
"Ada apa sih, pak? Kenapa tiba-tiba berhenti?"
tanya Dicky dengan nada agak kesal.
"Maaf tuan muda, sepertinya, ban depan ada masalah. Makanya saya rem mendadak karena takut kita semua bahaya."
"Ya sudah, lihat dulu."
"Baik, tuan muda."
"Aduh, ada apa ya? Semoga aja gak ada masalah besar. Hari sudah mau senja ini. Aku takut, Dic."
"Tenang aja ya. Gak perlu takut, kan ada aku. Yah, meskipun tidak akan merubah keadaan. Tapi setidaknya, aku akan selalu melindungi kamu jika ada sesuatu yang buruk terjadi."
"Jangan ngomong gitu, aku semakin takut tahu gak?"
Belum sempat Dicky menjawab ucapan Merlin, pintu mobil diketuk oleh pak sopir dari luar. Dicky langsung membuka kaca mobil untuk melihat sopir tersebut.
"Tuan muda, sepertinya, ban mobil kita bocor karena melindas sesuatu yang tajam. Sayangnya, kita tidak punya ban serap untuk diganti. Bengkel juga akan sangat jauh dari sini. Apa yang harus kita lakukan, tuan muda?"
"Masuk dulu. Hari sudah senja. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain diam. Aku akan hubungi Hero untuk jemput. Kita tunggu Hero sampai saja."
"Baik, tuan muda."
Suasana semakin mencekam saat hari berubah gelap. Jarangnya kendaraan lewat semakin membuat rasa takut dalam hati Merlin berkembang pesat.
Merlin diam tanpa kata sambil memeluk tangannya. Sesekali, dia meniup tangan itu bak orang yang sedang kedinginan. Melihat hal itu, Dicky segera mendekat. Lalu, menarik Merlin kembali ke dalam pelukannya.
"Kamu kedinginan? Maaf ya, aku lupa bawa jaket tadi. Maklum, gak tahu kalau kita akan ke sini."
"Gak papa. Aku gak kedinginan kok, Kak. Hanya saja ... aku ... takut." Merlin berucap dengan suara yang sangat kecil. Apalagi ketika mengatakan kata takut, dia sangat mengecilkan suaranya sampai Dicky hampir tidak bisa mendengar.
"Tenang ya, ada aku di sini. Jangan takut lagi."
"Oh ya, sebenarnya, aku gak tahu kalau kita akan ke sini tadi. Tapi, niat buat ngungkapin perasaan ini memang sudah lama aku pikirkan. Hanya saja, aku sedang menunggu waktu yang tepat buat ngomong," kata Dicky berusaha mengalihkan perhatian Merlin dari rasa takut akan keadaan sekeliling.
Merlin mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat Dicky.
"Jika tidak tahu buat datang, lalu dari mana semua persiapan yang kamu perlihatkan padaku hari ini? Apa itu kebetulan?"
"Persiapan? Maksud kamu cincin itu, sayang?"
"Hm .... " Merlin menganggukkan kepala.
__ADS_1
"He he. Itu ... aku minta Hero mengantarkannya ke sini. Kebetulan, aku lupa bawa cincin itu saat pergi tadi pagi. Tapi, cincin itu sudah aku siapkan sejak satu minggu yang lalu."
"Benarkah begitu?"
"Tentu saja."
"Eh ... lihat ke sana," ucap Dicky sambil menunjuk ke arah jendela di belakang Merlin.
"Ada ... ada apa?" Merlin bertanya dengan nada yang terdengar takut.
"Lihat saja. Aku jamin kamu akan suka."
"Benarkah aku akan suka? Tidak kaget karena takut?"
"Tentu saja." Dicky berucap sambil senyum. Hal itulah yang mampu menyingkirkan perasaan takut dalam hati Merlin.
Merlin menoleh ke arah pintu mobil yang ada di sampingnya. Mata itu berbinar-binar sangat bahagia ketika melihat apa yang ada di luar sana. Dia langsung melepaskan pelukannya dari Dicky.
"Dicky, ini kunang-kunang?"
"Iya. Itu kunang-kunang. Itulah yang ingin aku tunjukkan padamu sebenarnya saat aku ajak kamu pulang malam dari vila. Tapi ... takdir untuk kamu melihat, ternyata melihat juga."
"Ini indah sekali, Dicky. Sangat-sangat indah."
"Akan lebih indah jika kita berada di vila Merak, sayang. Suasana taman merak dengan kunang-kunang yang banyak. Kamu tidak perlu cahaya lampu untuk menerangi malam yang gelap. Karena kunang-kunang mampu memberikan cahaya saat muncul dalam jumlah yang banyak."
"Apa? Tidak. Aku tidak ingin keluar. Aku takut."
"Sebenarnya, tidak ada yang perlu kamu takutkan saat berada di jalan ini, Lin. Di jalan ini banyak penjaga kok. Juga ... ada cctv di setiap tiang lampu. Kita diawasi dengan ketat."
"Ih, kenapa gak bilang dari tadi sih, kak? Tau gitu, aku gak perlu peluk-peluk kamu karena takut."
"Tapi ... kenapa gak minta penjaga itu buat bantu kita perbaiki ban mobil. Dan, kenapa penjaga itu gak muncul saat mobil kita terjebak di sini."
"Kalau mereka muncul, aku gak punya kesempatan dipeluk kamu, Merlin. Dan, kamu gak akan punya kesempatan buat lihat kunang-kunang meski tidak di vila."
"Jadi ... semua ini rencana kamu, kak? Dasar kamu nakal ya," ucap Dicky sambil memukul-mukul pelan bahu Dicky.
"Auh ... jangan pukul lagi nyonya muda. Sakit tahu gak .... "
"Ih, jijik. Manjanya gak dapet tuh."
"Biar aja. Yang penting usaha."
__ADS_1
"Huh ... bikin kesal. Awas aja kalau bikin ulah lagi Terima tuh akibatnya nanti."
"Gak akan ada yang ketiga kalinya."
"Nah lho ... berarti, ada yang kedua kalinya dong."
"Eh ... itu ... masih di pertimbangkan."
"Dicky ....!"
"Hei ... jangan teriak-teriak. Nanti penjaganya datang. Kamu malah ditangkap penjaga karena dikira menganiaya tuan muda mereka lagi. Ingat, mereka masih ada yang belum kenal sama kamu lho ya."
"Huh ... nyebelin."
"Biar aja. Yang penting punya istri langka kayak kamu."
"Langka-langka. Aku hukum baru tahu tahu rasa kamu."
"Jangan dong. Tapi, nanti saja bahas soal itu. Kamu yakin gak mau lihat kunang-kunang lagi sekarang?"
"Masih mau sih. Cuman ... aku lelah, gerah, juga lapar. Pengen cepat pulang ke rumah. Pengen mandi, makan, terus bobo."
"Ya sudah kalo gitu, kita pulang sekarang."
"Pulang? Gimana caranya? Kan ban mobil kita masih belum diperbaiki. Hero juga masih belum ada tanda-tanda kedatangannya. Nah lho ... gimana mau pulang? Jalan kaki?"
Dicky tersenyum menangapi ucapan Merlin yang terdengar sangat kesal juga lelah, tapi lucu karena berucap dengan nada manja.
"Kita pulang dengan mobil."
"Pak sopir. Jalan!"
"Baik, tuan muda."
Sopir itu langsung menyalakan mesin mobil. Beberapa detik kemudian, mobil mereka berjalan perlahan meninggalkan tempat sebelumnya. Mobil itu berjalan normal tanpa ada cacat sedikitpun. Hal itu membuat Merlin menatap tajam ke arah Dicky yang sedang bersikap pura-pura tidak tahu dengan tatapan Merlin. Namun, dia sedang berusaha menahan tawa agar tidak lepas.
"Dicky ....! Lagi?"
"Apa?"
"Kamu permainkan aku lagi ...! Ih ... kurang ajar!" Merlin berucap dengan nada tinggi namun dengan sikap manja. Dia juga mencubit perut Dicky dengan keras sehingga Dicky menjerit kesakitan.
"Auh ... tolong hentikan, sayang. Sakit tahu."
__ADS_1
"Biar aja. Biar tahu rasa. Itu hukuman karena sudah mengerjai istri sendiri. Tapi, itu masih belum seberapa. Masih ada hukuman yang lain."
"Tolong jangan lagi, sayang. Suamimu sudah taubat. Gak akan ngulangin lagi oke. Janji."