Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#81


__ADS_3

Merlin langsung memukul Dicky dengan bantal sofa yang ada di sampingnya. Dicky berusaha melindungi diri. Namun, bukan dengan cara menghindar melainkan dengan memeluk tubuh Merlin.


"Ampun, sayang. Gak niat buat kamu kesal kok. Cuma .... " Dicky menggantungkan kalimatnya. Membuat Merlin merasa penasaran, sekaligus semakin kesal.


"Cuman apa? Cuman ingin ngerjain aku lagi? Iya?"


"Nggak kok. Nggak."


"Lalu .... "


"Nggak .... " Dicky langsung memberikan gelitikan manja di bagian pinggang Merlin. Membuat Merlin berteriak karena geli sambil disertai tawa terbahak-bahak.


Keduanya memang terlihat sangat dekat sekarang. Jarak diantara mereka seakan sudah tidak terlihat lagi.


Usai bercanda, keduanya duduk sambil menyandarkan tubuh di sandaran sofa.


"Kak, jadi kamu ingin datang atau tidak ke pesta pertunangan itu?" tanya Merlin sambil melirik Dicky.


"Tidak."


"Lho, kenapa?" Merlin langsung bangun untuk menatap Dicky dengan tatapan meminta penjelasan.


"Tidak ada gunanya aku datang. Lagian, acara tidak penting. Buat apa datang jika hanya untuk menciptakan keresahan antara aku dan Tora lagi dan lagi."


"Takut menciptakan keresahan untuk kamu dengan Tora, atau ... dengan Nining?"


"Apa maksudnya itu?" Dicky ikut bangun dari sandarannya.


"Tidak ada maksud. Hanya bicara asal-asal saja. Tapi ... kalau dipikir-pikir, jika kamu tidak datang, maka Tora akan berpikir kalau kamu benar-benar masih punya rasa pada Nining. Iya atau nggak sih?"

__ADS_1


"Mm ... sebenarnya, Tora yang mikir, atau nyonya muda Prasetya yang mikir sih?" Dicky berucap dengan nada menggoda.


"Sama aja tuh. Yang jelas, semua juga pasti mikir yang sama dengan yang aku katakan. Kalau gak datang di acara pertunangan mantan, itu tandanya tidak bisa melepaskan mantan alias gak bisa move on. Dan kamu terlihat seperti laki-laki yang tidak bisa melepaskan mantannya bersama dengan orang lain."


Mendengar ucapan itu, Dicky terdiam sesaat. Dia tidak langsung menjawab, hanya memberikan Merlin tatapan. Sebuah tatapan yang Merlin tidak ketahui apa maksudnya.


"Aku gak mau datang bukan karena gak bisa move on, Lin. Tapi aku takut mempertemukan kamu pada Tora. Aku gak ingin Tora merusak hubungan kita. Aku sudah ceritakan padamu bukan tadi soal Tora? Harusnya kamu mengerti akan ketakutan yang ada dalam hatiku." Setelah berucap dengan suara kecil, Dicky lalu beranjak meninggalkan Merlin tanpa menunggu Merlin menjawab apa yang dia katakan.


Merlin terdiam sambil melihat kepergian Dicky.


'Segitu takutnya kah kamu akan kehilangan aku, Dic? Apakah kamu benar-benar berucap dari hatimu yang paling dalam? Jika benar, aku tidak akan pernah membiarkan kamu kehilangan aku bagaimanapun caranya,' kata Merlin dalam hati.


Merlin terdiam beberapa saat lamanya. Setelah mempertimbangkan semua yang telah dia pikirkan, dia beranjak meninggalkan ruang tamu menuju kamar. Yah, kamar mereka berdua. Mereka sudah tinggal di satu kamar yang sama sejak pulang dari vila kemarin.


Merlin tidak mengetuk pintu lagi saat ingin masuk. Dia langsung menerobos masuk tanpa kata ke dalam kamar tersebut. Saat dia masuk, dia melihat Dicky yang sedang duduk di sisi ranjang. Merlin berjalan mendekat meski dengan perasaan sedikit ragu.


"Mm ... kak. Aku ... minta maaf atas kata-kata yang aku ucapkan tadi. Aku tahu aku sedikit keterlaluan bicara padamu tadi. Tolong jangan marah ya."


"Mm ... sebenarnya, ada dua hal penting yang ingin aku katakan padamu saat pulang tadi. Tapi, semuanya jadi terlupakan gara-gara undangan tidak penting ini."


"Dua hal? Kakak mau bicara soal apa padaku? Katakan saja! Aku akan dengarkan."


"Ini soal keluargamu. Maksudku ... bisa dikatakan, mantan keluarga karena mereka sudah tidak mengganggap kamu sebagai keluarga lagi. Aku punya berita tentang Jenny. Menurut hasil pengawasan anak buah ku, dia sedang sangat terpukul akibat kejadian itu. Tidak bicara, atau bahkan tidak mau makan. Itu yang pertama, sedangkan yang kedua, aku punya hasil penyelidikan tentang penyebab kematian mamamu."


"Apa? Katakan padaku apa hasilnya."


"Lin, mama meninggal bukan karena jatuh dari tangga. Tapi karena keracunan."


Mendengar hal itu, Merlin kaget bukan kepalang. Dia membelalak tak percaya dengan apa yang Dicky katakan barusan.

__ADS_1


"Jatuh dari tangga hanya sebuah alasan untuk menutupi sebuah kejanggalan saja, Lin."


"Ti--tidak mungkin. Tidak mungkin hal itu terjadi pada mama. Aku tidak percaya." Merlin berucap sambil menahan air mata agar tidak jatuh. Tubuhnya juga mulai melemah.


"Siapa ... siapa yang melakukan itu pada mama jika benar mana diracuni? Papa pasti akan mencari orang itu untuk menuntut keadilan."


"Lin, sayangnya, orang yang melakukan semua itu adalah papamu sendiri. Aku tahu dari hasil penyelidikan, papamu membayar mahal dokter untuk menutupi kasus itu agar tidak sampai ke polisi."


"Tidak!" Merlin tidak bisa menahan lagi. Dia menjerit dengan kaki yang tidak kuat menahan tubuh untuk berdiri. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai.


"Lin." Dicky bagun dengan cepat untuk menahan tubuh Merlin. Sayangnya, dia kalah cepat. Merlin sudah terjatuh kelantai dengan air mata yang mengalir deras.


"Lin, kuatkan hatimu. Kamu harus tenang ya. Aku sebenarnya tidak bermaksud buat kamu sedih. Aku hanya ingin mengungkapkan kebenaran saja. Karena aku merasa ada yang janggal dari apa yang kamu ceritakan. Jadi tolong, maafkan aku," ucap Dicky sambil menarik Merlin ke dalam pelukannya.


"Katakan padaku kalau apa yang kamu katakan itu tidak benar, Dic. Aku tidak siap menerima kenyataan ini."


"Tolong jangan nangis lagi. Aku merasa tidak enak dengan semua ini."


Dicky terus berusaha menenangkan hati Merlin. Dia memberikan pelukan hangat yang penuh dengan kasih sayang sambil terus membelai lembut rambut Merlin.


Usaha itu tidak sia-sia ternyata. Merlin akhirnya bisa menguasai diri. Dia menyeka air mata yang jatuh dengan punggung tangannya.


"Ceritakan padaku detail kejadiannya menurut hasil penyelidikan. Aku sudah siap sekarang, kak."


"Kamu yakin?"


"Tentu saja aku yakin. Aku ingin mendengar semuanya. Lalu, aku akan putuskan jalan selanjutnya buat mereka yang sudah menyakiti orang yang paling aku sayang."


Mendengar ucapan mantap yang Merlin ucapkan, Dicky tidak ingin membantah. Dia lalu menceritakan semua hasil penyelidikan tentang kematian mama Merlin dengan lengkap.

__ADS_1


Ternyata, mama Merlin meninggal karena racun. Tapi, untuk menutupi fakta soal keracunan yang mungkin akan menimbulkan kecurigaan buat semua orang, mereka membuat cerita lain dengan menciptakan kecelakaan jatuh dari tangga. Bondan memberikan banyak uang pada dokter yang tahu akan fakta itu. Dia bersama Mita juga melakukan ancaman keras pada dokter tersebut agar mau tutup mulut.


__ADS_2