
Merlin tahu kalau jawaban yang bi Imah ucapkan barusan bukan murni dari hati. Karena yang dia tahu, bibi itu sangat ingin ikut ke mana dia pergi.
Merlin menoleh ke arah papanya. Dengan tatapan tajam, dia tatap laki-laki yang bergelar papa itu.
"Kalian telah membuat bi Imah takut. Kalian mengancamnya sehingga dia tidak ingin ikut bersamaku. Aku akan laporkan kalian pada polisi atas tuduhan penindasan. Kalian akan berurusan dengan polisi malam ini juga."
"Kamu ngomong apa sih? Siapa yang ngancam dia, hah! Kurang kerjaan banget kami ngancem pembantu seperti dia," ucap Mita dengan nada dan wajah ketakutan.
"Aku tidak mau tau. Jika aku tidak berhasil membawa bi Imah ikut bersamaku. Maka kalian tunggu saja kedatangan polisi ke rumah ini. Kalian akan di selidiki atas laporan yang aku buat. Karena yang melapor bukan orang rendahan, melainkan, keluarga terpandang."
"Pa!" Mita langsung memanggil Bondan yang sedari tadi hanya diam tanpa kata.
"Biarkan saja pembantu itu pergi. Kita akan cari pembantu yang lainnya. Aku tidak suka ribut hanya karena masalah pembantu," ucap Bondan tegas.
"Imah. Kamu boleh pergi. Bawa semua barang-barang mu dari rumah ini. Jangan ada yang tertinggal satupun. Karena setelah kamu keluar, maka tidak akan ada kata masuk lagi."
"Be--benarkah, tuan?" tanya bi Imah dengan wajah cerah penuh kebahagiaan.
"Tentu saja. Apa pentingnya pembantu. Aku bisa cari yang lebih baik dari kamu untuk bekerja di rumah ini."
"Terima kasih, tuan. Terima kasih banyak," ucap Imah dengan suara penuh rasa bahagia.
"Cepat berkemas atau aku akan berubah pikiran."
"Baik, tuan. Baik."
"Nona, tunggu sebentar. Bibi akan berkemas sekarang juga."
"Ya, bik. Aku tunggu di sini."
Kurang dari sepuluh menit kemudian, Merlin akhirnya meninggalkan rumah itu. Tentunya dengan bi Imah yang ikut bersama dia.
"Nona ... aku ingin katakan satu hal pada nona sekarang," ucap Hero di sela-sela bunyi suara mesin mobil yang hanya terdengar di antara mereka.
__ADS_1
"Apa?" tanya Merlin dengan nada sangat penasaran.
"Nona hebat. Sangat hebat. Nona mampu mengatasi kekerasan mereka dengan mudah."
"He ... tidak hebat, Hero. Hanya aku tahu sedikit kelemahan keluargaku. Mereka sangat takut dengan polisi. Mereka adalah tipe orang yang sepertinya ... yah, bisa dibilang sedikit taat pada aturan. Aku hanya memanfaatkan kelemahan itu. Karena kelemahan itu sesuai pada tempatnya saja."
"Tapi ... aku merasa sangat berdosa karena telah melawan orang tuaku. Aku merasa jadi anak durhaka sekarang." Merlin berucap dengan nada sedih.
"Tidak, nona. Nona bukan anak durhaka. Karena yang nona lawan itu orang tua kejam seperti tuan Bondan." Bi Imah kini angkat bicara.
"Bibi benar, nona muda. Nona tidak bisa dikatakan anak durhaka, karena orang tua nona sangat kejam dan sama sekali tidak mirip dengan orang tua pada umumnya."
Merlin menarik sedikit sudut bibirnya untuk mengukir senyum kecil.
"Kalian bisa saja."
Perjalanan terus berlanjut dengan suasana hening kembali. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang hingga sampai di depan rumah mewah dua lantai milik Merlin.
"Iya, bik. Ini rumahnya. Bukan rumah aku sih sebenarnya. Hanya rumah pinjaman saja."
"Nona bisa aja. Rumah pinjaman apanya? Jika ini rumah suami nona, berarti, ini juga rumah nona. Benar begitu bukan, mas Hero?"
"Benar."
"Ah, kalian berdua selalu saja. Ya sudahlah, ayo kita masuk langsung saja."
Mereka langsung masuk ke dalam rumah. Hero yang awalnya menolak, kini juga ikut serta bersama Merlin juga bi Imah masuk ke dalam. Sedangkan di sisi lain, tepatnya di klab malam yang Dicky datangi, pak sopir sedang kewalahan untuk menghentikan aksi minum Dicky yang sudah terlewat batas.
Dicky sudah terlalu banyak memasukkan alkohol itu ke dalam perutnya. Dia juga sudah mabuk berat sekarang. Namun, sayangnya, dia tidak ingin beranjak dari klab malam tersebut. Dia bahkan terus menambah porsi alkohol yang dia minum.
"Ya Tuhan ... bagaimana ini? Jika tuan muda tidak aku bawa pulang, maka kesehatannya akan terganggu karena alkohol ini. Tapi, aku tidak cukup kuat untuk memaksa tuan muda meninggalkan bar ini."
Di tengah dilema akut yang pak sopir alami, ingatannya tiba-tiba kembali normal. Dia mengingat Hero dengan sangat baik.
__ADS_1
"Ya, aku harus menghubungi asisten tuan muda. Aku yakin, mas Hero bisa membawa tuan muda pulang ke rumah."
Dengan cepat, pak sopir itu menghubungi Hero. Untung saja, Hero sedang memainkan benda pipih itu saat pak sopir sedang menelpon. Jadinya, tidak menunggu waktu lama, panggilan itu langsung terhubung.
"Halo."
"Halo, mas Hero. Tuan muda sedang berada di klab malam saat ini. Tuan muda mabuk berat. Saya tidak mampu memaksa tuan muda pulang. Tolong saya, mas Hero."
"Apa? Tuan muda mabuk berat di klab malam? Kok bisa sih? Bukannya kalian berada di desa ya?"
"Ceritanya panjang, Mas Hero. Saya tidak bisa menceritakannya sekarang."
"Baiklah. Katakan padaku di mana klab malamnya. Aku akan ke sana sekarang juga."
Sopir itu langsung mengatakan nama klab malam tempat di mana mereka berada. Tanpa menunggu lama lagi, Hero bergegas berangkat menuju klab malam tersebut. Tentunya, setelah pamit pada bi Imah sebelumnya.
Saat Merlin keluar dari kamar setelah mandi, dia mencari keberadaan Hero.
"Di mana Hero, bi? Apa dia sudah keluar?"
"Iya, nona. Mas Hero baru aja keluar tadi. Dia bilang, dia ada urusan mendadak."
"Urusan mendadak? Urusan apa ya?"
"Tidak tahu, nona. Mas Hero cuma bilang gitu saat pamit dengan bibi sebelum berangkat. Tapi ... bibi tadi gak sengaja dengar percakapan mas Hero dengan seseorang lewat ponsel. Dia menyebutkan kata mabuk. Oh, iya. Tuan muda kok bisa mabuk. Gitu deh kalo gak salah."
"Apa? Dicky mabuk?" Merlin terlihat sangat kaget. "Kok bisa dia mabuk?"
"Dicky? Siapa dia, nona?"
"Dia ... ah, dia itu ... su--suamiku, bik." Merlin terlihat serba salah. Tidak dijelaskan, tapi kasihan dan merasa punya tanggung jawab karena telah membuat penasaran bik Imah. Namum, ketika dijelaskan, dia yang merasa geli dengan kara-kata yang ia ucapkan.
"Oh ... suaminya toh." Bi Imah berucap dengan senyum manis menggoda Merlin. Merlin hanya membalas godaan itu dengan senyum kecil saja.
__ADS_1