Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#13


__ADS_3

Merlin berucap dengan nada kesal karena saat ini, dia benar-benar sedang merasakan emosi yang kuat. Sepertinya, darah yang ada dalam tubuh Merlin saat ini benar-benar mendidih.


Jika saja dia tidak merasa punya hutang pada Dicky dan keluarganya, mungkin malam ini juga, dia akan pergi menjauh dari pemuda yang ada di hadapannya saat ini. Bukan hanya menjauh, kenal saja dia tidak ingin rasanya.


Merlin langsung masuk ke dalam setelah bicara panjang lebar dengan nada kesal barusan. Dia tutup pintu kamar apartemen itu dengan kuat sehingga Dicky yang ada di depan pintu terlonjak kaget.


"Lho, kenapa dia yang kesal? Padahal, aku berucap kenyataan barusan," ucap Dicky kebingungan sambil terus melihat pintu kamar tersebut.


"Dasar perempuan aneh," ucap Dicky lagi sambil beranjak. Dia memilih meninggalkan apartemen sekarang juga.


Sementara itu, Merlin masih terdiam di depan pintu dengan menyandarkan tubuhnya ke daun pintu. Ia memikirkan semua yang telah terjadi jadi dalam hidupnya. Semua yang telah ia lalui selama dia hidup. Semua itu membuat hatinya merasa sangat lelah.


Merlin menjatuhkan dirinya kelantai. Duduk di atas lantai yang sejuk, namun tidak mampu membuat hatinya merasa sejuk sama sekali. Yang ada, dia merasa semakin panas saat ini.


Ingin menangis, namun air matanya rasanya sudah tidak ada lagi. Yang bisa Merlin lakukan sekarang hanyalah, duduk diam sambil terus melamun.


___


Merlin tersadar ketika mendengar suara ketukan sayup-sayup dari pintu apartemen yang sekarang sudah menjadi rumah barunya. Dengan malas, dia membuka mata yang terasa masih sangat berat akibat rasa kantung yang belum kunjung hilang.


Entah sejak kapan dia bisa terlelap tadi malam, dia juga tidak tahu. Yang jelas, dia tertidur tanpa alas sedikitpun. Dia tidur di depan pintu apartemen semalaman.


Ketukan semakin kuat, membuat Merlin terpaksa bangun untuk segera membuka pintu.


"Tunggu sebentar!" ucap Merlin sambil memaksakan diri bangun dari baringnya.


Ketika daun pintu terbuka, Merlin bisa melihat Hero berdiri tegak dihadapannya sambil membawa kantong plastik berwarna hitam. Merlin menatapnya untuk beberapa saat sampai Hero mengeluarkan suara.


"Maaf mengganggu, nona muda. Saya datang ke sini karena perintah tuan muda."


"Apa lagi yang dia mau dari aku?" tanya Merlin dengan suara kesal. Tanpa berpikir, apa yang dia ucapkan mungkin akan menimbulkan pertanyaan buat Hero.


Untuk sesaat, Hero terdiam. Mencoba menebak apa yang sedang terjadi dengan nona dan tuan mudanya sekarang.

__ADS_1


"Maksud nona?"


"Tidak ada. Dia mau aku melakukan apa lagi sekarang?" tanya Merlin mengulangi pertanyaan yang sebelumnya.


"Tuan muda tidak ingin nona melakukan apa-apa. Hanya minta saya datang untuk mengantarkan sarapan buat nona. Ini sarapannya," ucap Hero sambil mengangkat kantong yang ada di tangannya sekarang.


"Katakan padanya, terima kasih." Merlin berucap sambil menerima kantong yang Hero berikan.


Sebenarnya, dia malas untuk menerima apa yang Dicky berikan. Tapi sayangnya, keadaan tidak memungkin untuk menolak sarapan itu. Karena saat ini, perut tidak sedang bersahabat.


"Baik, nona muda. Akan saya sampaikan nanti pada tuan muda. Sekarang, saya permisi. Jika ada perlu yang lain, nona bisa hubungi saya dari nomor yang saya tulis di atas kertas dalam kantong itu."


"Permisi, nona."


Hero langsung memutar tubuh untuk meninggalkan Merlin. Namun, karena Merlin ingat akan sesuatu, dia dengan cepat menahan langkah Hero agar tidak pergi sekarang.


"Hero tunggu!"


"Ya, nona muda. Ada apa?"


"Nona muda mau ke mana? Jika sudah dapat izin dari tuan muda, maka saya akan mengantarkan nona ke mana yang nona inginkan."


"Tidak perlu izin dari Dicky. Karena aku yakin, dia juga tidak akan peduli dengan aku nantinya. Ke manapun aku pergi, selagi tidak mengganggu dia, maka dia pasti tidak akan mempermasalahkannya."


"Tapi nona ... saya tidak berani mengantarkan nona muda pergi jika tidak ada izin dari tuan muda. Saya takut, tuan muda marah nantinya."


"Sudah aku katakan, dia tidak akan marah, Hero. Aku yakin."


"Tapi nona .... "


"Ya sudah. Terserah padamu. Jika ingin menghubungi dia, maka hubungi saja. Tanya padanya, mengizinkan aku pergi atau tidak."


"Baiklah, nona."

__ADS_1


Dengan kata-kata itu, Hero langsung menghubungi Dicky sekarang juga.


"Halo, tuan muda."


"Iya. Ada apa?" tanya Dicky yang suaranya terdengar dengan sangat oleh Merlin. Karena Hero menggunakan pengeras suara ketika menghubungi Dicky saat ini.


"Maaf sebelumnya, tuan muda. Saya menghubungi tuan muda hanya ingin mengatakan, nona muda ingin saya mengantarkannya ke suatu tempat. Apakah tuan muda mengizinkan nona pergi?"


"Terserah padanya saja. Asal dia tidak berulah, kamu bisa mengantarkan dia ke manapun yang ia inginkan."


"Baiklah, tuan muda." Panggilan itu langsung berakhir.


"Sudah aku katakan padamu sebelumnya, dia tidak akan mempermasalahkan keberadaan ku."


"Maaf, nona. Bukan saya tidak ingin mendengarkan perkataan nona. Hanya saja, saya memang butuh izin dari tuan muda jika ingin melakukan apapun yang berkaitan dengan tuan muda."


"Terserah padamu saja. Ya sudah, tunggu aku siap-siap sebentar."


"Baik, nona."


Hero menunggu di bawah, sementara Merlin langsung bergegas melakukan persiapan dengan cepat. Namun, setelah selesai mandi, dia bingung mau ganti pakaian karena tidak membawa baju. Mau beli juga tidak mungkin. Karena sekarang, dia memang tidak punya uang sama sekali.


Merlin terdiam untuk beberapa saat sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang. Matanya tertuju pada lemari besar yang ada di hadapannya saat ini. Meski dia tahu, tidak ada kemungkinan terbaik saat ia membuka lemari itu. Tapi, dia tetap mencobanya.


Benar saja apa yang ia pikirkan sebelumnya. Tidak ada baju yang bisa dia pakai dari dalam lemari itu, karena lemari itu, isinya semua baju milik Dicky.


"Bagaimana ini? Tidak mungkin jika aku memakai baju milik Dicky. Ah ... yang benar saja."


Namun, ketika Merlin memutuskan untuk menutup lemari itu, tangannya tak sengaja menyenggol kotak berwarna kecokelatan. Karena tersenggol cukup keras, kotak itu jatuh ke lantai dan mengeluarkan isinya.


Merlin melihat isi dari kotak itu, lalu mengeluarkannya. Itu adalah sebuah dress. Dress sederhana berwana hijau tua yang sangat indah.


"Pakaian wanita? Untuk siapa ini ya? Bagaimana jika aku meminjamnya sebentar sampai pakaianku yang basah kering?" tanya Merlin pada dirinya sendiri sambil mengangkat dress itu.

__ADS_1


"Tunggu! Bagaimana jika ini dress pacar Dicky? Atau jangan-jangan, ini dress gadis yang dijodohkan dengan Dicky lagi."


"Ah, bodoh amatlah. Aku pinjam sebentar aja. Nanti akan aku kembalikan pada tempatnya setelah pakaianku kering. Mending pakai dress ini dari pada pakai baju Dicky kan?"


__ADS_2