Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#22


__ADS_3

"He--Hero? Barusan ... kamu panggil dia apa?" tanya gadis itu dengan tatapan juga nada tak percaya dengan apa yang telinganya dengar.


"Kamu yang benar saja, Hero! Jangan sampai aku lapor hal ini pada kakak. Jika hal ini kakak dengar, kamu bisa tamat. Karena kamu dengan sengaja membiarkan Dicky berpacaran dengan perempuan lain di luar rumah. Padahal kamu tahu, Dicky sudah punya calon istri saat ini."


"Nona Cindy, nyonya Tias. Maaf, aku tidak bermaksud ikut campur dalam urusan kalian. Tapi .... "


"Tapi apa? Kamu memang benar-benar sudah bosan bekerja dengan keluarga Prasetya, Hero!" Perempuan yang bernama Tias itu malah ngegas dengan wajah yang terlihat benar-benar kesal saat ini.


Dicky tiba-tiba datang menghampiri mereka. Dia memperlihatkan wajah kesal saat melihat Cindy dan mamanya yang sedang berulah.


"Kak Dicky. Kakak .... " Cindy langsung memanggil Dicky dengan suara manja sambil berusaha menyentuh tangan Dicky.


"Ini ada apa sih sebenarnya? Kenapa kalian malah ribut-ribut di tempat umum seperti ini? Apa kalian gak malu sama pengunjung yang lain, hah?" tanya Dicky dengan nada kesal.


"Kak Dicky kok malah marah-marah gitu sih? Di sini, aku adalah korbannya, kak. Aku sengaja ditindas oleh perempuan itu," ucap Cindy tetap dengan nada manja sambil menunjuk ke arah Merlin.


"Aku?" tanya Merlin dengan wajah kesal dan nada tak percaya. Rasanya, ingin sekali dia meremukkan wajah gadis yang ada di hadapannya saat ini, dengan remuk kan yang keras. Agar muka licik yang sedang pura-pura polos itu rusak seketika.


"Sudah cukup! Kalian tidak perlu adu mulut lagi. Aku tidak akan mendengarkan apapun penjelasan kalian di sini."


"Hero, kita pindah mall sekarang juga."


"Baik, tuan muda."


Tanpa berucap kata-kata yang lainnya lagi, Dicky langsung memegang tangan Merlin. Lalu, dia menarik tubuh mungil itu menjauh dari Cindy dan mamanya.


"Kak Dicky! Jangan pergi!"


Cindy berusaha mencegah. Namun, mamanya menahan tangan dan memberikan aba-aba agar Cindy tidak melakukan hal konyol itu lagi.

__ADS_1


"Mama ih ... apa-apaan sih? Lepaskan aku, Ma. Aku gak akan biarkan kak Dicky pergi dengan perempuan itu. Kak Dicky itu tunangan aku. Mana boleh dia pergi dengan perempuan lain."


"Diam, Cindy. Berhenti bersikap manja jika saat bicara sama mama. Biarkan Dicky pergi sekarang. Karena jika kamu kejar, itu akan membuat dia semakin benci dan jijik sama kamu. Paham!"


"Lalu, aku harus biarkan saja dia pergi berduaan dengan perempuan itu? Nggak!"


"Kamu gak punya pilihan. Biarkan saja dia pergi. Karena kita tidak perlu turun tangan sebenarnya."


"Maksud mama apa sih? Bicara itu yang jelas dong, Ma. Jangan bikin hatiku yang kesal ini semakin kesal saja."


"Tidak perlu mama jelaskan. Karena nantinya, kamu akan tahu sendiri apa yang mama katakan. Sekarang, ayo kita pergi ke rumah tante mu. Maka kamu akan tahu apa selanjutnya."


Ibu dan anak itu langsung mengakhiri kegiatan berbelanja mereka. Mereka langsung beranjak meninggalkan mall menuju mansion keluarga Prasetya.


Sementara itu, Dicky yang tadinya menarik Merlin untuk dia ajak pergi, ternyata tidak benar-benar pergi. Mereka masih berada di mall ini dan masih bisa melihat ibu dan anak itu beranjak meninggalkan mall tersebut.


"Mereka sudah pergi. Ayo lanjut lagi belanjanya!"


Dicky tersenyum. Dia melirik Merlin yang sedang melihat ke arah lain.


"Kamu cemburu?" tanya Dicky dengan nada menggoda.


Sontak, pertanyaan itu membuat Merlin langsung menoleh untuk melihat Dicky yang ada di sampingnya. Tatapan matanya melebar dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Ngomong apa kamu barusan? Coba ulangi lagi?"


"Tidak. Aku hanya bercanda. Lupakan saja."


"Ayo belanja lagi!"

__ADS_1


"Tidak usah. Mood belanjaku sudah hilang. Sudah dirusak oleh orang-orang sakit barusan."


"Ya Tuhan ... jika kamu tidak belanja, maka kamu tidak akan punya baju untuk di pakai. Masa iya kamu harus pakai baju aku setiap saat. Yang benar saja."


"Aku juga tidak ingin pakai baju kamu lagi. Andai saja aku punya baju yang lain, maka sudah aku singkirkan milikmu ini dari tubuhku."


"Oh tunggu! Aku baru ingat sesuatu. Katakan padaku! Apa switer ini bukan asli punyamu?"


"Apa yang kamu katakan? Jika bukan punya aku, lalu punya siapa? Punya tetangga? Yang benar saja, Lin. Mana mungkin aku, Dicky Prasetya kekurangan baju sampai harus minjam baju tetangga."


"Aduh, bukan itu maksudku. Lagian, aku gak bilang kamu minjam baju orang."


"Lalu? Kenapa kamu malah menanyakan pertanyaan yang sama sekali tidak masuk akal seperti barusan itu?"


"Aku bertanya, karena gadis manja kamu yang barusan itu sepertinya sangat mengenal switer ini. Aku hanya ingin memastikan, kalau switer ini bukan dari gadis manja mu itu. Atau ... jangan katakan kalau ini memang dia yang memberikannya padamu."


Merlin bicara dengan wajah kesal yang sangat tidak enak untuk dilihat. Anehnya, ekspresi itu malah membuat hati Dicky merasa geli sehingga dia tertawa lepas.


"Ha ha ha .... "


"Ngapain tertawa? Jangan-jangan, ini memang benar baju miliknya lagi."


"Kalau iya, kenapa? Kamu mau ngelakuin apa?" tanya Dicky masih dengan tawanya yang tidak bisa dia tahan.


"Akan, aku lepas sekarang juga. Karena aku tidak suka memakai baju bekas yang ternyata itu juga bukan asli miliknya." Merlin berucap dengan wajah yang sangat serius.


"Merlin-Merlin. Kamu ini kalau mikir itu yang baik-baik dikit kenapa? Apalagi kalau mikir tentang aku, tolonglah yang baik-baik dan masuk akal."


"Kamu tenang saja, tidak perlu melepas baju yang sedang kamu pakai. Baju itu milik aku. Tidak ada yang memberikannya sama sekali. Itu asli punyaku."

__ADS_1


"Lalu kenapa dia begitu mengenali baju ini dengan baik. Kalian pernah ngelakuin apa saja saat kamu memakai baju ini? Maksudku, kenangan yang membekas sehingga dia begitu kenal dengan baju yang aku pakai."


Dicky kembali tertawa. Pertanyaan polos yang Merlin lontarkan mampu mengocok perutnya sehingga tidak bisa menahan tawa walau dia sudah berusaha keras.


__ADS_2