
Perempuan itu langsung menyantap roti yang Merlin berikan tadi. Dia memakan roti itu dengan sangat lahap sampai tidak tersisa.
'Ternyata, roti kecil ini juga terasa sangat enak sekarang. Makanan yang sama sekali tidak pernah aku makan selama menjadi orang kaya. Benar-benar seperti mimpi,' perempuan itu kembali berucap dalam hati sambil melihat bungkus roti yang dia pegang.
"Bagaimana, tante? Apa merasa sedikit baikan sekarang? Maaf, aku tidak punya lagi. Cuma ada satu, karena aku datang terlambat ke toko rotinya tadi."
"Tidak masalah, anak baik. Satu roti sudah cukup membuat aku merasa sedikit punya tenaga untuk bergerak. Oh ya, roti yang kamu berikan padaku rasanya sangat enak sekali. Manis seperti orang yang memberikannya padaku."
"Tante bisa aja."
Perjalanan yang panjang ternyata terasa singkat karena ngobrol. Akhirnya, mereka sampai di rumah makan terdekat yang pertama kali mereka temui.
"Tante, kita sudah sampai di rumah makan sekarang. Ayo kita masuk ke dalam!"
"Ee ... apa boleh kita tidak makan di dalam sana? Karena aku tidak ingin turun dari mobil di daerah sini. Bisakah ... kamu belikan saja makanan untuk aku? Aku akan makan di sini saja."
"Tentu saja bisa. Pak sopir, tolong belikan makanan untuk tante ini ya."
"Baik, nona."
Sopir itu keluar untuk menjalankan perintah Merlin. Sementara bi Imah menemani Merlin di dalam mobil. Bi Imah terus memasang sikap waspada pada perempuan yang baru saja mereka tolongin.
"Maafkan aku yang merepotkan mu terlalu banyak. Katakan siapa namamu. Nanti aku akan balas budi jika sudah bisa kembali ke rumah dengan selamat."
"Tidak perlu balas budi, tante. Karena aku melakukan semua ini dengan ikhlas. Aku menolong tante dengan sukarela tanpa berniat minta imbalan. Jadi, jangan pikirkan soal balas budi padaku. Oh ya, namaku Merlin. Di mana rumah tante? Aku akan antar kan tante pulang dengan selamat sampai rumah."
"Merlin?" tanya perempuan itu sambil menaikkan satu alisnya.
"Iya. Ada apa, tante? Apa ada yang salah dengan namaku?"
"Tidak ada. Hanya sedikit merasa tidak asing saja. Aku seperti pernah mendengar nama itu. Tapi entah di mana aku pernah mendengarnya."
"Mm ... mungkin di tempat umum lainnya tante. Karena nama, mungkin ada yang sama."
"Oh ya, kamu benar. Mm ... apakah tidak keberatan jika kamu mengantar aku pulang? Karena aku benar-benar takut untuk pulang sendiri sekarang. Aku juga tidak punya ponsel untuk menghubungi keluargaku. Dan yang paling penting adalah, aku tidak punya uang untuk pulang dengan kendaraan umum. Karena tidak akan ada dua orang yang baik di antara seribu orang yang ada di dunia ini."
__ADS_1
"Tentu saja tidak akan keberatan, tante. Tante tidak usah cemas soal apapun. Karena seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku akan antar tante pulang dengan selamat sampai rumah tante."
"Nona, apakah nona yakin ingin mengantarkan perempuan ini pulang? Bagaimana jika dia hanya memanfaatkan nona saja. Bagaimana jika kita di jebak nantinya?"
"Bi Imah tidak perlu cemas. Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku yakin, tante ini tidak ada niat jahat dengan kita. Lihat saja dia. Dia sedang sangat membutuhkan bantuan kita sekarang. Lupakan soal pikiran buruk. Karena pikiran buruk akan membuat kita jadi orang yang kejam terhadap orang lain."
"Ya sudah kalo itu yang nona katakan. Semoga apa yang bibi cemaskan tidak akan pernah terjadi sama sekali."
"Amin." Merlin berucap sambil memperlihatkan senyum termanisnya pada bi Imah.
Merlin tahu, bi Imah bicara seperti itu semata-mata hanya karena mencemaskan keselamatan dirinya. Dia ingin percaya apa yang bi Imah katakan. Namun, hati kecilnya menolak. Karena hati kecilnya menginginkan dirinya selalu peduli dengan orang lain.
Sopir itupun akhirnya datang dengan kantong plastik hitam di tangannya. Lalu, sopir itu langsung menyerahkan apa yang dia bawa ke perempuan yang masih duduk diam di sampingnya.
"Hanya satu?" tanya perempuan itu setelah melihat isi kantong plastik yang baru saja dia terima.
"Iya. Cuma satu saja." Sopir itu menjawab dengan nada kesal.
"Ada apa, tante? Apa tante ingin lagi?" tanya Merlin cepat menengahi.
"Tante. Jangan pikirkan kami. Kami sudah makan. Lagian, untuk apa merasa tidak enak dengan kami? Kami sudah makan soalnya."
"Benarkah?"
"Tentu saja, iya."
"Baiklah kalau gitu. Aku makan sekarang saja ya."
"Silahkan tante."
Mobil masih diam di tempat sebelumnya. Merlin melarang sopir menjalankan mobil tersebut selama perempuan itu makan.
Perempuan itu benar-benar bersyukur karena telah dipertemukan dengan gadis muda yang sangat baik. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur dalam hati sambil terus menikmati makanan yang dia miliki sekarang.
Tidak butuh waktu lama, makanan itu ludes dilahap oleh perempuan itu. Tiga hari tidak makan, dia merasa sangat-sangat lapar sampai satu bungkus nasi tidak tersisa satu biji pun. Yang tersisa hanya tulang saja.
__ADS_1
"Gimana, tante? Apa tante sudah kenyang? Atau, apakah masih lapar? Jika iya, aku bisa minta sopirku untuk membelinya lagi."
"Tidak perlu, gadis cantik. Aku sudah sangat amat kenyang. Maaf, makanannya sama sekali tidak tersisa."
"Gak papa. Oh ya, sekarang tante sudah kenyang. Kita langsung ke rumah sakit saja kalau gitu."
"Rumah sakit?"
"Iya."
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk mengobati luka di kepala tante. Sepertinya, luka itu sudah lama. Aku takut kalau luka itu tidak ditangani dengan baik akan berakibat buruk buat tante."
"Tidak perlu ke rumah sakit. Jika kamu tidak keberatan, tolong antar kan aku pulang ke kediamanku saja. Di sana, aku bisa memanggil dokter pribadi buat mengobati aku."
"Baiklah, kalau itu yang tante inginkan. Kita pulang ke rumah tante sekarang juga. Oh ya, di mana alamat rumah tante?"
"Jalan Anggrek."
"Pak sopir, kita ke jalan anggrek. Mm ... bapak tau jalan anggrek kan?"
"Tau, nona. Saya pernah pergi ke sana waktu panggilan kerja beberapa hari yang lalu. Seleksi buat jadi sopir waktu itu di jalan anggrek soalnya."
"Bagus deh kalo. Kalau bapak tahu, kita akan gampang buat nyari."
"Oh ya tante, alamat lengkapnya rumah tante apa? Biar kita gampang nyarinya nanti."
"Oh iya, maaf ya gadis cantik. Tante lupa nyebutin alamat lengkapnya."
"Panggil Merlin aja, tante. Jika tante gak keberatan."
"Iya deh, Merlin. Maaf ya. Tante lupa. Oh ya, jalan aja deh, nanti tante kasih tahu jika kita sudah tiba di depan rumah tante."
"Oh, ya sudah."
__ADS_1