Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#23


__ADS_3

Dicky kembali tertawa. Pertanyaan polos yang Merlin lontarkan mampu mengocok perutnya sehingga tidak bisa menahan tawa walau dia sudah berusaha keras.


Hal itu semakin membuat Merlin terlihat kesal. Dia begitu kesal dengan tingkah Dicky yang sedang menertawakannya. Dia akui, apa yang dia tanyakan barusan itu memang sangat kekanak-kanakan. Tapi ... bibirnya tidak bisa menahan pertanyaan itu karena rasa penasaran yang terlalu besar.


"Lin-Lin. Kamu lucu sekali, tau. Aku katakan padamu ya, Merlin Puteri. Aku dan dia tidak dekat. Dia gadis manja yang sangat tidak aku sukai. Namanya Cindy, gadis pilihan mama untuk dia jodohkan padaku."


Merlin membulatkan matanya ketika mendengar apa yang Dicky katakan barusan.


"Jadi ... dia calon istri pilihan mamamu?"


"Ya. Dia orangnya. Gadis manja yang membuat aku sangat risih. Aku sangat tidak menyukai dia. Karena itu kami tidak dekat. Hanya dia saja yang selalu berusaha mendekati aku ketika bertemu. Tapi aku, aku berusaha sebisa mungkin menjauh agar tidak semakin risih dan kehilangan kesabaran ku yang memang hanya sedikit ini."


"Untuk baju yang kamu pakai ini kenapa dia kenal, ya karena di setiap baju milik keluarga Prasetya ada logo khususnya. Wajar jika dia kenal dengan baju ini. Karena dia sudah sangat dekat dengan keluarga Prasetya karena mama."


Saat itu, Merlin baru menyadari ada logo khusus di switer yang dia kenakan. Logo itu sama dengan logo pada kaos yang Dicky kenakan saat ini. Logo huruf P yang di dalamnya ada huruf D kecil.


'Oh, ternyata ini logo? Aku pikir cuma kebetulan saja,' ucap Merlin dalam hati sambil menyesali apa yang telah dia lakukan tadi.


"Sudah. Jangan bengong lagi. Ayo belanja!" ucap Dicky sambil kembali memegang tangan Merlin, lalu menariknya. Sama persis dengan apa yang dia lakukan saat ingin menjauh dari Cindy juga mamanya tadi.


"Dicky, lepas! Kamu apa-apaan sih?"


"Kamu tidak akan beranjak jika aku tidak memaksa. Makanya, aku bawa kamu agar cepat selesai urusan kita di mall ini."


Tidak punya kata-kata untuk diucapkan. Merlin hanya bisa mengikuti apa yang Dicky lakukan padanya. Berjalan cepat menuju tempat sebelumnya, tempat di mana pakaian wanita yang tersusun dengan rapi.


"Ayo pilih! Terserah mau ambil sebanyak mana yang kamu suka. Yang penting, semua itu cocok untuk kamu."


"Aku tidak tahu mau ambil yang mana. Aku bingung."


"Ya Tuhan ... apa susahnya sih? Tinggal ambil, lalu coba. Gampang bukan?"


"Yah ... namanya juga aku sedang bingung. Gimana juga aku gak punya pikiran untuk milih."


"Ah sudahlah."

__ADS_1


"Hero. Ayo ikut aku."


"Baik, tuan muda."


"Lalu aku?" tanya Merlin semakin bingung ketika melihat Dicky beranjak meninggalkan dirinya bersama Hero.


"Kamu tunggu saja di sini. Aku gak akan lama.


Ingat! Tunggu di sini jangan beranjak."


"Ya aku tahu. Tidak perlu bicara dengan nada penuh penekanan seperti itu juga kali. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu apa yang kamu katakan."


"Takutnya, kamu tidak tahu. Karena kamu .... "


"Jangan mulai lagi. Katakan ingin urusan di mall ini cepat selesai."


"Hm .... " Dicky lalu beranjak. Meninggalkan Merlin dengan diikuti Hero dari belakang.


Sementara itu, mobil yang Cindy dan mamanya tumpangi, kini telah sampai ke kediaman keluarga Prasetya. Keduanya bergegas turun dari mobil tersebut karena tidak sabar ingin bertemu dengan si pemilik kediaman.


"Katakan pada Tias dan Cindy, tunggu aku di taman belakang," ucap Intan pada salah satu pelayan yang membawa kabar soal ke datangan ibu dan anak tersebut.


"Baik, nyonya besar."


Setelah lima menit berlalu, Intan baru muncul menemui ibu dan anak yang terlihat sedang memasang wajah cemas mereka. Saat melihat Intan, keduanya langsung bangun dari duduk.


"Kakak. Maaf, aku datang tanpa mengabari terlebih dahulu. Aku datang karena ingin bilang satu hal padamu."


"Apa yang ingin kamu katakan, Tias? Kelihatannya, sangat penting." Intan berucap sambil berusaha memperlihatkan ketenangan. Padahal sebenarnya, dia juga sedang gugup karena perasaan cemas.


"Tante .... " Belum sempat mamanya ngomong, Cindy langsung berlari memeluk Intan sambil menangis.


"Cindy, ada apa?"


"Tante, katakan apa yang aku dengar dari para pelayan itu tidak benar. Katakan padaku kalau mereka semua sedang berbohong. Huhuhu ...."

__ADS_1


"Cindy ... ada apa sih?" tanya Intan pura-pura tidak tahu.


"Kak, kami datang ke sini karena ingin ngomong soal Dicky yang kami temui di mall bersama gadis lain. Namun, siapa sangka kalau kami akan mendengar berita yang sangat mengejutkan dari para pelayan yang tidak sengaja kami dengar saat menunggu kedatangan kakak ke sini."


"Tolong kakak jelaskan pada aku dan Cindy, apa yang sedang terjadi di sini, kak!"


Intan menundukkan wajahnya sambil memperlihatkan raut sedih dan tak berdaya. Satu tangannya membelai lembut rambut Cindy yang sedang bersandar di dalam pelukannya.


"Maafkan aku yang tidak bisa melakukan apapun kemarin. Kabar yang kalian dengar itu benar. Dicky telah menikah dengan gadis yang dia pilih kemarin."


"Apa!" Keduanya berucap secara bersamaan dengan wajah kaget yang luar biasa.


"Kakak bicara bohong kan barusan?"


"Tante gak ngomong serius kan tadi?"


"Maaf Tias, Cindy. Apa yang aku katakan barusan itu benar. Aku gak bohong. Semua yang aku katakan itu benar. Semua yang kalian dengar itu benar. Dicky sudah menikah dengan gadis yang dia pilih."


"Kakak! Bagaimana bisa hal ini sampai terjadi, hah? Kamu sedang mempermainkan hati puteri ku, kak?"


"Mama .... " Cindy kini berpindah tempat bersandar dari Intan ke pelukan sang mama.


"Mama, aku tidak percaya ini. Kenapa tante seperti ini, Ma? Kenapa dia mempermainkan hatiku?" Cindy menangis dengan tangisan yang keras.


"Cindy sayang, tante tidak mempermainkan hatimu sedikitpun, nak. Tante tidak melakukan hal itu. Semua yang telah terjadi di sini, diluar kendali tante. Tante tidak punya kekuatan apapun untuk melawan apa yang telah terjadi."


Intan lalu menceritakan segalanya tanpa terkecuali. Semua yang telah dia lalukan untuk menolak pernikahan itu, semua dia ceritakan tanpa ada yang tertinggal.


"Tante sudah berusaha sayang, tapi tidak berhasil. Tapi, kamu jangan sedih. Karena kita masih punya jalan lebar untuk mendapatkan apa yang kita mau, sayang."


"Apa maksud kakak? Jangan coba-coba memberikan harapan palsu lagi pada putriku ya kak."


"Tidak. Ini bukan harapan palsu, Tias. Ini adalah kesempatan kedua yang kita punya. Kita harus mendapatkan apa yang kita inginkan dengan memanfaatkan kesempatan kedua ini."


"Kesempatan apa lagi yang bisa aku dapatkan, Tante? Kak Dicky sudah menikah. Dia sudah punya istri. Yang benar saja ada kesempatan kedua. Aku tidak ingin menjadi perebut suami orang. Aku tidak ingin dicap sebagai pelakor , tante."

__ADS_1


__ADS_2