Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#59


__ADS_3

"Dan ... kamu bilang ingin anggap Dicky sebagai anak kamu. Cih! Aku jijik mendengarkan ucapan munafik yang keluar dari mulut busuk mu itu."


"Kamu bukan ingin anggap Dicky sebagai anak kamu dengan hati yang tulus, melainkan, kamu punya maksud lain dibaliknya. Dan aku tahu apa maksud busuk mu itu. Karena Dicky adalah anak satu-satunya, keturunan satu-satunya keluarga Prasetya, maka semua harta warisan itu atas nama Dicky. Kamu tidak rela dengan hal itu bukan? Kamu ingin menguasai semua harta ini. Bodoh! Kamu gak pernah merasa cukup dengan menjadi nyonya besar di keluarga ini, hah!"


Mendengar perkataan yang di penuhi dengan amarah yang Bagas ucapkan, mata Intan membelalak sambil menatap tak percaya pada Bagas yang ada di hadapannya.


"Ap--apa ... apa yang kamu katakan barusan, Mas? Tahu dari mana kamu aku ingin menguasai harta keluarga ini, mas Bagas? Tahu dari mana?"


"Jangan bicara dengan nada yang sok tidak bersalah, Intan. Sebaiknya, kamu ingat siapa aku. Aku ini adalah Bagas. Kepala keluarga dari keluarga ternama. Aku harap kamu tidak lupa," ucap Bagas dengan nada yang penuh dengan penekanan.


Setelah berucap kata-kata itu, Bagas langsung beranjak menjauh dari Intan. Sementara itu, Intan tidak kuat menahan berat tubuhnya lagi. Dia menjatuhkan dirinya ke lantai dengan mata yang terus mengeluarkan embun bening.


"Jadi ... karena hal ini papa berubah, pa? Pantas saja kamu begitu tidak suka padaku kemarin-kemarin. Ternyata kamu tahu soal rencana buruk yang ingin aku jalani."


"He ... he ... he .... Iya, aku memang bodoh ternyata. Bisa-bisanya termakan hasutan manusia laknat yang tidak punya hati sama sekali. Bodoh! Benar-benar bodoh. Mas Bagas benar. Apa lagi yang aku rasakan tidak cukup dengan kedudukan yang aku miliki sebelumnya. Kenapa aku malah menginginkan hal lain yang bisa membuat aku terpuruk ke lembah yang dalam?"


"Tuhan ... apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku pergi meninggalkan masalah yang sudah aku ciptakan? Atau ... apakah aku harus memperbaiki masalah yang sudah aku perbuat. Ah ... tolong aku yang maha mendengar."


Intan meringkuk di atas lantai dengan memeluk erat tubuhnya. Dia merasakan sesuatu yang sangat sulit untuk dia cerna dengan akal dan pikirannya saat ini.


Sementara itu, di rumah Tias, Cindy sedang panik ketika melihat kepulangan sang mama dari belanja. Dia tidak tahu reaksi seperti apa yang akan mamanya perlihatkan jika tahu tangung jawab yang diberikan padanya tidak mampu dia laksanakan dengan baik.


Tapi, mau tidak mau, dia harus tetap menerima apapun resiko dari kegagalan yang sudah dia perbuat sekarang. Dia menghadang mamanya yang baru saja masuk ke dalan rumah. Dengan wajah takut-takut, Cindy menatap sang mama.


"Cindy. Kamu mau bantuin mama bawa barang belanjaan ya? Nih, bawa yang ini."

__ADS_1


Cindy langsung menerima kantong plastik putih yang Tias ulurkan. Sepertinya, Tias sedang sangat bahagia karena bisa belanja kebutuhan dalam jumlah yang besar.


"Mama sangat senang ya, bisa belanja sepuasnya?"


"Tentu saja mama senang, Cindy. Kita jarang punya uang banyak sekarang bukan? Apalagi sejak Intan tidak ada gunanya di keluarga Prasetya. Ya makin tidak punya uang lagi kita. Ini untung aja dia punya kalung berlian yang dia kenakan. Kita bisa ambil dan jual biar bisa menghasilkan banyak uang."


"Ah, coba saja dia datang dengan lebih banyak perhiasan ya. Kan kita bisa lebih banyak uang lagi."


"Ah, tapi jika rencana besar mama berhasil, jangankan uang puluhan juta, ratusan bahkan milyaran bisa kita keluarkan dalam satu hari. Benar bukan?"


"Mama yakin rencana mama akan berhasil?"


"Hei ... apa yang kamu tanyakan pada mama barusan, hm? Jangan tanyakan keberhasilan dulu. Yang jelas, kita harus mencoba berusaha dan berharap keberuntungan selalu ada di samping kita. Dengan begitu, usaha apapun akan menghasilkan hasil yang baik. Paham?"


"Terserah mama saja kalau gitu. Semoga keberuntungan selalu bersama mama ya."


"Ee ... tapi ma .... " Nada keraguan terdengar begitu jelas dari suara Cindy. Dia bingung mau bilang apa. Antara bingung dan takut sebenarnya. Tidak ingin di bicarakan, namun cepat atau lambat akan tau juga apa yang sudah terjadi.


Merasa ada yang tidak beres dari nada bicara anaknya barusan, Tias langsung memutar tubuh. Dengan tatapan tajam, dia melihat Cindy yang sekarang sedang menundukkan kepala.


"Tapi apa, Cindy? Katakan apa yang telah terjadi di rumah ini selama aku tidak ada. Jangan bicara setengah-setengah."


"Itu ... tante Intan. Dia ... dia .... "


"Dia kenapa, Cindy? Katakan yang jelas! Ah! Jangan bilang dia mati ya. Tapi ... kalau dia mati juga bagus sih sebenarnya. Kita tinggal makamkan saja jenazahnya sembarangan. Gampang kan?"

__ADS_1


"Mama! Kok mama ngomong gitu sih? Tante Intan gak mati. Tapi, dia sudah kabur dari rumah ini."


"Apa!"


Bak tersambar petir di siang bolong, Tias kaget bukan kepalang. Sangking kagetnya Tias mendengarkan kabar itu, tas yang ada di genggaman tangannya pun bisa terlepas.


"Apa yang kamu katakan barusan, Cindy!? Jangan bercanda kamu ya."


Cindy tidak menjawab lagi. Perasaan takut segera menghampiri hatinya. Dia semakin menundukkan wajah di hadapan mamanya.


Tidak puas dengan apa yang anaknya katakan, Tias segera berlari menuju ruang kecil, tempat di mana dia menyekap Intan beberapa hari ini.


Mata Tias membelalak tak percaya ketika melihat tempat itu kosong tanpa ada Intan di sana.


Rasa kesal menguasai hatinya kini. Dengan langkah besar, dia berjalan menuju Cindy yang masih diam di tempat sebelumnya. Lalu ....


Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Cindy. Seketika, pipi putih itu mendadak berubah kemerah-merahan.


"Bodoh! Anak tidak ada gunanya kamu, Cindy! Aku minta kamu jagain orang yang tidak bisa apa-apa saja tidak bisa. Benar-benar tidak ada gunanya. Pergi mati saja kamu sana! Tidak berguna."


Tias mencerca Cindy habis-habisan. Sementara Cindy tidak berucap sepatah katapun. Dia hanya diam membisu sambil terus menahan sakit yang ada dalam hatinya.


"Sekarang juga, kamu pergi carikan Intan. Jangan pulang sebelum kamu menemukannya. Jika dia tidak kamu temukan, maka kita berdua akan berada dalam tahanan. Paham!"


"Aku tidak ada kaitannya dengan kejahatan yang mama lakukan. Kenapa aku harus ikut masuk penjara jika tidak menemukan tante Intan?"

__ADS_1


"Bodoh! Kamu anak aku. Kamu tinggal satu rumah dengan aku. Jika aku masuk penjara, maka kamu juga akan masuk penjara."


"Tapi aku tidak melakukan apa-apa pada tante Intan kan, Ma. Aku sudah katakan pada mama, jangan ganggu dia lagi. Juga jangan jalankan rencana yang macam-macam. Tapi mama gak mau mendengarkan apa yang aku katakan. Sekarang .... "


__ADS_2