
"Jangan banyak bicara. Aku datang sesuai undangan. Kamu yang mengundang aku, makanya aku datang. Aku tidak ingin kamu kecewa. Sudah susah-susah mengundang aku, tapi aku malah tidak datang."
Tora tidak menjawab. Dia sibuk memperhatikan Merlin yang berada di samping Dicky. Dengan tatapan penuh rasa kagum, ia tatap wajah Merlin tanpa berkedip.
"Kamu ... aku seperti pernah melihat kamu. Tapi entah di mana. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Tora tanpa menghiraukan keberadaan Dicky.
Saat itu juga, tangan Tora ringan mengulur untuk bersalaman dengan Merlin. Namun, dengan cepat Dicky menyambut uluran tangan itu.
"Jangan sok kenal kamu dengan istriku. Dia tidak kenal kamu, jadi jangan pura-pura ramah."
"Aku tidak bicara dengan kamu, tuan muda. Aku bicara dengan gadis cantik ini. Tunggu! Apa yang kamu katakan barusan? Istri?" Tora langsung melihat Dicky dengan tatapan tajam untuk mencari kebenaran dari apa yang dia dengar barusan.
"Iya. Istriku. Kenapa? Apa kamu masih punya nyali untuk mendekatinya? Jika iya, kali ini aku akan bertarung denganmu untuk mempertahankan apa yang sudah aku miliki."
"Ya Tuhan ... tidak perlu bertarung denganku, tuan muda. Karena kamu pasti akan kalah sebelum kamu menginjakkan kakimu ke medan perang. Karena selamanya, kamu akan ditakdirkan kalah dari aku. Ini kutukan buat kamu."
"Kamu .... " Dicky mulai terpancing emosi. Tapi, Merlin dengan cepat menahan Dicky.
"Kak, sudahlah. Tidak perlu membalas omongan orang yang tidak punya pikiran. Bagaimanapun kamu bicara, dia gak akan mengerti. Kamu akan dapat rasa capek sendiri. Sedangkan dia, dia gak akan merasakan apa-apa karena dia sudah mati rasa."
"Ingat! Kita datang bukan untuk berdebat, apalagi bertengkar. Kita datang untuk memberikan selamat buat dua orang yang ... yah ... mungkin sangat cocok buat bersama."
"Wah ... kata-katamu sangat amat tajam, cantik. Ucapan kamu barusan itu terasa lebih tajam dari belati, tau gak? Tapi ... tunggu, suara ini ... ya, aku ingat sekarang. Kamu adalah gadis yang duduk sendirian di taman tak jauh dari makam waktu itu. Iyakan?"
"Uh ... ya Tuhan ... ternyata, selain tidak punya pikiran, kamu juga tidak punya rasa malu. Bisa-bisanya kamu merasa kenal dengan aku. Tunggu! Ah, aku lupa, kamu kan memang tidak punya rasa alias, mati rasa. Tentu saja segala rasa sudah tidak berlaku lagi buat kamu."
__ADS_1
"Kamu .... "
"Ada apa ini?" tanya seorang perempuan yang tiba-tiba datang.
Perempuan muda itu menggenakan kebaya kekinian berwarna hijau muda. Dia terlihat cantik dengan pakaian yang dia pakai saat ini.
Sontak, kedatangan perempuan itu membuat Dicky menatap untuk sesaat lamanya. Perempuan itu juga melakukan hal yang sama, memberikan tatapan kaget saat melihat Dicky.
"Nining, selamat. Kamu sudah tunangan sekarang. Semoga bahagia bersama orang yang kamu pilih. Oh ya, kenalkan, ini istriku, Merlin."
Dicky langsung berucap cepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman buat Merlin yang sedang menatapnya barusan. Dia tidak menjabat tangan Nining, tapi malah memeluk bahu Merlin saat memberikan ucapan selamat barusan.
"Is--istri? Kamu sudah menikah?" tanya Nining dengan tatapan tak percaya.
"Ya. Tentu saja aku sudah menikah. Bagaimana aku bisa punya istri jika aku tidak menikah."
"Tunggu! Kenapa harus pergi buru-buru? Bukankah pestanya belum mulai?" Tora berusaha menahan.
"Kenapa harus nunggu pestanya mulai? Inikan bukan pesta kami, jadi kami boleh dong, pergi setelah mengucapkan selamat. Datang juga hanya berniat mengucapkan selamat doang," ucap Merlin sambil bergelayut manja di lengan Dicky.
"Ayo kak! Jalan sekarang aja. Kita sudah memenuhi undangan seperti yang mereka inginkan, bukan?"
"Iya. Ayo!"
Keduanya lalu beranjak untuk meninggalkan aula pesta. Mereka berjalan dengan santai sambil terus bergandengan tangan. Baik Tora maupun Nining yang melihat kemesraan itu, hanya bisa menahan emosi dengan menggenggam erat tangan mereka.
__ADS_1
'Sial! Aku mengundang dia bukan untuk menyakiti hatiku. Tapi, untuk menyakiti hatinya. Tapi kenapa sekarang malah jadi kebalikan sih? Malahan dia yang membuat hati ini sakit. Benar-benar sial sekali.' Tora bicara dalam hati sambil terus menyalurkan emosi dengan menggenggam tangan.
'Tapi ... perempuan itu sangat-sangat menarik sekali. Dia bukan hanya cantik, tapi sangat amat berani. Kata-katanya juga sangat tajam. Yah ... aku sangat suka dengan perempuan seperti itu. Benar-benar menantang jika bisa mengejar dia.'
'Bukan hanya ingin mengejar, tapi aku ingin memiliki dia sebagai perempuanku satu-satunya. Ah, hati ... kenapa kamu begitu tidak bisa aku handal kan. Begitu melihat dia, semua masalah mendadak menghilang. Ucapan tajam yang dia berikan juga tidak bisa melukai hati ini. Malah semakin menginginkannya. Gila .... Benar-benar gila.'
Tora terus berjalan-jalan dengan pikirannya sendiri. Sementara Nining, dia juga melakukan hal yang sama. Bedanya, dia terlihat sangat sedih sekarang.
'Dicky, kamu sudah menikah? Benarkah kamu sudah menikah, Dic? Kenapa begitu cepat kamu melupakan aku? Kamu tahu, setiap malam, aku masih memikirkan kamu. Tapi, jika kamu bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang, aku juga ikut merasa bahagia. Karena semua masalah yang terjadi antara kita, akulah penyebabnya.'
Lamunan itu tiba-tiba buyar saat Tora mencengkram tangan Nining.
"Ikut aku! Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu."
"Mau bicara apa? Di sini saja."
"Jangan banyak membantah. Ikuti saja apa yang aku katakan. Jika kamu tidak ingin melihat ayah dan ibumu malu hari ini."
Tidak punya pilihan lain, Nining segera mengikuti apa yang Tora minta. Mereka menjauh dari aula pesta menuju kamar hotel yang Tora sewa sebagai tempat istirahat buat mereka.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Nining langsung berucap saat sampai di depan pintu.
Bukannya langsung menjawab apa yang Nining tanyakan, Tora malah menarik tangan Nining dengan kasar. Lalu, dia lempar tubuh itu ke atas ranjang hotel yang bersepraikan serba putih.
"Tora! Apa yang kamu lakukan!" Nining berteriak keras saat Tora menindih tubuhnya.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan? Kamu tahu sendiri bukan? Dengar baik-baik perempuan. Aku melamar kamu bukan untuk aku nikahi, melainkan, hanya untuk membuat orang yang kamu cintai menderita. Tapi sayangnya, dia malah tidak merasakan apa-apa saat melihat kamu aku dapatkan. Ini tidak asik namanya."
"Tapi ... mungkin dia tidak akan bahagia hari ini jika dia tidak bersama perempuan cantik itu. Sekarang, aku ingin kamu melakukan sesuatu untuk aku. Rayu kembali mantan pacarmu itu supaya dia jatuh cinta lagi padamu. Lalu, aku akan rebut perempuan cantik yang sekarang ada di pelukannya itu. Bagaimana? Jika kamu setuju, aku akan melepaskan kamu sebelum terlambat. Tidak masalah kamu putus tunang. Karena putus tunang masih biasa, bukan?"