Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#78


__ADS_3

Mobil terus berjalan dengan keluar dari area penjagaan vila Merak. Merlin yang sangat lelah, tidur di pangkuan Dicky. Sementara Dicky, terus membelai rambut Merlin dengan penuh kasih sayang.


Beruntung, mereka sampai lebih cepat dari yang pak sopir perkirakan. Karena rasa ngantuk dan lelah semakin menguasai diri Dicky.


"Tuan muda, apa mau berdiam diri di sini sampai nona sadar?" tanya pak sopir saat Melihat Dicky tidak beranjak dari duduknya.


"Entahlah. Sepertinya, iya. Karena aku tidak ingin membangunkan Merlin yang sedang tidur pulas."


"Tapi, tuan muda juga sedang kelelahan. Sebaiknya, tuan muda bawa saja nona ke kamar. Nanti bisa sama-sama istirahat."


"Tadi pagi, aku pindahkan dia dari mobil. Dia yang tidur nyenyak malah terbangun. Sekarang, mungkin akan lebih baik jika aku teman kan istriku tidur di sini saja sampai dia bangun."


"Ya ... ya sudah kalo gitu. Saya ikut menemani tuan muda dan nona istirahat di mobil juga. Kebetulan, ingin merasakan suasana yang berbeda malam ini."


"Pak sopir ini apa-apaan sih. Masuk sana! Jangan ikut-ikutan. Aku hanya ingin bersama dengan istriku. Gak perlu pak sopir ikut," ucap Dicky dengan nada sedikit kesal.


Sebenarnya, bukan tidak suka di ganggu. Hanya saja, Dicky merasa kasihan dengan sopirnya yang memilih ikut diam di mobil padahal sudah sampai. Pak sopir sudah lelah membawa mobil dengan baik agar mereka selamat sampai tujuan. Lah sekarang, masa harus ikut-ikutan susah dengan diam di mobil hanya gara-gara ingin menemani dia dan Merlin.


"Baiklah, tuan muda. Saya tidak akan ganggu tuan muda dan nona. Tapi, sebaiknya jangan tidur di mobil sampai pagi, tuan muda. Kasihan tubuh tuan muda. Pasti sangat lelah."


"Itu bapak tahu. Jadi kenapa mau ikut-ikutan diam di mobil, hm? Bukankah pak sopir juga butuh istirahat. Masuk sana! Istirahat sekarang. Jika Merlin sudah bangun, aku dan Merlin juga akan masuk ke dalam."


"Baik tuan muda, saya permisi."


"Hm .... "


Merlin tersenyum dengan mata yang masih tertutup. Dia merasa bahagia dengan sikap peduli yang Dicky perlihatkan. Yah, walaupun sikap peduli itu terlihat masih kasar. Tapi, sebagai seorang tuan muda dari keluarga terpandang, hal itu Merlin pikir wajar, bahkan Dicky lebih istimewa. Peduli, tapi tidak ingin terlihat peduli.


Sebenarnya, Merlin sudah bangun sejak tadi. Hanya saja, dia masih belum ingin membuka matanya karena ingin membalas perbuatan Dicky yang mengerjai dirinya saat berada di perjalanan. Tapi ... hati lembut itu merasa tidak tega melihat wajah tampan yang sedang kelelahan, namun memaksa untuk tetap kuat.


Merlin pura-pura menggeliat untuk mengawali bangunnya. Lalu, dia melihat wajah Dicky dengan mata yang masih setengah pejam.


"Ini di mana?"

__ADS_1


"Di mobil. Kamu sudah bangun?"


"Hm ... apa kita sudah sampai? Kenapa kamu gak bangunkan aku saat kita sudah sampai? Kenapa malah nunggu di mobil seperti ini?"


"Aku tidak enak buat bangunkan kamu. Kamu terlihat sangat lelah. Aku juga gak tega buat mindahin. Saat aku berusaha mindahin kamu terakhir kali, kamu malah bangun."


"Dicky-Dicky. Mau sampai kapan kamu nunggu di sini. Eh, maaf, aku lupa lagi. Kakak."


"Ayo masuk! Aku lapar," ucap Merlin mengubah nada bicaranya dengan cepat.


"Ingat status juga kamu ternyata ya." Dicky berucap sambil mencolek hidup Merlin.


"Yuk. Aku tahu kamu lapar. Aku sudah minta bibi panaskan makanan."


"Lho, gak perlu sebenarnya. Inikan udah larut malam. Udah hampir jam sebelas kan? Gak enak buat bangunin bibi."


"Bibi enggak tidur kok. Dia yang hubungi aku duluan. Dia khawatir sama kamu yang gak bawa ponsel saat keluar rumah. Dia cemas tuh mikirin kamu."


"Ah, iya. Aku lupa."


"Pelan-pelan, Lin. Kitakan udah sampai juga. Buat apa buru-buru?"


Merlin tidak menjawab. Dia terus melangkah meninggalkan Dicky berjalan santai di belakang.


"Bibi!" Merlin langsung berteriak ketika dia sudah berada di depan pintu.


"Iya, Non. Ya Tuhan ... akhirnya, nona pulang juga. Seharian main di luar, gak bawa ponsel, gak ngabarin bibi lagipula. Aduh ... bikin bibi cemas aja."


"Maaf ya, bik. Aku lupa bawa ponsel. Juga lupa ngabarin bibi. Intinya, aku minta maaf karena udah buat bibi cemas. Aku janji, gak ada lain kali lagi."


"Gak papa. Bibi cuma cemas dikit aja. Bibi gak terlalu cemas karena nona pergi dengan tuan muda. Bibi juga bisa cari tahu keadaan nona dari tuan muda. Oh ya, nona belum makan, bukan? Bibi udah panaskan makanan buat nona makan sekarang. Makan sekarang atau mandi duluan?"


"Makan sekarang ajalah, bik. Aku kelaparan banget soalnya."

__ADS_1


"Ya sudah, ayo makan sekarang. Bibi siapkan ya."


Merlin berjalan dengan wajah bahagia menuju meja makan. Sementara Dicky, diam memperhatikan kedekatan Merlin dengan asisten rumah tangga mereka.


'Dengan orang lain aja dia bisa sedekat itu. Tapi ... pantas sih dia dekat dengan bi Imah. Orang yang paling sayang dengan dia saat tinggal di rumah orang tuanya kan hanya bi Imah. Wajar sangat dekat.'


'Iya, kamu tenang saja, Lin. Aku akan buat mereka membayar tuntas penderitaan yang kamu terima saat bersama mereka. Aku berjanji, akan mengembalikan apa yang seharusnya jadi milik kamu. Tenang saja.'


"Kak ... kok diam di situ? Ayo sini, ikut makan." Merlin berteriak sambil melambaikan tangan.


Bi Imah yang mendengar Merlin memanggil Dicky dengan sebutan kakak, tiba-tiba menatap tak percaya pada Merlin.


"Kakak, nona? Panggilan baru ya?" Bibi malah menggoda.


"Itu ... bibi .... "


_____


Hari ini, Merlin duduk santai di depan rumah dengan di temani segelas jus naga kesukaannya. Tidak ada kegiatan, membuat dirinya merasa bosan. Apalagi ditambah, tidaknya Dicky di rumah, semakin bosan lagi jam-jam yang dia lewati.


Pelajaran di rumah, gurunya cuma akan datang satu minggu sekali. Itupun, gurunya wanita paruh baya yang tidak menarik. Namun, pangkatnya sangat tinggi. Dia di datangkan dari luar negeri pula. Khusus buat ngajar mereka.


Baru sekali belajar bersama. Tapi, Merlin sudah mereka senang dengan gurunya. Karena pelajaran yang guru itu berikan sangat mudah di pahami. Guru internasional, cara mengajarnya pun luar biasa.


Ya meskipun waktu melihat guru itu pertama kali, Merlin berbisik pada Dicky.


"Kenapa gurunya perempuan? Udah umur lagi? Apa gak ada guru laki-laki yang lebih muda dan ... nyari itu yang tampan kenapa? Biar belajar makin semangat."


Sebuah tatapan tajam pun Dicky layangkan buat Merlin.


"Untuk apa guru laki-laki yang muda dan tampan? Buat kamu kagumi? Apa aku kurang tampan untuk kamu kagumi? Apa kamu harus mengangumi laki-laki lain untuk mendatangkan semangat. Aku kurang ya? Awas kamu ya, aku buat kamu menyesal nanti baru tahu."


"Besok, aku akan cari guru perempuan yang cantik biar kamu makin gak suka."

__ADS_1


"Eh ... main-main kamu ya."


__ADS_2