Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#31


__ADS_3

Melihat senyum manis itu, hati Dicky semakin sakit, kesal juga bercampur marah. Dia merasa dipermainkan oleh orang yang sangat dia sayangi.


"Lupakan aku mulai dari detik ini, Dicky. Anggap aku tidak pernah ada. Anggap kita tidak pernah saling kenal mulai dari malam ini."


"Baik. Jika itu yang kamu inginkan, akan aku turuti apa yang telah menjadi keputusanmu. Mulai dari detik ini, kita tidak ada hubungan lagi. Aku ucapkan selama buat pertunangan kamu dengan orang yang kamu pilih, karena datang melamar kamu duluan dari pada aku."


Nining ternganga mendengarkan ucapan itu. Matanya berkaca-kaca. Namun, sekuat tenaga dia tahan agar air mata yang siap tumpah itu tidak tumpah dihadapan laki-laki yang sangat dia cintai.


"Baiklah. Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku akan kembali. Aku minta padamu, lekas pergi dari rumahku. Karena kami tidak bisa menerima tamu dulu malam ini."


"Tidak perlu mengusirku seperti itu. Karena aku juga akan pergi secepat mungkin tanpa perlu kamu mengusirnya terlebih dahulu. Aku ucapkan terima kasih atas sambutan mu untuk kedatanganku yang datang dari jauh dengan susah payah untuk memenuhi janjiku padamu. Terima kasih banyak, Nining. Selamat ulang tahun yang ke delapan belas. Semoga kamu bahagia."


Hancur. Hanya rasa itu yang sama-sama mereka rasakan saat ini. Nining tidak mampu berucap sepatah katapun saat mendengarkan ucapan Dicky yang terakhir itu. Dia berbaik dengan cepat membelakangi Dicky. Karena air mata yang ingin tumpah, tidak bisa dia tahan lagi.


'Maaf, Dicky. Mungkin ini pilihan terbaik buat kita berdua. Aku cinta padamu, begitu juga sebaliknya kamu. Namun, apalah daya, kita tidak mungkin bisa bersatu karena orang tua yang jadi penghalang. Pernikahan itu bukan hanya ada kita berdua, melainkan, ada keluarga lain di dalamnya. Lebih baik berpisah, karena aku tahu siapa aku. Kamu adalah pangeran, sedangkan aku budak. Kita tidak akan bersatu, karena kasta kita berbeda. Aku cukup tahu hal itu, Dicky. Maaf.' Nining berucap dalam hati sambil terus berjalan pelan.

__ADS_1


Dicky masih diam mematung melihat kepergian sang pujaan hati. Dalam hatinya sangat berharap, Nining memutar tubuh untuk kembali padanya dan merubah keputusan yang telah dia ambil. Namun sepertinya, harapan itu hanyalah sebuah harapan saja. Karena Nining tidak akan kembali. Dia bahkan telah hilang dari pandangan mata Dicky sekarang.


'Itulah pilihan yang kamu ambil, Ning? Jika begitu, aku akan menghormati keputusan itu.


Meski sangat sakit, namun aku akan tetap menerimanya. Semoga kamu bahagia dengan orang yang kamu pilih. Selamat tinggal.' Dicky bicara dalam hati sambil terus melihat rumah yang ada di hadapannya saat ini.


Untuk beberapa saat lamanya, Dicky masih tetap memandang rumah itu. Rumah yang selama ini telah membuat hatinya berbunga-bunga walau hanya terlihat bumbung nya saja dari kejauhan. Tapi sekarang, semuanya telah berubah. Berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan sekarang. Rumah itu menciptakan rasa sakit buat hatinya. Bahkan, membuat dia tidak ingin melihatnya lagi mulai dari detik ini.


Dicky memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah itu. Tapi, saat dia berbalik untuk meninggalkan tempatnya, seseorang menepuk pelan bahu Dicky dari belakang.


Sontak saja, itu membuat Dicky langsung menghentikan langkah kakinya. Dengan perasaan penuh harap, Dicky menoleh untuk memastikan orang yang menepuk bahunya barusan adalah orang yang ia harapkan kembali padanya.


Tora tersenyum penuh kemenangan. Hatinya benar-benar puas sekarang. Puas melihat wajah kecewa juga putus asa dari pemuda yang ada dihadapannya saat ini.


"Kenapa? Kamu sepertinya sangat tidak senang melihat aku yang ada di sini? Oh ... aku tahu. Kamu pasti sedang kecewa sekarang bukan? Kamu berharap yang nepuk pundak kamu barusan itu pacar kamu. Eh, salah. Mantan pacar yang sekarang sudah menjadi tunangan ku."

__ADS_1


"Kenapa kamu kelihatannya begitu bahagia? Yang kamu ambil itu bekas aku. Apa kamu merasa menang hanya dengan merebut barang bekas milikku, Tora?"


"Kamu!" Tora kelihatan begitu emosi saat mendengan ucapan Dicky barusan. Ucapan yang terdengar begitu santai seperti tanpa beban sedikitpun.


"Apa, hah!"


"Jangan sok tenang kamu, Dicky. Aku tahu kamu sekarang sedang sangat kecewa dan begitu terluka. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Jadi, jangan sok-sokan pura-pura kuat di hadapanku sekarang."


"Cih ... kenapa aku harus pura-pura. Yang kamu rebut itu bekas aku. Bagaimana kamu bisa begitu bahagia? Dan terlalu naif jika kamu pikir aku sangat kecewa atas apa yang baru saja terjadi. Karena aku, sama sekali tidak merasakan rasa itu."


"Berhentilah berpura-pura di hadapanku sekarang tuan muda Prasetya. Karena aku tahu bagaimana perasaanmu. Meski yang aku rebut adalah bekas kamu, tapi bekas itu adalah barang yang paling kamu sayangi, bukan? Aku tahu itu."


"Aku ambil semua perempuan yang kamu miliki. Siapapun. Sejelek apapun perempuan yang kamu sukai, aku akan ambil dia dari kamu. Itu adalah balasan setimpal buat kamu dari aku."


"Harus kamu ingat satu hal, Dicky. Aku akan rebut semua perempuan yang kamu cintai. Semua pacar yang kamu punya. Bahkan, jika kamu sudah punya istri kelak. Aku juga akan merebutnya dari kamu. Perseteruan di antara kita tidak akan pernah berakhir sampai maut memisahkan. Jika bisa, sampai di akhirat kelak pun aku akan merebut perempuan yang kamu cintai. Camkan itu tuan muda Prasetya."

__ADS_1


Setelah berucap kata-kata itu, Tora langsung beranjak meninggalkan Dicky yang terdiam mematung. Diam bukan berarti tidak mampu melawan. Hanya saja, Dicky tidak ingin melawan orang yang dia anggap gila saat ini.


Bagaimanapun, Tora adalah bagian dari kisah indah sekaligus kelam yang dia lalui di masa lalu. Sejujurnya, dia sangat merindukan canda tawa laki-laki itu. Namun, hal itu terasa mustahil sekarang. Karena setiap bertemu, hanya akan ada tatapan tajam penuh dendam.


__ADS_2