
Dicky akhirnya sampai di rumah sang pujaan hati. Saat dia sampai ke sana, langit sudah gelap gulita.
Sambil terus tersenyum, Dicky turun dari mobil. Dengan menenteng sebuah kado di tangannya, dia berjalan penuh dengan rasa kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia? Yang ingin dia temui adalah kekasih yang sangat dia cintai. Dia juga sangat mendambakan bisa hidup bersama dengan sang ke kasih hingga sampai ke hari tua.
Namun, senyum bahagia itu seketika lenyap saat Dicky melihat sebuah mobil hitam yang sedang terparkir indah di samping rumah. Mobil itu membuat hatinya merasa sedikit cemas. Bagaimana tidak? Mobil hitam itu sangat dia kenali dengan cukup baik siapa pemiliknya. Dia tidak mungkin salah mengingat sekarang.
"Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Dicky pada dirinya sendiri.
Dengan hati yang sangat kesal juga cemas, dia semakin mempercepat langkah kakinya menuju rumah. Maklum, rumah penduduk desa itu relatif jauh dari jalan. Harus berjalan cukup jauh baru bisa sampai ke depan pintu rumah.
Dengan langkah besar yang lebih mirip berlari, Dicky akhirnya sampai di depan pintu rumah tersebut. Kebetulan, pintu rumah tidak di tutup oleh pemiliknya. Jadi, dia bisa melihat dengan sangat jelas siapa saja yang ada di ruang tamu yang langsung bisa dilihat dari pintu masuk rumah itu.
Kerongkongan Dicky terasa kering saat mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di ruang tamu sekarang. Bukan hanya itu, napasnya terasa sangat berat sampai dia merasa tidak bisa bernapas lagi.
"Jadi, lamaran kami bapak terima, Pak?" tanya pemuda yang seumuran dengan Dicky dengan senyum manis penuh dengan kemenangan.
"Tora. Kamu apa-apaan sih? Gak sabaran banget deh. Bikin mama sama papa malu aja."
"Biasa itu, Bu. Anak muda, memang selalu ingin cepat. Juga selalu butuh kepastian."
"Nak Tora, tentu saja kami terima dengan senang hati lamaran kalian. Karena kalian sudah berniat baik pada anak kami."
"Tidak! Tora tidak berhak melamar, Nining." Dicky tidak bisa menahan diri lagi. Dia langsung saja berucap dengan nada tinggi sambil menerobos masuk ke dalam rumah.
Suasana jadi mendadak tegang saat kedatangan Dicky yang langsung menerobos masuk. Semua mata beralih menatap Dicky dengan tatapan tajam. Pak Banyu langsung bangun dari duduknya.
"Dasar tidak tahu sopan santun! Tidak anaknya, tidak orang tuanya, sama saja. Sama-sama tidak punya adab!" Pak Banyu mencerna Dicky dengan nada tinggi juga tatapan tajam.
__ADS_1
"Mulia detik ini, jangan pernah kamu datang lagi ke rumah ini. Karena mulai malam ini, Nining anakku sudah menjadi tunangan orang."
"Tidak, pak Banyu. Tidak bisa begitu, pak. Nining adalah kekasih saya. Dia pacar saya, pak. Dia tidak boleh menerima lamaran orang lain. Karena saya .... "
"Kamu apa, hah! Apa!" Pak Banyu langsung memotong perkataan Dicky dengan cepat.
"Pak, sudah. Jangan marah-marah. Ingat penyakit, pak." Ibunya Nining mencoba menenangkan suaminya.
"Bagaimana tidak marah, Bu? Pemuda kota yang terkenal anak orang kaya ini bisa-bisanya merusak lamaran untuk anak kita. Setelah apa yang orang tuanya lakukan pada keluarga kita, ternyata tidak cukup buat dia. Dia masih punya muka untuk datang dan merusak lamaran anak kita lagi."
"Pak, bicarakan baik-baik. Tidak perlu ada kekerasan."
"Tidak bisa, Bu. Tidak bisa."
Sementara ibunya Nining sedang berusaha menenangkan suaminya, Dicky langsung menghampiri Nining yang sedang berdiri sambil menundukkan kepala. Nining tidak bergeming sedikitpun sejak kedatangannya tadi.
Baru saja memanggil nama kekasihnya, Dicky langsung saja ditarik tangan agar menjauhi anaknya oleh pak Banyu.
"Se*tan! Jangan dekati anakku. Apa kamu tu*li, hah! Anakku sudah punya tunangan mulai malam ini. Jadi kamu tidak berhak mendekati dia, paham!"
"Izinkan aku bicara dengan anak bapak, pak. Aku hanya ingin bicara berdua untuk yang terakhir kalinya saja." Dicky berucap tegas. Dengan susah payah dia menguatkan hatinya sekarang.
"Tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan kamu bicara dengan anakku. Walau ini untuk yang terakhir kalinya seumur hidupmu."
"Pak! Cukup! Biarkan dia bicara dengan Nining."
"Ning, bicaralah dengan nak Dicky. Bicarakan semuanya agar dia mengerti. Buat dia paham apa yang telah terjadi," ucap ibunya sambil menyentuh pelan bahu anak gadisnya yang terlihat sangat rapuh.
__ADS_1
Gadis rapuh itu mengangkat wajahnya untuk melihat sang ibu. Ibunya tersenyum, lalu menganggukkan kepala sambil memberi isyarat kalau anaknya harus melakukan hal itu walau berat.
Nining beranjak dari tepat dia berdiri. Lalu berjalan keluar dari pintu yang sedang terbuka. Melihat hal itu, Dicky langsung mengikuti Nining dari belakang.
"Kenapa ibu membiarkan mereka berjalan keluar, hah!" Pak Banyu berucap dengan nada yang sangat kesal.
"Kita harus membiarkan semuanya selesai dengan tenang. Tidak ada kekerasan, juga tidak ada tanda tanya."
Nining berhenti setelah beberapa langkah menjauh dari pintu rumah. Dicky langsung menatap gadis yang terus menunduk walau sudah berada jauh dari orang-orang.
"Ning, kenapa kamu lakukan ini padaku? Kenapa kamu terima lamaran, Tora? Bukankah aku minta kamu sabar menunggu aku sampai lulus sekolah?"
"Cuma satu setengah tahun saja lagi, Ning. Aku akan melamar kamu satu setengah tahun lagi. Kenapa sekarang kamu malah terima lamaran orang lain, Nining?"
"Karena aku tidak sabar untuk menunggu kamu selama itu, Dicky. Satu setengah tahun itu lama bagi aku. Maka dari itu, aku terima lamaran, Tora. Karena aku tidak ingin menunggu lagi. Tora siap menikahi aku walau masih berstatus pelajaran. Dia tidak seperti kamu, yang harus nunggu lulus sekolah baru mau menikah."
"Lagipula, kita tidak cocok. Aku gadis desa yang miskin dengan pendidikan hanya lulusan sekolah menengah. Sedangkan kamu, kamu adalah putra konglomerat yang sangat tersohor dengan pendidikan yang mungkin akan sangat tinggi nantinya. Kita sangat jauh berbeda, bukan?"
"Untuk itu, aku putuskan untuk menerima lamaran Tora. Meskipun dia anak kota. Tapi dia bukan anak konglomerat. Dan yang paling penting, dia bersedia menikahi aku walau masih berstatus pelajar alias siswa."
"Tidak, Nining! Kamu tidak bisa melakukan hal itu padaku. Kamu tidak bisa menerima lamaran Tora. Aku tidak akan membiarkan hal itu."
"Kamu tidak berhak mengatur hidupku, Dicky. Karena mulai dari detik ini, kamu dan aku tidak ada hubungan lagi. Mulai detik ini, aku putuskan hubungan kita. Kita sudah putus sekarang!"
"Tidak! Itu tidak benar."
"Tidak ada yang tidak benar, Dicky. Karena malam ini, aku sangat bahagia. Aku sudah menjadi tunangan orang yang bersedia melamar aku," ucap Nining dengan senyum manis di bibirnya.
__ADS_1