
"Wah ... banyak banget. Terima kasih banyak, Pa."
"Sama-sama. Papa pergi dulu ya."
"Iya, Pa. Hati-hati di jalan."
Setelah Bagas pergi, Merlin langsung mendekati kantong besar itu dengan wajah bahagia. Dia terlihat begitu tak sabar untuk melihat isi dari kantong tersebut.
Dicky yang melihat hal itu, ikut merasa bahagia. Namun, sikap angkuh yang dia punya ikut menguasai hati dengan cepat.
"Kamu kelihatannya bahagia banget dapat barang begituan dari papa. Apa kamu benar-benar merasa senang?"
"Tentu saja aku senang. Bahkan, senang banget malahan."
"Dapat barang begituan aja senang. Aku juga bisa beli barang begituan buat kamu. Bahkan, dengan porsi yang tiga atau bahkan empat kali lipat dari yang papa bawakan buat kamu."
"Huh ... itukan kamu, bukan dari papa kamu. Sebenarnya, bukan barangnya yang bikin hati senang. Tapi perhatiannya."
"Oh ya, Dic. Sebenarnya, hubungan kamu dengan papa kamu itu seperti apa sih? Kamu kok ngomongnya agak kasar gitu tadi. Kalian seperti punya hubungan yang tidak baik. Maaf, aku hanya bertanya. Tidak ingin ikut campur sebenarnya."
Dicky terdiam sambil terus memperhatikan wajah Merlin yang bicara tapi tidak memperhatikannya. Karena sekarang, Merlin masih sibuk dengan kantong merah yang membuat hatinya merasa bahagia.
Karena merasa diabaikan, Dicky langsung berpindah posisi duduk. Dari duduk di atas sofa, kini berpindah ke samping Merlin yang sedang duduk di atas lantai.
Tangan Dicky dengan cepat memegang dagu Merlin. Hal itu membuat Merlin terdiam karena kaget sekaligus tak percaya dengan apa yang Dicky lakukan padanya sekarang.
"Kalau ngomong dengan orang itu, lihat wajahnya. Bukan bibirnya ngerocos, tapi mata dan perhatiannya tertuju ke lain. Tau gak?"
__ADS_1
"Dicky, ih! Apa-apaan sih kamu. Gak ada sopan santun," ucap Merlin sambil menepis tangan Dicky untuk menjauh dari dagunya.
Sambil berusaha menyembunyikan wajah merona, Merlin mengalihkan pandangannya dari Dicky. Dia juga berusaha mengembalikan detak jantung yang tidak karuan ke keadaan semula.
"Siapa yang tidak punya sopan santun sih, Lin? Apa yang aku lakukan itu wajar kok."
"Wajar menurut kamu. Tapi nggak menurut aku."
"Hm ... ya udah kalo gak wajar menurut kamu, aku minta maaf. Oh ya, kamu tanya soal hubungan aku dengan papa tadi kan ya?"
Dicky terdiam sesaat. Merlin yang merasa penasaran, kembali menolehkan wajah untuk melihat Dicky. Dia melihat Dicky yang menatap lurus ke depan.
"Hubungan aku dengan papa, emang nggak terlalu baik. Hubungan kami merenggang sejak papa menikah dengan istri barunya."
"Apa? Papa kamu menikah lagi? Sejak kapan? Tapi kok ... gak ada kabarnya sama sekali ya?" tanya Merlin terlihat sangat antusias.
Sebenarnya bukan antusias, tapi kaget. Merlin kaget saat mendengar kata-kata yang baru saja Dicky ucapkan. Bagaimana tidak? Selama ini, dia tidak tahu kalau Dicky ternyata punya mama tiri. Karena tidak pernah ada yang menyingung soal keluarga Prasetya sebelumnya selama ini.
"Tidak ada kabar karena sudah sangat lama. Tepatnya, saat aku baru berusia sembilan tahun. Saat itu, aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Meskipun begitu, aku masih mengingat semua itu dengan sangat baik."
"Ja--jadi ... di mana mama tiri mu sekarang? Apa kamu tahu di mana keberadaannya? Maaf, aku hanya merasa penasaran. Tidak ingin ikut campur soal urusan pribadi kamu. Tapi ... bibir ini bicara semaunya karena hati penasaran."
Dicky tersenyum mendengar ucapan jujur yang Merlin ucapkan. Tangannya ringan menyentuh kepala Merlin. Lalu, mengusap kepala itu dengan lembut.
Entah perintah dari mana, Merlin malah menikmati sentuhan lembut yang Dicky berikan. Dia bahkan merasa bahagia karena sentuhan yang membuat hatinya merasakan kehangatan juga kenyamanan itu.
"Tidak masalah. Karena kita sudah memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai teman, maka aku rasa, tidak ada salahnya jika kita saling berbagi masa lalu satu sama lain."
__ADS_1
"Oh ya, jika kamu tanya di mana mama tiri ku sekarang. Jawabannya, ada di mansion yang papaku huni saat ini. Dia perempuan yang sekarang mengaku sebagai mamaku."
"Apa! Kok ... kok bisa be--begitu? Lalu ... mama kandungmu di mana?"
"Mama kandungku ... dia ... sudah meninggal sejak aku masih bayi. Dia meninggal saat melahirkan aku."
Merlin terdiam. Dia menatap lekat wajah Dicky yang ada di sampingnya saat ini. Wajah itu terlihat sangat sedih dengan tatapan mata yang sangat merindukan orang yang tidak mungkin dia temui lagi di dunia ini.
Perlahan, tangan Merlin bergerak menyentuh punggung Dicky. Lalu, dia membelai punggung itu dengan penuh kasih sayang.
"Dicky, jangan sedih. Karena kamu tidak sendirian. Di sini masih ada aku. Dan satu hal lagi, aku sangat memahami apa yang kamu rasakan. Karena kita memiliki nasib yang hampir mirip. Sama-sama kehilangan orang yang paling kita sayangi."
"Tapi sepertinya ... kamu masib beruntung dari pada aku, Dic. Kamu kehilangan mama, tapi masih punya papa yang sayang sama kamu. Tidak seperti aku, aku yang kehilangan mama, juga kehilangan papa sekaligus," ucap Merlin.
Kini giliran Merlin yang menunduk sambil memperlihatkan wajah sedih. Meskipun dia tidak ingin menunjukkan kesedihan pada Dicky, tapi rasa sedih itu sulit untuk dia tutupi.
"Hei ... kenapa kamu yang malah ikutan sedih sih." Dicky berucap sambil mencolek hidung Merlin yang sedang tertunduk.
"Jangan sedih gitu dong. Karena kita itu tidak sendirian, bukan? Kamu yang minta padaku supaya jangan sedih, eh tapi malahan kamu yang sedih. Gimana sih?"
"Aku gak sedih kok. Siapa bilang aku sedih?" tanya Merlin sambil mengangkat wajahnya dan berusaha untuk tersenyum.
"Lah ... barusan itu apa?"
"Itu hanya ekspresi merindukan saja. Aku terlalu merindukan seseorang yang tidak mungkin pernah bisa kita temui lagi sampai kapanpun dan di manapun di dunia ini."
"Berarti, kita sama. Aku juga tidak bersedih. Hanya merindukan orang yang tidak mungkin pernah kita lihat lagi."
__ADS_1
"Oh ya, Lin. Bagaimana jika kita bertukar cerita tentang orang kesayangan kita? Bagaimana dia saat masih hidup, dan bagaimana dia bisa pergi meninggalkan kita."
"Ya meskipun aku tidak pernah melihat mamaku selama aku hidup, tapi setidaknya, aku punya cerita tentang dia. Cerita yang selalu aku ingat sampai kapanpun."