Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#67


__ADS_3

Hatinya sangat ingin bilang, dia ingin mempertahan pernikahan ini karena benih cinta yang mulai tumbuh. Tapi sayangnya, keberanian itu dikalahkan rasa takut akan penolakan Merlin padanya. Dia takut Merlin tidak menerima ungkapan cinta yang dia ucapkan. Karena selama ini, Merlin terkesan sangat berbeda dari semua gadis yang pernah dia temui.


'Nyaman saja tidak cukup untuk dijadikan alasan mempertahan pernikahan, Dicky. Karena kata nyaman, bisa hilang jika adanya masalah yang datang menerpa biduk rumah tangga yang baru saja kita jalani.'


Merlin bicara salam hati sambil terus menatap Dicky. Sementara Dicky, merasa ada yang tidak Merlin ungkapkan sekarang. Sayangnya, dia tidak tahu hal apa itu.


_______


Seperti yang sudah sangat dinanti-nantikan oleh Dicky, malam ini adalah malam pesta ulang tahun Jenny. Sebagaimana pada umumnya, para siswa yang menganggap diri mereka berasal dari keluarga kaya dan terkenal, mereka pasti akan mengadakan pesta ulang tahun di hotel mewah yang lengkap dengan bar yang bisa mereka booking untuk tempat party.


Sebelumnya, Dicky sudah menduga kalau Jenny juga pasti akan mengadakan pesta ulang tahun di hotel. Karena Jenny tidak akan mau kalah dengan siswa yang dianggap populer di sekolah. Hal ini melancarkan rencana yang sudah Dicky susun beberapa hari yang lalu untuk membalas perbuatan Jenny pada mereka. Terutama, pada Merlin.


Dicky dan Tio bertemu di area samping hotel. Dengan pakaian penyamaran lengkap, Dicky datang ke hotel tersebut. Dia sengaja menyamar karena takut ada yang curiga dengan kedatangannya. Soalnya, yang namanya Dicky itu sangat sulit untuk datang ke pesta ulang tahun teman sekelas, kecuali orang yang dia kenal dan punya hubungan dekat dengannya.


"Bagaimana, Tio? Apa semua sudah siap?" tanya Dicky tanpa basa-basi lagi.


"Seperti yang tuan muda inginkan. Semuanya sudah diatur dengan sangat baik. Tinggal nunggu melaksanakannya saja lagi."


"Oh, bagus kalau gitu. Jalankan sesuai rencana. Jangan sampai meleset, apa lagi gagal."


"Tenang saja. Serahkan semua pada Tio. Rencana mu akan berjalan sesuai keinginan. Doakan saja supaya tidak ada halangan yang membuat rencana ini gagal."


"Awas saja kalau gagal. Semua perempuan yang kamu sukai, akan aku buat menjauh dari kamu."


"Ya Tuhan ... ancaman itu sungguh luar biasa, Dic. Yang benar saja kalau ngomong. Bukannya bantuin aku supaya cepat dapat jodoh. Eh, kamu malah sangat kejam padaku."


"Itukan jika rencana mu tidak berhasil, Parjo. Jika rencana mu berhasil, maka aku akan biayai resepsi pernikahan kamu kelak. Seperti apapun maunya kamu, maka aku akan tangung biayanya."


"Boro-boro nikah. Pesta. Resepsi. Calon aja aku gak punya. Jika sudah punya mah, kalo kamu ngomong gitu bikin bahagia. Ini ... malah bikin hati perih."


"Gak mau? Ya sudah. Aku akan tarik ucapan ku yang barusan itu. Tidak akan ada .... "

__ADS_1


"Tidak-tidak. Cukup. Aku tidak ingin kamu bicara lagi. Apalagi kamu berniat menarik kata-kata yang sudah kamu ucapkan barusan. Sekarang, kita sudah dial. Jika aku nikah kelak, resepsi pernikahannya kamu yang tanggung. Tidak ada komplen dengan bagaimanapun pestanya. Setuju?" Tio berucap sambil mengulur tangan pada Dicky.


Dicky segera menyambut uluran tangan itu.


"Aku setuju," ucap Dicky sambil menjabat lekat tangan tersebut.


Akhirnya, pesta ulang tahun dimulai juga. Jenny yang begitu bahagia tak henti-hentinya tersenyum manis sambil menyapa semua teman yang datang. Tidak semua sebenarnya, hanya yang dia anggap penting saja yang dia sapa.


Kebahagiaan Jenny semakin bertambah besar ketika melihat kehadiran Dika di tengah-tengah pesta. Dengan senyum yang semakin merekah, dia berjalan menghampiri Dika yang berada di sudut ruangan bersama temannya.


Namun sayangnya, seorang teman menghalangi langkah Jenny. Dia menahan tangan Jenny, lalu menarik tangan itu untuk menjauh.


"Ayo, Jen! Temani kita minum. Gak asik jika kamu gak ikut minum bareng kita. Inikan pesta ulang tahun kamu."


"Ah, aku tidak bisa. Ada teman yang harus aku sapa sekarang."


"Nanti aja kamu sapa teman itu. Temani kita minum terlebih dahulu. Gak enaklah jika yang ulang tahun gak menemani minum. Rasanya akan hambar, tahu?"


"Jen, akhirnya kamu datang juga. Kok lama banget sih baru muncul? Kitakan sedang happy-happy buat ngerayain ulang tahun kamu.


Jadi, harus ikutan minum yah. Nih .... " Salah satu teman perempuan memberikan segelas minuman ke tangan Jenny.


Jenny tersenyum kecut. Dia tidak ingin berlama-lama di sini. Karena dia ingin menyapa dan mengobrol lama dengan Dika. Dia belum menyapa Dika sama sekali sebelumnya.


"Ee ... maaf ya teman-teman. Aku gak bisa minum. Lagipula, ada teman yang harus aku sapa sekarang. Jadi .... "


"Eh, gak bisa gitu juga dong, Jen. Masa di pesta ulang tahun sendiri gak bisa ajak tamu Happy. Gak asik."


Tidak ingin berdebat terlalu lama dengan teman-teman yang terlihat menyebalkan itu, Jenny akhirnya mengikuti apa yang teman-temannya katakan. Dia pun ikut meneguk air yang teman perempuan itu berikan.


"Cirs .... " Mereka sama-sama mengangkat gelas tinggi untuk bersulang. Lalu, Jenny meminumnya untuk yang kedua kali. Setelah itu, habis.

__ADS_1


"Sudah ya. Aku harus bertemu dengan teman yang belum aku sapa. Kalian lanjutkan saja senang-senangnya. Tidak perlu sungkan karena semuanya sudah aku bayar, alias gratis."


Jenny mulia berucap sesuatu yang tidak seperti biasanya. Dia mulai terlihat seperti dirinya yang asli tanpa ada sandiwara lagi. Tapi sepertinya, kesadaran yang dia miliki masih baik. Dia masih ingat dengan tujuan utamanya. Yaitu, ingin bicara dengan Dika.


Sayangnya, ketika dia ingin mendatangi tempat Dika berdiri sebelumnya, Dika sudah tidak ada di sana lagi. Melihat hal itu, hati Jenny di penuhi dengan amarah. Ingin rasanya dia memarahi semua yang ada di pesta malam ini. Tapi untungnya, dia masih sadar dan ingat akan dunia sekeliling.


"Sial! Di mana Dika sekarang?" Jenny bergumam kesal setelah matanya menelusuri setiap sudut tempat tersebut, namun tidak ia temui keberadaan Dika di manapun di tempat itu.


Tiba-tiba, seorang perempuan datang menghampiri Jenny. Perempuan itu menggunakan seragam pelayan.


"Maaf, nona. Apa nona ini Jenny?" tanya pelayan itu dengan sopan.


"Ya. Aku Jenny. Ada apa?"


"Saya datang membawa pesan dari seorang pemuda, nona. Dia minta nona Jenny datang ke kamar dua ratus delapan sendirian. Ada kejutan yang sudah pemuda itu siapkan buat nona."


"Apa? Seorang pemuda ingin memberikan aku kejutan? Siapa dia?"


"Dia tidak ingin di sebutkan namanya pada nona Jenny. Hanya saja, dia minta saya katakan, inisial huruf depan dari namanya saja."


"Cepat katakan! Apa huruf depannya."


"D nona."


"D?"


"Iya, nona Jenny. D."


"Tunggu! D itu ... apa jangan-jangan Dika ya? Hm ... aku yakin itu pasti dia. Karena dia tidak ada di tempat ini sekarang."


"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang juga. Terima kasih atas pesannya."

__ADS_1


__ADS_2