja, barusan kamu menyebut namaku saat bicara dengan papa. Aku merasa tidak enak hati jika tidak tahu apa sebab namaku kamu bawa-bawa."


Dicky tersenyum melihat tingkah polos Merlin. Merlin yang terlihat begitu tidak ingin dibilang ikut campur dalam urusan pribadi Dicky, langsung menjelaskan maksud tanpa menunggu Dicky berucap.


"Takut banget aku bilang ikut campur soal urusan pribadi? Hm ... takut, tapi mau tau. Gimana sih?"


"Iya deh, iya. Kamu selalu benar, oke."


"Oh ya, soal aku sebut nama kamu itu karena papa minta kamu datang ke mansion hari ini. Tapi, aku gak bisa bawa. Soalnya, ada hal penting yang harus aku urus diluar. Nanti, kami sama bik Imah jalan-jalan aja. Ke mana kamu suka aja perginya. Katakan saja kamu ingin ke mana sama pak sopir. Karena aku akan tinggalkan dia buat temani kamu jalan-jalan sama bik Imah."


"Eh, siapa yang pingin jalan-jalan? Aku nggak kok."


"Udah. Karena hari ini aku juga sibuk di luar, jadi kamu juga harus sibuk jalan-jalan di luar. Biar adil. Asalkan gak macam-macam di luar sana. Kan gak masalah."


"Macam-macam? Maksud kamu macam-macam bagaimana?" tanya Merlin dengan bingung.

__ADS_1


Bagaimana tidak bingung? Dicky berpesan padanya seperti seorang suami berpesan pada istrinya. Takut istrinya macam-macam di luar.


Sebenarnya tidak salah sih menurut Merlin. Hanya saja, status hubungan mereka itu bukan istri sesungguhnya yang seperti orang lain jalankan. Suami istri penuh cinta yang sangat bahagia. Sedikit jalan-jalan saja harus banyak pesan supaya ingat akan status sebenarnya.


Dicky kembali tersenyum. Dia merasa senang setiap melihat ekspresi yang berbeda-beda dari Merlin. Entah mengapa, kehadiran Merlin mampu membuat dia merasakan kehangatan juga melupakan masa lalu sedih yang telah dia lewati kemarin-kemarin.


"Sudahlah. Jalan saja. Ikuti saja apa yang aku katakan. Selagi itu baik buat kamu, jadi ... aku rasa tidak ada salahnya, bukan?"


"Hm ... makin aneh saja kamu sekarang. Semoga tidak ada masalah dengan otakmu ya, Dic."


"Eh! Apa yang kamu katakan barusan, hm? Kamu bilang apa tadi?" tanya Dicky melihat Merlin dengan tatapan tajam.


"Tidak ada." Merlin berucap sambil membalas tatapan tajam yang Dicky perlihatkan. Sekarang, Merlin tidak merasa takut lagi dengan tatapan itu. Merlin malah merasa senang dengan tatapan tajam yang sepertinya sangat bersahabat buat dia.


"Katakan atau .... " Dicky menggantung kata-katanya. Dia bagun dari duduk dan bersiap-siap untuk beranjak dari tempatnya.


"Oh jangan-jangan. Aku akan katakan. Kamu kembali duduk tuan muda. Aku akan katakan, oke."


"Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran."


"Kamu terlalu tampan hari ini."


Sontak saja, kata-kata itu bisa meluncur begitu saja dari mulut Merlin. Tanpa bisa Merlin cegah atau tahan. Juga tidak sadar entah mengapa dia bisa mengucapkan kata-kata itu.


Hening ....


Suasana di meja makan mendadak hening seketika. Tatapan Dicky tertuju tepat di wajah Merlin yang sedang menunduk, menyesali apa yang baru saja dia ucapkan tanpa dia sadari.

__ADS_1


"Merlin ... kamu bilang apa barusan? Bisakah aku mendengarkannya satu kali lagi?" tanya Dicky dengan wajah penuh harap.


Entah kenapa, dia bisa merasakan jantungnya berdetak tidak karuan hanya karena pujian yang tidak di sengaja itu. Hatinya mendadak merasakan keharuman yang begitu merebak. Bak bunga yang baru saja mekar di pagi hari.


__ADS_2