Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#79


__ADS_3

Sempat-sempatnya adu mulut saat baru saja mau mulai belajar. Untung saja, guru itu paham akan bahasa lokal, karena dia memang asli orang lokal yang terkenal di luar negeri. Guru itulah yang akhirnya menjadi penengah saat adu mulut manja berlangsung.


Tiba-tiba, lamunan akan waktu pertama kali belajar bersama terhenti karena kedatangan seorang kurir. Kurir itu berjalan mendekat sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Permisi, dek. Apa ini benar rumah tuan muda Dicky Prasetya?"


"Iya, ini memang rumahnya. Ada apa ya, Mas?"


"Ini, saya ingin mengantarkan amanah dari seseorang buat tuan muda. Sebenarnya, tadi saya sudah datang ke mansion, cuman ... nyonya pemilik mansion itu bilang, orang yang saya cari tidak tinggal di mansion itu lagi. Dia mengatakan alamat ini untuk saya datangi. Maaf, saya hanya ingin memastikan, kalau ini benar-benar rumah tuan muda, Dicky kan?"


"Iya, Mas. Ini memang rumah tuan muda, Dicky Prasetya. Kan saya udah bilang tadi, kalau ini memang benar rumahnya."


"Maaf, adek. Bukan bermaksud buat adek kesal, saya hanya ingin memastikan kalau alamat yang saya tuju benar. Soalnya, amanah dari seseorang ini minta saya kasihkan undangan ini langsung pada tuan muda Dicky."


"Undangan? Undangan apa?"


"Saya kurang tahu. Saya hanya diminta menjalankan amanah mengantar dengan baik sampai ke tangan orang yang di maksud."


"Oh ... tapi sayangnya, orang yang Mas cari saat ini tidak ada di rumah. Dia sedang berada di luar untuk urusan pekerjaan."


"Kalau boleh tahu, kapan pulangnya ya, Dek?"


"Maaf, Mas. Saya gak tahu kapan suami saya akan pulang. Soalnya, dia gak bilang tuh sama saya mau pulang kapan."


"Su--suami? Adek istrinya tuan muda?"


"Iya. Saya istrinya. Jika mas mau nunggu, silahkan nunggu di kursi ini. Maaf, gak bisa ajak masuk ke dalam karena gak ada suami saya. Tapi, jika mas gak keberatan buat ngasih ke saya, maka saya akan terima dan sampaikan pada suami saya. Terserah mau pilih yang mana."


Mas kurir itu terdiam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu saat ini. Tapi, itu tidak lama, karena mas kurir itu langsung memilih duduk untuk menanti kedatangan Dicky.

__ADS_1


"Saya nunggu aja, Dek. Gak papakan kalau saya duduk di sini?"


"Gak papa. Jika ingin nunggu, ya silahkan. Saya masuk dulu," ucap Merlin agar kesal.


Merlin pun langsung masuk ke dalam rumah dengan membawa hati penasaran. Dia begitu penasaran dengan apa yang kurir itu bawa untuk Dicky. Karena kurir itu benar-benar bersikeras untuk menunggu Dicky hanya untuk menyerahkan undangan yang dia bawa.


"Apakah begitu penting undangan yang dia bawa itu? Sampai-sampai harus menunggu Dicky pulang segala. Gak mikir apa, aku inikan istrinya Dicky. Kasi aku saja, maka juga akan aku kasikan pada Dicky kok. Ih ... bikin kesal aja tuh kurir. Bisa-bisanya dia bikin aku penasaran," ucap Merlin menggerutu sendiri sambil mendudukkan bokongnya di atas sofa ruang tamu.


Kebetulan yang entah dari mana. Dicky pulang tanpa menunggu Merlin menghubunginya terlebih dahulu.


Tahu kalau Dicky sudah berada di depan pintu, Merlin segera keluar untuk menyambut. Bukan menyambut Dicky yang paling ingin Merlin lakukan, melainkan, ingin tahu seperti apa paket yang kurir itu berikan pada Dicky.


"Saya permisi dulu, tuan muda. Selamat siang," ucap kurir itu dengan sopan. Kemudian, dia beranjak meninggalkan tempatnya.


"Kak. Udah pulang? Mm ... paket apa itu yang ada di tangan kakak?"


"Gak tau. Katanya, undangan dari seseorang buat aku."


"Mau tau isinya? Nih, lihat aja sendiri. Biar sayangku gak nyimpan rasa penasaran lagi," ucap Dicky sambil menyerahkan apa yang dia pegang dengan senyum manis di bibirnya buat Merlin.


"Mm ... terima kasih banyak, kakak tampan. Aku bukan sekarang ya."


"Ih, kalo dapat aja apa yang dia inginkan. Ucapan, senyuman, wajah, manis ... banget bak madu. Coba gak dapat, uh ... perih lihat wajahnya. Dasar kamu .... " Dicky bicara sambil tangannya mengacak-acak rambut Merlin dengan penuh kasih sayang.


"Hei ... jangan lakukan itu jika tidak ingin lihat singa ngamuk."


"Ya Tuhan ... bentar aja ngubah suasana manja jadi galak. Merlin-Merlin. Ayo masuk! Buka di dalam saja."


"Gak ah. Udah gak sabar mau buka di sini aja. Masuk duluan saja, nanti aku nyusul."

__ADS_1


"Ya sudah, jangan lama-lama."


"Iya."


Dicky beranjak masuk ke dalam. Sementara Merlin, tangannya lincah menyobek kertas yang menjadi pembalut paket yang diyakini sebagai undangan tersebut.


"Undangan resepsi pertunangan Tora dan Nining?"


Sontak, kata-kata itu mampu membuat langkah Dicky terhenti seketika. Dia yang awalnya berjalan santai untuk masuk ke dalam rumah, tiba-tiba mematung di tempat dia berdiri sebelumnya.


"Aku pikir ada apa-apa dengan undangan ini, taunya biasa aja. Kayak undangan pertunangan pada umumnya. Tapi ... Tora dan Nining. Siapa mereka, kak?"


Belum sempat Dicky mengangkat bibir buat bicara. Suara Merlin kembali membuat Dicky tutup mulut.


"Ada surat juga ternyata di dalam sini. Mm ... cuba aku lihat, ada pesan apa ya?"


Mendengar kata-kata itu, Dicky segera menghampiri Merlin secepat yang dia bisa.


"Jangan! Jangan baca suratnya!"


Sontak. Teriakan itu membuat Merlin jadi kaget. Dia pun tiba-tiba terpaku dengan sikap Dicky barusan.


"Jangan? Kenapa? Apa ada hal penting yang tidak boleh aku tahu? Tenang saja, jika gak ingin aku baca, maka aku gak akan baca. Tapi kamu gak perlu teriak-teriak seperti barusan itu. Kita tidak berada di tengah hutan. Kita sedang berada di dalam rumah. Kamu bicara kecil saja aku bisa dengar. Karena aku tidak tuli. Pendengaran ini masih berfungsi dengan baik."


Merlin bicara panjang lebar dengan nada kesal. Dicky menyadari kesalahan yang telah dia lakukan. Dia tahu, hati Merlin itu terlalu tipis dan sangat rentan. Sedikit saja dia salah bicara, maka akibatnya akan seperti saat ini. Merlin mendadak memasang wajah cemberut yang tiada ampun lagi.


"Sayang, maaf. Aku tidak bermaksud bicara dengan nada tinggi barusan. Aku hanya ... hanya tidak ingin kamu membaca pesan itu. Karena .... "


"Karena apa? He ... tidak perlu di jelaskan lagi. Aku gak tertarik untuk tahu lagi sekarang. Lagian, gak penting juga buat aku."

__ADS_1


Merlin ingin beranjak meninggalkan Dicky, namun, Dicky segera menahan tangan Merlin dengan cepat. Dia lalu menarik tangan itu untuk membawa tubuh Merlin ke dalam pelukannya.


"Jangan marah. Aku akan jelaskan semuanya." Dicky berucap di telinga Merlin dengan nada lembut dan suara pelan.


__ADS_2