Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#69


__ADS_3

Melihat raut wajah kecewa itu, Merlin mendadak menyadari candaannya barusan. Dia berusaha mengembalikan keadaan kebentuk semula.


"Tidak. Aku hanya bercanda. Jangan menangapi perkataan ku dengan wajah serius, tuan muda."


"Candaan mu melukai hatiku."


"Iya, aku minta maaf."


"Hanya itu?"


"Yah ... hanya itu. Lalu? Kamu mau apa lagi?"


'Kapan kamu menyadari perasaan ini, Merlin? Tapi ... jika kamu tidak peka sampai detik ini, itu juga bukan salah kamu sih sebenarnya. Melainkan, salah aku, karena aku yang tidak punya nyali untuk mengungkapkan isi hatiku padamu. Tidak semua orang bisa memahami perasaan orang lain. Karena kita bukan dukun atau peramal yang tahu isi hati orang hanya dengan melihat juga mengamati wajah saja.'


Dicky terdiam dengan pikirannya sendiri. Sementara Merlin, kembali memberikan tatapan aneh pada pemuda yang ada di hadapannya saat ini.


"Dic, melamun pagi gak boleh lho," ucap Merlin sambil bersiap untuk beranjak meninggalkan Dicky.


"Tunggu! Jangan pergi dulu. Kamu jadi ikut aku kan?" tanya Dicky sambil memegang tangan Merlin untuk menahan perempuan itu supaya tidak pergi.


"Sepertinya, tidak. Karena aku tidak ingin kamu melakukan hal yang tidak-tidak nantinya."


"Maksud kamu? Hal yang tidak-tidak seperti apa?"


"Kamu beli hotel atas nama aku, itu adalah hal yang tidak benar menurut aku, Dicky."


"Tidak benarnya di mana, Lin? Coba jelaskan padaku apa yang sedang ada dalam pikiranmu sekarang."


"Dic, aku tidak siap menerima hotel atas nama aku. Kamu tahu kenapa? Karena hotel itu harganya sangat luar biasa mahal. Mana mungkin aku sanggup bayar semua yang kamu berikan padaku. Sementara yang aku lakukan untuk kamu itu tidak ada secubit kecil dari apa yang kamu berikan padaku. Bagaimana aku bisa membalas kamu nantinya jika kamu terus membuat aku berhutang besar dan besar lagi padamu?"


"Gampang. Kamu mau tahu bagaimana cara kamu balas aku atas semua yang aku berikan padamu, Merlin? Kamu tinggal di sisiku selamanya. Maka semua yang aku berikan itu tidak perlu dihitung lagi."

__ADS_1


"Gila. Kamu mau aku tinggal sampai kapan, hm? Sampai aku mati rasa begitu?"


"Mati rasa? Maksud kamu?"


Merlin terlihat begitu gugup dengan pertanyaan yang kata-katanya tidak sengaja dia sendiri ucapkan. Dengan susah payah, dia memikirkan jalan keluar untuk membebaskan diri dari ucapan yang dia buat.


"E ... lupakan saja. Karena hari semakin siang, maka aku akan bersiap-siap sekarang. Aku akan ikut dengan kamu ke hotel yang ingin kamu tuju."


Dicky membiarkan Merlin meninggalkan dirinya. Meski masih penasaran dengan maksud dari kata-kata yang Merlin ucapkan barusan, namun dia tidak ingin menahan dan memaksa Merlin untuk tetap berada di tempatnya. Karena kebetulan, apa yang Merlin katakan itu sangat benar adanya. Hari yang semakin siang, jika dia tidak segera berangkat, maka tontonan besar itu akan dia lewatkan.


Hampir lima belas menit berlalu, Merlin baru turun dari lantai atas dengan gaya jalan yang sedikit masih pincang. Melihat kedatangan Merlin yang berusaha berjalan cepat dengan menyeret kaki, Dicky merasa bersalah. Dia segera beranjak dari tempat di mana dia berdiri sebelumnya.


"Eh, mau ke mana?" tanya Merlin ketika melihat Dicky yang berjalan menaiki anak tangga semakin mendekati dirinya.


"Jangan banyak tanya. Lihat saja."


"Lah tapi ... katanya kita sedang buru-buru. Kamu .... "


Ucapan itu tiba-tiba tertahan saat Dicky sudah berada di sampingnya. Lalu, dengan cepat Dicky membawa Merlin ke dalam pelukan untuk dia gendong.


"Jangan banyak omong. Kita sedang terburu-buru sekarang. Jika aku tidak membantu kamu jalan ke mobil dengan menggendong, maka kita akan kehilangan pertunjukan besar."


Tidak ingin terus berdebat dengan Dicky, Merlin memilih diam. Dia tidak menjawab ucapan Dicky lagi. Karena kebetulan, yang Dicky ucapkan barusan itu benar adanya. Lagipula, rasa penasaran akan kata pertunjukan besar yang Dicky ucap berkali-kali membuat hati Merlin ingin segera sampai ke tempat yang ingin mereka tuju.


Beruntung, jalan yang mereka lewati tidak terjebak macet sehingga tidak memerlukan waktu lama buat sampai ke hotel. Saat pak sopir membuka pintu mobil buat Merlin, Dicky sudah ada di samping sopir tersebut.


"Sini aku bantu," ucap Dicky sambil membungkuk untuk melihat Merlin yang sedang berusaha mengangkat kaki.


"Eh, tidak perlu. Jangan lakukan hal yang tidak-tidak di sini. Aku tidak ingin jadi pusat perhatian orang asing gara-gara sikap lembut mu itu."


"Mm ... aku tidak akan kurang ajar. Tenang saja. Tidak akan melakukan hal yang melampaui batas. Aku tidak akan membuat wajah putih mu itu berubah merah kok, Lin."

__ADS_1


"Dicky cukup. Jangan mulai lagi oke."


"Iya-iya. Ayo!" Dicky langsung mengulurkan tangannya buat jadi pegangan Merlin.


Tidak ingin berdebat, dia langsung menerima uluran tangan itu. Karena kebetulan, dia memang membutuhkan tangan itu agar berjalan normal tanpa ada rasa sakit.


Mereka berjalan masuk dengan wajah biasa saja. Tapi, Merlin tiba-tiba membulatkan matanya ketika melihat sesosok laki-laki yang tidak asing lagi buatnya. Laki-laki itu tidak lain adalah, papanya.


Merlin terus memperhatikan Bondan yang terlihat sangat panik. Raut wajah yang tidak biasa itu membuat Merlin merasa penasaran.


"Ada apa, Lin?" tanya Dicky yang sudah tahu apa yang Merlin perhatikan. Namun, dia pura-pura bertanya saja.


"Eh, ti--tidak ada. Aku hanya seperti melihat seseorang barusan. Tapi ... ah, lupakan saja. Itu tidak penting."


"Oh ya, ke mana kita akan pergi sekarang?"


"Kita akan .... "


Omongan Dicky tertahan saat mereka mendengar sebuah jeritan histeris dari arah depan mereka. Di salah satu kamar juga terlihat banyak orang yang berkerumun.


"Dic ... apa yang terjadi di hotel ini? Kenapa ada banyak orang di sana?"


"Gak tau. Ayo lihat saja untuk memastikan!"


"Ta--tapi .... "


"Sudah. Ikut saja. Kamu penasaran bukan? Jadi, ayo lihat!"


Merlin menerima ajakan itu. Dia terus berpegangan pada lengan Dicky untuk membantunya berjalan maju ke depan. Mata Merlin membulat kaget ketika melihat Mita yang sedang histeris berguling-guling di atas lantai depan kamar tersebut.


"Tidak! Anakku tidak mungkin melakukan hal kotor itu. Tidak mungkin!"

__ADS_1


"Apanya yang tidak mungkin, hah! Kamu tidak lihat kenyataan apa yang anak kamu lakukan barusan, Mita! Anak kamu tidur dengan laki-laki sebelum menikah. Tuhan ... dosa apa yang aku perbuat sampai menerima malu seperti ini. Anak kamu yang aku pikir perempuan baik-baik itu ternyata gadis murahan." Bondan bicara lantang tanpa berpikir panjang. Dia juga tidak merasa malu mengatakan kata-kata itu di depan orang-orang.


Sementara itu, di dalam kamar tersebut, Jenny sedang meringkuk di sudut kamar dengan tubuh yang berbalut selimut tebal. Sedangkan Yoga, dia duduk di atas lantai dengan wajah yang memar.


__ADS_2