
Intan jatuh terduduk di atas sofa yang berada tak jauh darinya. Jari tangannya bergetar hebat. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang meskipun itu rasanya sangat mustahil.
Beberapa saat kemudian, Intan berjalan cepat menuju telepon rumah. Dia berniat akan menelpon seseorang menggunakan telepon rumah. Karena sekarang, sejak kejadian pernikahan Dicky dengan Merlin, Intan sudah tidak punya ponsel. Ponselnya mendadak hilang entah ke mana.
Beberapa saat menunggu jawaban dari orang yang dia hubungi, Intan merasa sedikit kesal. Bagaimana tidak? Dia sedang sangat ingin bicara dengan orang yang dia hubungi sekarang. Tapi, orang itu malah tidak menjawab panggilannya.
"Sial! Ke mana dia pergi? Kenapa tidak menjawab panggilan dari aku sih?" Intan terlihat gusar sambil mengulangi kembali memanggil orang tersebut.
Beruntung. Kali ini, orang yang dia hubungi langsung menjawab panggilan darinya tanpa harus dia menunggu lama lagi.
"Halo, tante." Terdengar suara manja dari seberang sana.
"Cindy. Di mana mamamu? Kenapa tante hubungi tidak dia angkat?"
"Mama ... mama mungkin lagi bobo di kamarnya tante. Dia capek."
"Panggil mamamu sekarang juga. Tante ingin bicara dengannya."
"Mau bicara soal apa tante?" tanya Cindy penasaran, namun tidak melupakan nada manjanya.
"Panggilkan saja mamamu sekarang, Cindy! Tante tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan."
"Ba--baiklah. Tunggu sebentar."
Sementara Intan menunggu, Cindy bergegas menuju kamar mamanya. Dengan raut wajah kesal, dia ketuk pintu kamar tersebut.
"Masuk aja. Pintunya gak mama kunci."
Cindy masuk tanpa berucap. Dia memperlihatkan wajah kesalnya yang terlihat begitu jelek menurut sang mama.
"Lho, kenapa wajah kamu jadi jelek begitu, Cind? Ada apa?" tanya Tias sambil bangun dari baringnya, lalu melepas masker yang menempel di wajahnya.
__ADS_1
"Gimana gak kesal coba? Tante Intan barusan bentak aku, Ma. Dia minta aku segera panggil mama karena dia mau bicara sama mama. Aku tanya ada urusan apa. Eh, dia malah bilang tidak ada waktu menjelaskan padaku."
"Bikin kesal aja. Jika bukan karena kak Dicky yang tampan itu, mana mau aku berhubungan dengan perempuan sombong kayak mak lampir seperti tante Intan ini."
"Hei ... kalau bukan karena kesombongan yang dia miliki, mana mungkin kita berhasil menghasut dia buat jodohin kamu dengan anak tirinya itu. Seharusnya kamu bersyukur dengan kesombongan dan keserakahan yang dia miliki. Kita bisa menguasai dia karena dua hal jahat yang dia miliki ini."
"Tapi sekarang, kita sepertinya tidak membutuhkan dia lagi kan, Ma? Dia sudah tidak ada gunanya lagi buat kita. Dia tidak seperti dulu lagi. Peran penting yang dia miliki di keluarga Prasetya sepertinya sudah hilang."
"Siapa bilang kita tidak butuh dia lagi? Meski peran yang dia miliki sudah hilang, kita tetap bisa memanfaatkan dia. Dia masih sangat berguna lho, Cind."
"Ah, terserah mama saja. Aku tidak ingin direpotkan lagi sekarang. Mama urus saja dia sendirian. Aku gak ikut campur."
"Oh, kamu gak ikut campur? Kamu udah nyerah perjuangin Dicky? Kamu gak minat jadi nyonya besar keluarga terkaya lagi sekarang?"
"Eh, siapa bilang aku nyerah buat dapetin Dicky? Gak ada kata nyerah buat aku mendapatkan apa yang aku inginkan, Ma. Apalagi itu hal besar seperti kedudukan dalam keluarga terpandang."
"Kalau gitu, tetap urus Intan. Karena dia adalah aset berharga untuk kita mendapatkan apa yang kita mau. Dia adalah kunci gerbang utama keluarga Prasetya bagi kita."
"Apa! Di mana dia?" Tias terlihat sangat kaget saat mendengar ucapan Cindy barusan. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, obrolan antara dia dan Cindy di dengar oleh Intan.
"Gak perlu sekaget itu, Ma. Aku tinggalkan ponselku di ruang tamu. Dia tidak akan mendengarkan apa yang kita bicarakan barusan."
"Huh ... senang banget kayaknya kamu ya, Cind. Seneng buat mama jantungan. Biar kamu gak punya mama lagi nantinya. Iya?"
"Ih, mama."
Tias bergegas menuju ruang tamu. Tempat di mana Cindy meninggalkan ponselnya sebelum masuk ke kamar.
"Halo ... kak."
"Kenapa kamu lama banget angkat panggilan dari aku Tias! Kamu gak tahu apa, aku nunggu kamu berapa lama, hah!"
__ADS_1
Terdengar teriakan keras dari gawai pipih dengan silikon karakter hello kitty berwarna pink bercampur putih milik Cindy. Tias menutup matanya karena kaget dengan teriakan itu. Ingin rasanya dia balas teriakan itu dengan makian yang sama. Namun, dia tahan hati agar tidak merusak rencana yang dia miliki sebelumnya.
"Maaf, kak. Aku sedang sakit perut. Lama di kamar mandi tadi."
"Alasan saja kamu. Tadi anakmu bilang kalau kamu sedang tidur. Sekarang, kamu bilang sakit perut. Jadi, benarnya yang mana, hah?"
'Sial! Kalau bukan karena kamu nyonya besar keluarga Prasetya, dan berguna untuk kelanjutan rencana yang aku miliki, mungkin aku sudah menyingkirkan kamu sejak lama. Tidak ingin berhubungan dengan perempuan tidak waras seperti kamu ini,' kata Tias dalam hati.
"Tias! Kenapa kamu diam? Apa yang kamu pikirkan, hah?"
"Eh, maaf-maaf, kak. Aku sedang menekan perutku. Sangat sakit sekali. Kakak bicara apa tadi."
"Ah, bikin kesal saja kamu. Sudah, lupakan saja apa yang aku katakan tadi. Sekarang, dengarkan baik-baik kenapa aku menghubungi kamu sekarang."
'Bicaralah! Kenapa kamu sibuk marah-marah tadi. Langsung bicara saja kenapa? Gak perlu repot-repot aku mendengarkan kamu marah-marah kayak macam kelaparan tadi.'
"Tias!"
"Iya, kak. Kakak mau bicara apa? Aku akan dengarkan apa yang ingin kakak bicarakan. Aku masih setia mendengarkan kakak di sini."
"Tias. Mulai sekarang, kamu dan Cindy jangan ikut campur soal Dicky lagi. Lupakan saja soal Dicky dan keluarga ini."
"Apa! Apa yang kakak bicarakan? Apa aku tidak salah dengar, kak? Kakak minta aku dan Cindy melupakan keluarga Prasetya? Yang benar saja? Tidak. Aku tidak akan melupakan keluarga Prasetya sampai kapanpun."
"Tias! Kamu barusan membentak aku, hah? Aku minta kalian menjauhi Dicky karena aku peduli dengan kalian berdua."
"Peduli? Kakak peduli dengan kami? Yang benar saja kakak peduli, kak? Kakak bukan peduli, tapi tidak ingin membantu kami hidup enak. Karena kakak sudah hidup enak dengan status kakak sebagai nyonya besar keluarga terkaya di kota ini."
"Apa yang kamu katakan, Tias? Kamu barusan marah-marah padaku? Kenapa kamu bisa marah-marah padaku, Tias? Siapa kamu hah? Berani-beraninya kamu marah padaku."
Tias terdiam dengan ucapan Intan barusan. Dia menyayangkan mulutnya yang tidak berpikir dulu sebelum bicara.
__ADS_1
'Oh Tuhan, apa yang aku lakukan barusan? Kenapa aku malah bicara dengan nada kasar pada Intan? Ah, dia tidak akan mau lagi membantu kami jika aku bersikap kasar padanya. Aku hanya saudara jauh dengan dia. Jika dia melupakan kami sebelum kami punya kedudukan di dalam keluarga Prasetya, maka tamatlah riwayat hidup kami di kota ini. Ah ... aku tidak ingin hidup miskin lagi nanti.'