
Seperti yang Dicky katakan sebelumnya, pagi ini, Merlin sudah harus kembali masuk sekolah. Libur satu minggu yang Dicky ambil sudah berlalu. Bahkan, Dicky menambah lagi libur satu setengah minggu buat Merlin kemarin. Libur itu juga sudah selesai.
Merlin sudah siap dengan pakaian sekolahnya pagi-pagi sebelum Dicky bagun dari tidur. Maklum, semangat serta kerinduan akan kembali bersekolah sudah memenuhi hati Merlin sejak kemarin malam. Sehingga, tidurnya pun sedikit terganggu.
Merlin mengetuk pintu kamar Dicky untuk membangunkan Dicky dari tidur nyenyak nya.
Dia harus mengulangi ketukan sampai beberapa kali karena Dicky termasuk orang yang sulit untuk dibangunkan saat pagi hari.
"Dic! Dicky!" Merlin terus mengetuk pintu sambil memanggil nama Dicky.
Usaha itu ternyata tidak mengkhianati hasilnya. Pada akhirnya, Dicky bangun juga walau dengan wajah malas.
"Ada apa sih, Lin? Kenapa kamu ... kamu sudah siap?" tanya Dicky agak kaget setelah melihat Merlin yang sudah rapi dengan seragam yang membalut tubuh.
"Tentu saja aku sudah siap. Aku bangunkan kamu karena aku gak ingin kamu kesiangan berangkat ke sekolah nantinya. Udah ya, aku mau berangkat sekarang," ucap Merlin sambil beranjak ingin meninggalkan tempatnya.
Namun, langkah Merlin tertahan karena Dicky yang memegang tangan Merlin dengan cepat.
"Eh ... mau ke mana?"
"Ada apa sih? Ya mau berangkat ke sekolahlah."
"Apa? Berangkat ke sekolah. Yang benar saja kamu, Merlin. Ini masih pagi tau. Masa iya berangkat ke sekolah sepagi ini."
"Aku rindu dengan suasana sekolah, Dic. Makanya aku ingin berangkat pagi biar bisa menikmati suasana sekolah lebih lama."
"Ada-ada saja kamu, Lin. Ya sudah, tunggu aku. Kita berangkat sama-sama."
"Eh, nggak! Nggak bisa bareng."
"Lho, kenapa? Kitakan satu sekolah?"
"Iya. Kita memang satu sekolah. Tapi ... gak ada yang tahu kita satu rumah. Yang benar saja kamu mau bareng sama aku. Di sekolah, kita gak dekat sama sekali. Nanti apa kata teman-teman jika lihat aku dan kamu berangkat bareng? Bisa bahaya aku di sekolah."
__ADS_1
"Bahaya apanya? Kan bisa bilang kalau aku gak sengaja ketemu sama kamu di jalan. Terus, aku berbaik hati buat ngasi kamu tumpangan."
"Emangnya, para wanita pemuja kamu bisa terima itu, tuan muda? Nggak! Yang ada, aku yang akan mereka musuhi, tau gak."
"Kalau gitu, langsung jujur aja kalau kamu itu istri aku. Kan gampang."
"Gampang apanya, Bambang? Yang ada, aku gak akan punya kelas jika kamu bilang jujur kalau aku ini istri kamu. Bisa mati aku sama semua wanita pemuja kamu itu. Aku curiga, kamu ini sebenarnya ingin ngerjain aku atau apa sih sebenarnya? Udah tahu kamu itu cowok idola seantero jagat raya. Main lupa ingatan segala."
"Siapa yang lupa? Urusan gak akan berlanjut jika kamu berada dalam lindungan aku. Kamu gak akan dapat masalah jika berada di bawah pengawasan aku, Merlin."
"Tidak. Pokonya, tidak. Aku tidak suka jadi bahan omongan orang. Apalagi jadi bahan pelampiasan kekesalan para pemuja kamu. Oh tidak. Bisa stres aku nantinya."
"Ya sudah kalo gitu. Terserah kamu saja. Mana baiknya sajalah. Yang penting kamu senang. Oh ya, berangkat jangan lupa sarapan dulu. Aku gak kasi kamu uang jajan lebih hari ini, bukan?"
"Tidak masalah. Aku juga tidak terbiasa dengan uang jajan yang besar. Biasanya, lebih sedikit dari yang kamu berikan tadi malam padaku."
"Kemarin dengan sekarang beda. Sekarang kamu sudah punya suami. Semua kebutuhan kamu aku yang tanggung. Jadi, jika kamu hidup serba kekurangan, maka yang merasa malu itu aku. Karena aku tidak bisa menghidupi kamu dengan layak."
"Kamu ngomong apa sih, Dic? Jangan banyak drama lagi. Aku berangkat sekarang. Sebaiknya, kamu segera mandi supaya tidak telat berangkat ke sekolahnya."
"Pesan kamu kayak iya aja. Udah, aku berangkat sekarang," ucap Merlin sambil tersenyum, lalu beranjak meninggalkan Dicky yang masih diam di tempatnya.
"Ya." Dicky berucap sambil terus memperhatikan Merlin yang berjalan semakin menjauh darinya.
'Ya Tuhan ... dia cantik juga ternyata. Kenapa aku tidak pernah menyadari keberadaannya waktu itu ya.'
"Ya ampun Dicky. Apa yang ada dalam pikiranmu sekarang sih sebenarnya? Bisa aja mikir yang tidak-tidak," ucap Dicky sambil memukul pelan kepalanya sendiri.
Di sisi lain, tepatnya di mansion keluarga Prasetya, Intan sedang berusaha keluar dari mansion itu untuk menemui Tias. Dia ingin menemui Tias setelah kemarin, Tias diusir paksa oleh para penjaga.
Sementara dirinya sendiri, tidak mendapat izin dari Bagas untuk keluar dari mansion. Entah apa sebabnya, dia sekarang tidak dianggap nyonya lagi oleh para pekerja di kediaman itu. Setiap ucapan yang dia keluarkan, tidak ada artinya bagi semua penghuni kediaman besar nan megah itu.
Intan berusaha menyelinap kabur. Karena dia masih tidak diizinkan keluar tanpa pengawasan oleh suaminya sendiri. Berjalan perlahan melewati pintu utama, lalu kemudian selamat alias lolos sampai gerbang keluar masuk mansion tersebut.
__ADS_1
"Huhf .... " Intan bisa bernapas lega setelah kakinya beranjak meninggalkan mansion itu sejauh beberapa langkah.
"Akhirnya, aku bisa keluar juga dari mansion ini tanpa ada yang mengikuti."
"Huh ... aku kayak maling jemuran yang takut ketahuan saja. Padahal, cuma mau keluar dari rumah sendiri. Jadi bingung dan berasa ingin heran. Tapi, itu kenyataan yang sedang terjadi."
"Ah! Sudahlah. Sebaiknya aku segera menemui Tias. Aku harus ngobrol dengan Tias soal semua ini. Tidak bisa berdiam diri terus-terusan begini. Aku harus segera mengembalikan keadaan kebentuk semula."
Intan langsung memanggil taksi yang kebetulan lewat. Beruntung, taksi itu sedang kosong sehingga dia bisa langsung masuk dan meminta sopir segera mengantarnya ke tempat tujuan.
Hampir tiga puluh menit lamanya, Intan akhirnya sampai ke tempat yang ingin dia tuju. Beruntung, rumah Tias masih ada penghuninya karena Tias dan Cindy masih ada di rumah. Karena biasanya, Tias akan pergi berbelanja bahan pokok harian, sedangkan Cindy berangkat ke sekolah.
"Kakak?" Tias kaget saat melihat ke datangan Intan yang tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Tias. Aku datang ingin bicara dengan kamu." Intan langsung pada pokok permasalahan maksud kedatangannya.
"Mau bicara apa? Ayo silahkan masuk!"
Intan mengikuti langkah Tias masuk ke dalam rumah. Sementara Cindy, dia hanya diam melihat Intan yang datang dengan taksi tidak seperti biasanya.
"Duduk, kak."
"Terima kasih."
"Oh ya, mau bicara apa?"
"Bicara soal perjodohan dan soal kita semua."
"Tunggu! Aku mau tanya satu hal sama kakak. Kakak ke sini pakai taksi?"
"Iya. Aku datang dengan taksi. Kenapa? Ada yang salah."
"Tentu saja ada, kak. Kakak gak pernah datang dengan taksi. Kenapa sekarang kok malah naik taksi sih?"
__ADS_1
"Ceritanya panjang. Nanti aja bahas soal itu."
"Hm .... " Tias melengos tidak enak sambil melihat anaknya.