
Merlin memilih diam sekarang. Dia menikmati pemandangan yang mereka lewati ketika memasuki jalan anggrek. Jalan itu terasa sangat asri dengan pepohonan yang di tanam rapi di baju jalan. Terasa sejuk ketika memasuki jalan raya yang memang masih sama padatnya dengan jalan pada umunya.
Ketika masuk di pertengahan jalan Anggrek, perempuan itu tiba-tiba berseru.
"Nah, itu kediaman tante," ucap perempuan itu sambil mengarahkan telunjuknya pada mansion yang berdiri kokoh dan megah di atas lahan yang sangat luas.
"Itu ... mansion?" Merlin berucap dengan nada tak percaya.
"Iya, Merlin. Itu mansion."
"Tante ... tinggal di mansion?" tanya Merlin untuk meyakinkan dirinya lagi.
"Hm .... " Perempuan itu berucap sambil menganggukkan kepalanya pelan.
Akhirnya, mereka tiba di gerbang masuk mansion tersebut. Pintu gerbang tersebut masih tertutup rapat. Karena butuh pemeriksaan untuk masuk ke dalam oleh satpam yang bertugas.
"Maaf, apa sudah buat janji?" tanya satpam tersebut sambil mengetuk kaca mobil yang hitam.
Perempuan itu langsung membuka pintu mobil. Lalu, dia keluar dengan cepat. Raut kaget seketika terlihat dengan sangat jelas di wajah satpam penjaga gerbang tersebut.
"Nyo--nyonya besar?" Satpam penjaga gerbang berucap dengan gugup karena kaget. Ternyata, yang ada di dalam mobil itu adalah Intan, nyonya besar keluarga Prasetya.
"Iya, ini aku. Nyonya besar kalian. Ternyata, kamu masih ingat dengan aku."
"Tentu ... tentu saja saya ingat, nyonya. Mana mungkin saya lupa."
"Huh, jika kamu ingat mana mungkin aku dibiarkan terlantar di luar sana selama berhari-hari tanpa ada inisiatif dari kalian semua untuk mencari keberadaan ku. Ah, tapi sudahlah. Tidak ada juga bicara dengan kamu. Kamu juga tidak akan mampu berbuat apa-apa."
"Oh ya, di mana mas Bagas sekarang? Apa dia masih ada di dalam sana? Atau, dia sedang sibuk dengan kerjaannya di kantor? Ah, apa jangan-jangan, dia sudah berada di rumah istri barunya sekarang."
"Apa yang kamu bicarakan, Intan? Tidak pulang selama berhari-hari, eh ... saat pulang malah bikin ulah."
Bagas tiba-tiba muncul bersama dengan Dicky ke gerbang masuk mansion. Dia langsung ke depan gerbang karena dapat laporan dari satpam penjaga, kalau Intan sedang berada di depan gerbang sekarang.
__ADS_1
Bi Imah yang sedari tadi memperhatikan gerbang mansion tersebut, tiba-tiba tersentak kaget ketika melihat Dicky yang ada di bagian dalam gerbang. Dia segera menyentuh lengan Merlin untuk memberitahukan apa yang sedang dia lihat.
Merlin yang sedari tadi fokus dengan ponselnya, langsung mengalihkan pandangan.
"Iya, bik. Ada apa?"
"Itu ... apakah itu tuan muda Dicky, nona? Sepertinya, bibi tidak salah mengenali orang bukan?"
"Mana?" tanya Merlin ambil menoleh ke arah yang bik Imah tunjuk.
Seketika, mata Merlin membulat untuk memastikan apa yang dia lihat. Penglihatan yang dia miliki masih bagus, tapi, dia masih tetap merasa tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Nona ... itu benar-benar tuan muda kan?"
Jadi ... yang kita selamatkan barusan itu ... dia ... mamanya tuan muda?"
Merlin tidak menjawab. Dia malah terus memperhatikan Dicky yang diam tanpa ekspresi di samping papanya. Lalu, entah dapat perintah dari mana, tangannya malah langsung membuka pintu mobil dan kakinya langsung turun.
Saat itulah, Dicky baru menyadari keberadaan istrinya. Matanya membulat melihat kehadiran Merlin yang sekarang tiba-tiba berada di depan mansion.
"Merlin. Kamu kok ada di sini sih sekarang? Datang kok gak ngomong sama aku dulu? Tau gitu, aku bawa aja sekalian kamu ke sini tadi."
"Aku .... "
"Merlin? Dia .... "
Perhatian semuanya teralihkan sekarang. Kini mereka semua terfokus pada Merlin yang ada di samping Dicky di depan gerbang bagan luar.
"Dia menantuku. Kenapa? Ada masalah?" Bagas terlihat menatap Intan dengan tatapan penuh ancaman.
"Ingat ya, Intan. Jangan coba-coba bikin masalah dengan menantuku. Atau kamu akan terima akibat dari apa yang kamu lakukan."
Selesai berucap dengan nada penuh ancaman itu, Bagas langsung beranjak meninggalkan Intan menuju Merlin. Dengan wajah penuh kegembiraan, dia menyambut kedatangan menantunya.
__ADS_1
"Selamat datang, Merlin. Selamat datang di kediaman Prasetya. Ya Tuhan ... akhirnya kamu datang juga ke kediaman ini."
"Papa, Dicky. Sebenarnya ... aku gak sengaja datang ke sini. Aku .... "
"Sudahlah. Tidak perlu menjelaskan apapun, karena sebenarnya, kedatangan kamu memang sangat dinantikan sejak lama. Bukan hanya papa, tapi semua pekerja juga menantikan kedatangan kamu, Nak."
"Ah, tidak perlu banyak bicara di sini. Ayo masuk saja sekarang!" ucap Bagas lagi sambil tersenyum penuh keramahan.
"Iya, Lin. Masuk dulu. Sepertinya, kedatangan kamu memang sudah kehendak takdir. Aku masih menangguh untuk mengajak kamu datang ke mansion ini. Tapi, takdir ingin kamu datang sekarang."
"Hm ... Dic. Itu .... " Merlin tidak tahu harus bicara bagaimana untuk menanyakan soal perempuan yang dia tolong barusan. Karena dia sendiri merasa berat hati. Datang di waktu yang tidak tepat sebenarnya. Itu poin penting masalah yang sedang Merlin rasakan sekarang.
"Dia mama tiri ku. Mama Intan. Baru pulang sekarang setelah tiga hari menghilang."
"Apa? Tiga hari menghilang?"
"Mm ... iya." Dicky berucap sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalian cuma diam saja saat dia tidak pulang selama tiga hari? Kalian tidak berniat untuk mencarinya sama sekali?" tanya Merlin dengan nada tak percaya.
Dia melupakan segalanya. Melupakan keberadaan Bagas selaku papa mertuanya yang mungkin akan merasa kesal dengan apa yang dia ucapkan barusan. Karena rasa tak percaya juga sudah menguasai hati Merlin saat ini.
"Anak baik. Mereka memang tidak terlalu perduli dengan tante. Karena tante ini suka bikin ulah. Makanya, kehadiran tante tidak terlalu penting buat mereka," ucap Intan sambil memperlihatkan senyum manisnya pada Merlin.
"Jangan banyak bicara, Intan. Masuk sekarang! Nanti akan kita bahas soal kamu di dalam sana." Bagas berucap dengan nada kesal sambil melihat Intan dengan tatapan tajam.
Intan tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mendengus kesal, lalu kemudian berjalan masuk mengikuti apa yang Bagas katakan.
"Ayo masuk, Merlin! Maaf, papa tidak sempat membuat pesta penyambutan buat kamu. Kamu sih, datangnya mendadak banget."
"Eh, ngg--nggak perlu pesta penyambutan kok, pa. Aku juga gak sengaja datang ke sini. Maaf bikin suasana jadi gak baik."
"Apa sih yang kamu katakan? Sudah, jangan ngomong yang nggak-nggak. Ayo masuk, nak. Papa senang banget kamu datang ke sini."
__ADS_1
"Iy--iya, Pa."