Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#40


__ADS_3

"Kak .... "


"Halo .... "


"Ah, sial!" Tias langsung melempar ponsel itu ke atas sofa. Cindy yang melihat hal itu jadi kaget bukan kepalang.


Dia tatap mamanya dengan perasaan kesal sambil mengecek keadaan benda pipih kesayangannya itu.


"Mama ini gimana sih? Inikan ponsel kesayangan aku. Kenapa main lempar aja? Kalau rusak gimana?"


"Sekarang gak rusak bukan? Kalau pun rusak, kamu pintar-pintar cari muka di depan Intan yang bodoh itu. Minta dia belikan yang baru buat kamu."


"Apa? Mama suruh aku minta pada tante Intan? Gak salah, Ma? Barusan aku dengar, kalian bertengkar hebat. Sampai-sampai, mama lempar ponsel ini gara-gara kesal. Terus, bagaimana caranya mama suruh aku minta barang ke tante bodoh itu?"


"Ah, ini semua gara-gara kamu. Naklukin hati seorang cowok aja gak bisa. Gimana bisa jadi orang kaya kalau buat jatuh cinta satu cowok aja kamu gagal?"


"Lah, kok mama malah nyalahin aku sih, Ma? Mama pikir, buat kak Dicky jatuh cinta itu gampang apa? Kak Dicky itu tipe laki-laki yang sulit buat digoda. Gak gampangan kayak laki-laki pada umumnya tau."


"Kalau emang kamu bisa, dan pintar buat cowok jatuh cinta, kenapa sampai sekarang gak ada yang terpikat sama kamu? Okelah kalau kamu bilang Dicky itu bukan cowok gampangan yang mudah untuk digoda. Lah, cowok kaya lainnya juga gak ada yang suka sama kamu tuh."


"Mama ih ... itu semua karena mama, tau gak? Mama yang minta aku cuma fokus sama satu cowok. Ya aku ikutin apa yang mama katakanlah."


"Ah, pintar aja kamu ngelesnya. Bilang aja kamu gak bisa naklukin hati kaum laki-laki. Malah nyalahin mama yang minta kamu fokus sama satu cowok."


"Oke. Mama lihat saja nanti aku bisa naklukin hati banyak cowok. Tunggu aja mama."


Cindy langsung pergi meninggalkan mamanya. Dengan membawa hati kesal, dia berjalan meninggalkan rumahnya. Sementara itu, Tias hanya diam melihat kepergian sang anak. Hatinya yang kacau, membuat dia melampiaskan kekesalan yang dia miliki pada Cindy yang tidak seharusnya dia beban.


"Ah, biarkan saja dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Aku yakin kalau dia tidak akan macam-macam di luar sana. Lagipula, dia juga harus bisa mendatangkan manfaat buat aku, bukan?"

__ADS_1


Tias tersenyum kecil. Namun, senyum itu mendadak menghilang kala dia ingat akan masalah yang baru saja dia hadapi sekarang.


"Tidak. Aku tidak boleh menaruh harapan besar pada Cindy. Dia tidak terlalu bisa aku andalkan. Buktinya saja, dia tidak berhasil menarik perhatian tuan muda Prasetya walau sudah melakukan segala cara. Ah ... menyebalkan."


Tias yang baru saja menduduki pantatnya ke sofa, langsung menariknya kembali. Dia berjalan munda-mandir di ruang tamu untuk menemukan ide agar bisa tetap menjadi orang kaya.


"Apakah harus? Rencana yang sudah aku buat aku ubah kembali. Jika Cindy tidak mampu menjadi menantu keluarga Prasetya, bagaimana jika Cindy menjadi anak dari keluarga Prasetya?"


Tias tersenyum lebar. "Mungkin ini rencana yang luar biasa. Sepertinya, aku harus mempertimbangkan rencana ini untuk aku ganti dengan rencana sebelumnya."


Di sisi lain, tepatnya di rumah Merlin. Dicky dan Merlin sedang berada di taman belakang rumah saat Bagas datang bertamu. Bibi yang menyambut kedatangan Bagas, segera memanggil Merlin dan Dicky untuk kembali menemui tamu yang datang.


"Siapa, bik?" tanya Merlin penasaran.


"Bibi kurang tahu, non. Bapak itu hanya bilang kalau minta nona dan tuan muda kembali. Karena dia tidak bisa berlama-lama. Gitu katanya."


"Ah, iya-iya. Mungkin papamu, Dic."


"Papa kita."


"Eh .... "


"Aduh, maaf sebelumnya tuan muda, Nona. Sebaiknya jangan berdebat dulu. Temui bapak itu saja langsung sekarang. Kasihan jika nunggu terlalu lama. Mana bapak itu bilang gak bisa lama-lama lagi."


"Iya. Bi Imah ada benarnya juga. Simpan perdebatan ini untuk nanti."


"Aku gak mau berdebat. Ayo jalan!"


Saat mereka tiba di ruang tamu, Bagas sedang duduk bersama Hero. Mereka ngobrol hal serius sepertinya. Namun, obrolan itu terhenti ketika kedatangan Merlin dan Dicky ke ruang tamu tersebut.

__ADS_1


"Papa. Kapan tiba?" tanya Merlin sambil menyambut tangan Bagas untuk dia salami.


"Anak baik. Baru saja tiba." Bagas berucap sambil senyum penuh rasa bahagia.


"Papa kok ke sini? Ada apa?" tanya Dicky sambil duduk di samping Hero.


"Lho, apakah salah papa datang ke rumah anak sendiri? Apakah papa tidak boleh datang jika tidak ada perlu."


"Bukan gitu maksud Dicky, Pa. Papakan orang yang sangat sibuk. Mungkin Dicky merasa, setiap papa datang, hanya karena ada penting saja." Merlin membela Dicky secara tak langsung. Sementara Dicky, hanya diam sambil melirik gadis cantik nan penuh pengertian yang ada disebelahnya saat ini.


"Mm ... alasan kamu bisa papa terima, Merlin. Papa datang bukan karena ada perlu apa-apa. Papa hanya ingin melihat keadaan kalian saja. Papa juga ingin memastikan keadaan Dicky, apa dia begitu betah di sini sampai lupa kalau ini hari senin?"


"Aku gak lupa. Aku memang betah di sini. Aku akan pulang sesuka hatiku ke kediaman keluarga Prasetya. Karena di sini, aku punya rumah sendiri."


"Jika papa datang hanya untuk membahas hal itu, maka aku tidak ingin membahasnya lagi."


"Kamu ngomong apa sih, Dic? Papa bukan datang hanya untuk membahas soal kamu yang tidak pulang. Papa juga tidak berniat ikut campur soal kehidupan pribadi kamu. Bagi papa, mau pulang atau tidaknya kamu, itu adalah hak kamu. Selagi kamu merasa nyaman di sini, ya kamu bebas untuk tinggal di sini. Kamu juga susah bukan laki-laki lajang lagi. Kamu sudah punya istri sekarang. Sudah punya keluarga dan susah pasti punya tanggungan sendiri. Semua keputusan ada di tangan kamu. Tidak perlu kesal pada papa. Karena papa tidak akan ikut campur."


Dicky terdiam setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari papanya barusan. Bagaimana tidak? Ini untuk yang kesekian kalinya sang papa membiarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Karena sebelumnya, dia selalu dituntut untuk melakukan apa yang papanya inginkan. Sehingga dia merasa kesal dan memilih tidak berbaikan dengan sang papa untuk waktu yang cukup lama.


Beberapa waktu lamanya, suasana hening tercipta di antara mereka. Suasana hening itu berakhir setelah Bagas memutuskan untuk meninggalkan kediaman anaknya karena urusan kantor yang banyak.


"Merlin. Papa harus berangkat ke kantor sekarang kayaknya. Kapan-kapan, kamu main ke rumah papa ya. Karena kamu sebagai menantu, belum tahu bagaimana kediaman papa."


"Iy--iya, Pa. Nanti ... aku akan datang. Nunggu waktu yang pas ya."


"Papa tunggu ya, Nak. Oh ya, hampir saja lupa bilang. Papa bawakan kamu makanan ringan sama buah-buahan. Semoga kamu suka dengan buah tangan yang papa bawakan untuk kamu ini ya," ucap Bagas sambil menunjuk kantong besar berwarna merah.


"Wah ... banyak banget. Terima kasih banyak, Pa."

__ADS_1


__ADS_2