
Merlin terdiam. Matanya sudah berkaca-kaca sekarang. Tapi, dia berusaha keras agar air tidak tumpah dari matanya.
"Bisakah ... bisakah aku tahu apa alasan kamu mencintai aku, Dicky?"
"Apakah cinta membutuhkan alasan untuk berlabuh di hati seseorang, Merlin? Aku rasa tidak. Karena cinta adalah perasaan yang sangat halus. Dia tidak bisa dipaksakan, juga tidak bisa di cegah. Dia datang tanpa kita sadari dan tidak perlu menunggu sebuah alasan. Karena jika cinta dengan alasan, maka saat apa yang jadi alasan kamu mencintai itu berubah, maka cinta kamu juga akan menghilang."
Buliran bening yang Merlin tahan sebelumnya, kini akhirnya jatuh juga. Dia tidak bisa menahan air mata lagi sekarang. Kata-kata itu benar-benar menyentuh hati Merlin yang paling dalam.
"Lin, aku tahu pertahanan hatimu sangat kuat. Aku tahu kamu juga punya banyak pertimbangan. Tapi, aku siap mendengar apapun keputusan yang kamu berikan. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak akan berjanji untuk menjadi yang terbaik buat kamu. Namun, aku akan berusaha menjadi yang terbaik selamanya. Meskipun semua itu butuh proses juga akan memakan waktu yang panjang."
"Dicky .... "
Merlin masih belum bisa menjawab apa yang Dicky tanyakan. Pernyataan perasaan itu memang membuat Merlin sangat terharu sampai tidak bisa berkata apa-apa selain menyebut nama Dicky saja.
"Dicky. Aku ... aku menerimanya." Merlin berucap sambil menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk Dicky yang masih berlutut.
"Ap--apa? Apa yang kamu ucapkan barusan? Bisakah aku mendengar kata-kata itu sekali lagi, Merlin?"
"Aku menerimanya, Dicky." Merlin bicara dengan suara yang lebih keras.
Suasana haru semakin tercipta. Dicky yang sangat bahagia dengan jawaban itu, lalu membalas pelukan Merlin dengan sangat erat. Mereka berpelukan sambil duduk dengan diiringi suara burung merak yang terdengar sangat berisik namun bisa menenangkan.
"Terima kasih atas jawaban yang sangat membahagiakan ini, Lin. Aku memang bukan laki-laki yang romantis. Tapi, sekuat tenaga aku akan berusaha jadi apapun yang kamu inginkan."
"Tidak perlu jadi apapun buat aku, Dic. Karena selama ini, kamu sudah memberikan yang terbaik buat aku. Kamu hanya perlu jadi Dicky yang selalu ada buat aku, seperti yang kamu lakukan selama ini."
"Kamu tahu, aku berusaha keras untuk jadi yang terbaik. Walau pada akhirnya, aku merasa aku selalu gagal membuat kamu luluh dengan apa yang aku lakukan."
"Siapa bilang kamu gagal? Kamu berhasil. Hanya saja, kamu tidak pernah menyadarinya."
"Itu karena kamu tidak memperlihatkannya padaku. Coba saja kamu perlihatkan padaku kalau kamu luluh dengan apa yang aku lakukan. Mungkin, sudah jadi kemarin kamu jadi istri sah aku."
__ADS_1
"Hei ... apa yang kamu katakan, hm? Bukankah sekarang aku sudah jadi istri sah kamu, tuan muda?"
"Eh ... oh iya, aku lupa. Kita sudah suami istri yang salah. Maksudnya itu, saling mengetahui perasaan masing-masing."
"Mm ... cincinnya masih belum diterima oleh yang punya nih. Kapan yang punya bersedia menerima cincin ini?" Dicky bertanya pada cincin yang ada di tangannya.
Merlin tidak menjawab. Dia hanya memasang wajah merona sambil senyum-senyum kecil saja. Dicky tahu kalau istrinya sedang mempertahankan ego.
"Sini tangannya. Pinjam bentar buat nitip cincin agar orang-orang tahu, kalau jari-jari ini sudah ada yang memiliki."
"Ih, nitip. Bisa aja kamu ya." Merlin berucap sambil mengulur tangannya. Wajah merah merona masih terlihat dengan sangat jelas.
Dicky menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Merlin. Cincin itu terlihat sangat cocok dengan jari mungil Merlin yang lentik.
"Cantik." Merlin berucap sambil melihat cincin yang ada di jari manisnya.
"Tentu saja. Aku belinya dengan cinta kok."
"Kamu gak akan ngerti, istriku sayang. Oh ya, jika ingin cincin yang banyak, nanti akan aku belikan lagi. Kalau kamu ingin dengan tokonya sekalian, kita pilih toko yang mana yang kamu suka. Aku akan belikan."
"Dicky, tolong jangan perlihatkan sosok tuan muda mu itu padaku. Karena aku merasa sangat tidak nyaman. Status kita berbeda soalnya."
"Ya Tuhan, hari gini masih membandingkan status. Kamu masih bobo siang ya, Lin? Jadi masih terbawa dalam suasana mimpi buruk siang mu yang belum usai."
"Aku bicara jujur lho, Dic. Karena status selalu jadi penghalangan buat sebuah hubungan."
"Tapi tidak dengan kamu, bukan? Terlambat jika ingin bahas soal status. Kamu sudah jadi istri aku. Keluargaku juga tidak ada yang mempermasalahkan kedudukan kamu. Jadi, status tidak penting buat kita, bukan?"
"Hm ... iya sih. Kamu benar. Oh ya, ngomong-ngomong, kapan kamu beli cincin ini? Jangan bilang semua telah kamu rencanakan sebelumnya ya, Dic."
"Itu rahasia aku. Kamu tidak perlu tahu soal ini. Yang jelas, kita sekarang susah jadi pasangan suami istri yang sah. Jadi, kamu tidak perlu bicara soal kamu akan pergi dari aku lagi."
__ADS_1
"Perasaan, dari kemarin juga kita sudah jadi pasangan suami istri yang sah."
"Iya aku tahu. Tapi kemarin tidak dengan cinta mengikat pernikahannya. Sedangkan sekarang, dengan cinta."
"Oh ya, apa kamu setuju jika kita mengadakan resepsi pernikahan kita nantinya. Selanjutnya, kita tentukan tempat buat bulan madu."
"Dicky ... jangan macam-macam kamu ya. Kita masih muda, bagaimana .... Ah! Jangan ngomong yang aneh-aneh," ucap Merlin sambil membuang wajahnya ke arah samping.
Merlin berusaha menyembunyikan rasa malu akan wajahnya yang merona akibat membayangkan tentang bulan madu. Dia tidak ingin Dicky menyadari kalau saat ini, dia sedang membayangkan hal yang tidak-tidak saat kata bulan madu dia dengar barusan.
'Ah, sial sekali. Kenapa aku langsung membayangkan hal yang tidak-tidak saat Dicky mengucap kata bulan madu? Merlin-Merlin. Makanya, jangan kebanyakan nonton drama romantis kamu,' kata Merlin dalam hati sambil berusaha menenangkan hati.
Sementara itu, Dicky yang tahu apa yang sedang Merlin pikirkan, dia tersenyum geli. Geli melihat tingkah Merlin yang berusaha menyembunyikan wajah merona dari dirinya.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum begitu, ha? Apa ada yang lucu?" tanya Merlin saat melihat Dicky tersenyum sambil melihat dirinya.
"Tentu saja ada."
"Apa?"
"Kamu."
"Aku? Apa yang lucu dari aku?"
"Banyak. Dan sangking banyaknya, aku tidak bisa menyebutkan satu persatu."
"Aku bukan badut, jadi jangan katakan aku lucu." Merlin berucap dengan wajah cemberut.
"Hei ... hanya badut kah yang bisa lucu?"
"Tau ... gak mau bahas. Mau pulang."
__ADS_1
Kini, untuk pertama kalinya Merlin bersikap sangat manja dihadapan Dicky. Hal itu membuat Dicky tertegun sesaat.