
Sementara itu, di dalam lift, Merlin dan Dicky saling diam dengan pikiran mereka masing-masing. Sebelumnya, Merlin sudah menghadiahkan Dicky sebuah tamparan setelah Dicky menurunkan dirinya dari gendongan ketika berada di dalam lift.
Tamparan itu tiba-tiba mendarat di pipi Dicky karena Merlin merasa sangat kesal. Dicky sudah membuat dia sangat malu di depan semua orang dengan sikapnya yang menurut Merlin sangat keterlaluan.
Namun, setelah tamparan itu dia hadiahkan, Merlin pun merasa sangat menyesal. Tangannya yang begitu ringan itu tidak bisa ia cegah untuk melakukan sesuatu tanpa harus berpikir dua kali lagi.
Pintu lift terbuka. Dicky masih tidak berucap sepatah katapun sampai saat ini. Hal itu membuat Merlin semakin menyesali diri atas apa yang telah dia lakukan pada Dicky tadi.
Dicky beranjak ingin meninggalkan lift setelah pintu terbuka. Namun, tangan Merlin dengan cepat menahan langkah kaki Dicky yang baru berjalan beberapa tapak.
"Dic. Tunggu! Aku .... "
Dicky mengikuti apa yang Merlin katakan. Dia menghentikan langkah kakinya, lalu memutar tubuh untuk melihat Merlin yang ada di belakangnya sekarang.
"Hm ... ada apa?"
"Tidak ada. Aku .... "
"Iya, kamu. Ada apa, Lin? Apa mau tampar lagi, hm?" tanya Dicky dengan nada santai.
"Tidak. Aku ingin hilang kata ... maaf. Aku sudah bertingkah keterlaluan dengan menampar kamu tadi." Merlin berucap dengan wajah tertunduk penuh sesal.
Melihat ekspresi itu, Dicky yang sebelumnya kesal, mendadak merasa kasihan. Ternyata, raut wajah polos itu tidak mampu dia lawan walau dirinya sudah berusaha keras untuk tidak memperdulikannya.
Perlahan namun pasti, tangan Dicky bergerak ringan menyentuh kepala Merlin. Lalu, dia mengacak-acak pelan rambut hitam milik Merlin yang lurus terawat dengan lembut.
"Tidak perlu minta maaf padaku. Sebenarnya, aku menyadari apa kesalahan yang sudah aku perbuat. Jadi, apa yang kamu lakukan padaku tadi itu aku anggap wajar saja. Itu sebagai pelampiasan rasa kesal yang ada dalam hatimu. Dan ... satu hal yang harus aku ingat. Cuma kamu yang berani bertindak seperti itu padaku. Jadi, aku anggap, itu tindakan spesial dari seseorang yang istimewa."
Mendengar ucapan itu, Merlin langsung mengangkat kepalanya untuk melihat Dicky.
"Jadi, kamu tidak marah padaku? Atau ... mungkin kamu bisa kesal padaku atas apa yang aku lakukan padamu tadi."
__ADS_1
"Sejujurnya, aku kesal atas sikapmu yang begitu galak padaku, Lin. Tapi ... aku tidak bisa kesal padamu. Apalagi marah. Tentu saja tidak bisa. Karena aku .... "
Dicky tiba-tiba menggantungkan kalimatnya. Dia tidak berani berucap lagi. Sementara Merlin begitu penasaran dengan kelanjutan dari kata-kata yang Dicky gantung barusan.
"Karena kamu apa, Dic?" tanya Merlin yang tidak kuat menahan rasa penasaran.
"Ah, lupakan saja. Yang jelas aku tidak marah maupun kesal padamu."
"Ya ... ya sudah. Ayo keluar dari sini. Kita sudah sampai. Mau sampai kapan terus berada di depan pintu ini, hm?"
"Oh, iya." Merlin berucap dengan nada lemah yang terdengar sedikit kecewa. Sayangnya, Dicky tidak menyadari apa yang Merlin rasakan sekarang.
Merekapun berjalan keluar menuju kamar Dicky. Sampai di depan pintu kamar, Dicky langsung membuka pintu kamar tersebut secepat yang dia bisa.
"Nah, Lin. Ini kamarku. Masuklah! Istirahat dulu di dalam. Sore nanti, kita baru pulang ke rumah."
"Ini ... kamar kamu?" Merlin berucap sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang terbilang sangat luar itu.
"Eh ... tidak-tidak. Bukan itu maksudku. Kamar ini sangat luas. Bisa dua kamar kita di rumah sana."
"Kamu suka kamar luar, Lin? Kalau begitu, nanti aku cari orang buat dekor lagi kamar kamu. Dua kamar, di jadikan satu saja. Bagaimana?"
"Eh ... aduh. Bukan itu maksud aku, Dicky."
"Lalu? Apa maksudnya?"
"Ini kamar kamu. Kenapa kamu bawa aku ke kamar kamu untuk istirahat? Kenapa gak ke kamar tamu saja?"
"Kamu itu istriku, Merlin. Bukan tamu biasa. Gimana bisa aku bawa kamu ke kamar tamu? Apa kata semua yang melihatnya nanti?"
"Yang benar saja kamu."
__ADS_1
"Oh, aku pikir karena kamu sengaja ingin bawa aku ke kamar kamu. Ternyata, karena takut omongan orang." Merlin kembali memperlihatkan raut kecewa.
Dicky menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Maksud kamu apa?" tanya Dicky sambil terus melihat wajah Merlin.
"Eh, ti--tidak ada. Tidak ada apa-apa. Aku ingin istirahat sekarang. Bisakah kamu tinggalkan aku sendirian di kamar ini?"
"Hei ... tentu saja tidak. Karena aku juga ingin istirahat di sini sekarang."
"Apa! Yang benar saja kamu, tuan muda. Bagaimana bisa aku istirahat jika kamu juga ada di kamar ini? Lagian, kamar ini tidak sama dengan kamar yang ada di rumah kita. Meski luas, tapi kamar ini tidak ada sofa di dalamnya. Kita tidak mungkin bisa istirahat bersama di sini."
"Kenapa tidak mungkin? Lagian, jikapun ada sofa, siapa yang akan tidur di sofa? Orang kamar aku punya ranjang yang besar. Kita bisa istirahat bersama di atas ranjang."
"Dicky!"
"Jangan berteriak lagi, Lin. Kamar aku gak kedap suara. Jika ada yang mendengarnya, mereka bisa salah paham dengan kita. Nanti, mereka pikir kita ngapa-ngapain lagi siang-siang bolong begini."
Merlin terdiam sambil melihat ke arah pintu kamar yang sudah Dicky tutup rapat. Ada rasa gugup yang luar biasa dalam hatinya saat ini. Bukan hanya itu, wajah merona sangat sulit untuk dia sembunyikan. Meskipun berusaha sekuat mungkin untuk tidak memikirkan yang aneh-aneh, tapi tetap saja. Pikiran aneh itu tidak bisa doa cegah.
"Ayo istirahat! Setelah makanan siap, kita akan turun ke bawah lagi buat makan."
Merlin tidak menjawab. Dia malah tetap diam di tempat sebelumnya dia berada. Sementara Dicky, dia sudah menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang terlihat sangat empuk dan mampu memberikan kenyamanan buat yang berbaring di atasnya.
Melihat Merlin yang masih tidak beranjak dari tempat dia berdiri sebelumnya, Dicky memicingkan mata sambil tersenyum menggoda.
"Kenapa kamu masih diam di sana, Lin? Kamu takut ya?"
"Tenang saja, Merlin. Aku gak akan ngapa-ngapain kamu kok. Inikan masih siang. Kalo malam ... mungkin ceritanya agak berbeda." Dicky berucap dengan tatapan menggoda. Hal itu semakin menambah rona merah di wajah Merlin. Dia terlihat semakin gugup walau sudah susah payah dia tahan rasa itu.
"Kamu gak perlu takut, karena kita bukan pertama kali melakukan hal ini, kan? Kita sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya di rumah."
__ADS_1