Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#73


__ADS_3

Merlin benar-benar terpukau dengan apa yang dia lihat sekarang. Dia merasa, tidak berada di tegah-tengah vila, melainkan, di hutan asli yang ada bangunan villanya.


Merlin diam tanpa beranjak sedikitpun dari tepat dia berdiri sebelumnya. Dicky yang melihat hal itu, harus mundur untuk menyadarkan Merlin agar tidak terus berdiam diri di depan gerbang tersebut.


"Lin, ayo masuk!"


Tidak ada tanggapan. Merlin malah terus terhipnotis dengan bangun indah yang ada di hadapannya saat ini.


"Lin." Dicky memanggil lengkap dengan sentuhan agar Merlin sadar.


"Ha ... iya. Ini indah sekali, Dic. Aku sangat-sangat tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Bangunan ini benar-benar membuat kagum orang yang melihatnya."


"Ya Tuhan ... haruskah kamu terus diam di sini untuk mengangumi apa yang kamu lihat sekarang, hm? Apakah tidak ada niat untuk menikmati apa yang ada di hadapanmu? Bukan hanya sebatas mengangumi saja, Merlin?"


Ucapan itu membuat Merlin mengalihkan pandangannya dari vila ke Dicky. Tapi, itu hanya sesaat saja. Karena setelah itu, Merlin kembali melihat vila yang telah membuat dia tersihir dengan keindahan yang luar biasa.


"Vila ini begitu menakjubkan, Dic. Sangat-sangat luar biasa indah dan menggagumkan."


"Kamu baru melihatnya dari luar, Lin. Tapi, sudah sebegitu kagumnya. Belum juga melihat keseluruhan, mungkin bisa ingin tinggal di sini selamanya. Tapi sayangnya, tidak bisa tinggal di sini," ucap Dicky dengan nada sedih.


Merlin menoleh karena kata-kata itu terdengar sungguh sedih di telinganya.


"Kenapa? Kenapa tidak boleh tinggal di sini? Apa ... apa ini bukan vila keluarga Prasetya?"


"Tidak. Ini memang vila keluarga Prasetya. Jika bukan, aku tidak akan ajak kamu datang ke sini hari ini."


"Lalu? Apa alasan tidak ada yang boleh tinggal di sini? Bukankah ini sangat indah?"


"Karena vila ini adalah vila almarhumah mama. Kata ibu asuh, vila ini adalah mahar yang papa berikan buat mama. Mahar pernikahan papa dan mama. Semua yang ada di vila ini adalah kesukaan mama. Mama sangat suka dengan burung merak, makanya, dekor di sini semuanya merak. Namanya juga vila merak."


"Jadi ... karena itu tidak ada yang boleh tinggal di sini?"


"Mm ... iya. Karena ini mahar buat mama. Pernah mama tiri minta tinggal di sini. Namun, jangankan tinggal, datang ke sini saja tidak papa izinkan lagi."

__ADS_1


"Aku tidak tahu perasaan seperti apa yang papa punya buat mama. Dia tidak mengizinkan siapapun tinggal di sini. Tapi, dia tidak pernah datang ke sini sejak mama pergi."


"Kamu tahu dari mana kalau papa tidak pernah datang ke sini?"


"Tentu saja dari ibu asuh. Juga dari semua pekerja yang terus merawat juga menjaga tempat ini."


"Tapi, siapapun datang ke sini, papa pasti tahu. Tidak ada yang bisa bohong padanya."


"Bagaimana mungkin?"


"Aku kurang tahu. Tapi, setiap sudut ruangan di sini semua ada kamera cctv-nya. Yang anehnya, walau dirusak kan juga, tapi tetap saja, papa tahu kalau ada yang datang."


"Mungkin ada yang tersembunyi yang orang lain tidak tahu selain papa sendiri."


"Mm ... iya barangkali. Apa yang kamu katakan itu masuk akal. Oh ya, untuk apa terus membahas dan diam di sini. Ayo masuk! Kamu akan benar-benar kaget dengan isinya."


Karena penasaran, Merlin tidak membantah lagi. Dia langsung berjalan cepat untuk mengimbangi Dicky meski dengan kaki yang agak pincang.


"Jangan banyak omong. Katanya ingin aku lihat isi dari vila ini, jadi, aku ingin melihat dengan cepat."


"Jika ingin jalan cepat, biar aku gendong saja. Bagaimana?"


"Eh ... tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri."


Perhatian keduanya tiba-tiba teralihkan saat beberapa pelayan datang untuk menyambut kedatangan mereka berdua.


"Selamat datang tuan muda, selamat datang nona muda. Silahkan masuk! Kami sudah siapkan semuanya," ucap salah satu dari lima pelayan yang terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan paruh baya yang ada di depan pintu vila tersebut.


"Menyiapkan semuanya?" tanya Merlin tak mengerti. Merlin lalu melihat Dicky untuk meminta penjelasan.


"Jangan tatap aku seperti itu. Kamu ingin penjelasan atau ingin menikmati suasana vila ini? Ingat, waktu kita tidak banyak. Hari akan semakin siang, lalu memasuki waktu sore. Kapan kamu akan menikmati suasana jika terus menginginkan penjelasan."


'Yang Dicky katakan itu ada benarnya. Jika aku tidak bisa memanfaatkan waktu, maka aku akan rugi,' ucap Merlin dalam hati sambil mengalihkan pandangannya dari Dicky.

__ADS_1


Dicky tersenyum melihat tingkah Merlin yang tiba-tiba jadi penurut tanpa ada kata bantahan terlebih dahulu. Ternyata, rasa kagum dan ingin menikmati semua yang ada di vila ini lebih besar jadi rasa penasaran dan ingin penjelasan yang ada dalam hati Merlin sekarang.


"Ayo masuk! Kita akan lihat isi dalam dari vila ini. Lalu, kita akan jalan ke taman belakang nanti sore."


Mereka beranjak masuk ke dalam. Rasa kagum kembali menghantui Merlin ketika melihat isi dari vila tersebut. Semua yang ada di dalam vila itu benar-benar terlihat luar biasa. Di cat dengan nuansa alami yang serba hijau dan tentunya, ada gambar lukisan buruk merak di setiap dinding vila tersebut.


Belasan menit mereka menelusuri vila indah itu dengan sangat bahagia. Tiba-tiba, salah satu pelayan mendatangi mereka.


"Tuan muda maaf, saya lancang menganggu waktu tuan muda bersama nona. Saya datang hanya ingin mengatakan, makanan sudah siap dihidangkan."


"Baiklah. Terima kasih atas kerja keras dan kerja cepat kalian semua. Sebentar lagi, kami akan makan. Kamu duluan saja."


"Baik, tuan muda. Permisi."


"Hm .... " Dicky berucap sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah pelayan itu pergi, Merlin menatap Dicky. "Kamu minta mereka siapkan makanan? Apa kita tidak merepotkan mereka?"


"Tentu saja tidak. Kenapa kamu malah berpikir kita merepotkan mereka? Bukankah aku ini tuan muda mereka. Memang sudah seharusnya mereka melayani aku dengan baik, bukan?"


"Huh ... bicara dengan tuan muda terlalu menyebalkan."


"Iya-iya, aku tahu apa yang kamu maksudkan sebenarnya. Kita tidak akan merepotkan mereka, Merlin. Tenang saja. Aku sudah menghubungi mereka sebelum datang ke sini. Lagian, kita datang juga sudah siang. Memang harus makan, bukan? Dan poin pentingnya adalah, kamu bilang ingin bicara dengan aku. Ya kita harus bicara sambil makan biar enak."


Merlin terdiam. Setelah sampai ke vila yang indah ini, dia mendadak melupakan tujuan awalnya datang ke sini.


"Kenapa kita harus datang ke vila yang jauh ini hanya untuk bicara sih?" tanya Merlin agak kesal.


"Tentu saja biar lebih nyaman."


"Alasanmu terlalu banyak."


"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah menjadi alasan itu. Ayo makan. Kemudian, istirahat. Nanti sore, aku punya tempat yang lebih istimewa untuk aku perlihatkan padamu."

__ADS_1


__ADS_2