Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#46


__ADS_3

Dicky pergi menuju kantor kepala sekolah dengan terus diikuti oleh Tio dari belakang. Kali ini, Tio mengikuti Dicky namun tetap memilih diam. Karena sekarang, dia merasa sedikit takut dengan Dicky yang sepertinya sedang marah besar.


Tanpa basa basi terlebih dahulu, Dicky langsung menerobos masuk ke dalam kantor kepala sekolah yang berhadapan dengan ruangan semua guru. Dengan wajah marah, dia langsung menatap kepala sekolah dengan tatapan tajam.


"Di mana Merlin?" tanya Dicky tanpa basa-basi terlebih dahulu.


Pertanyaan itu membuat semua guru yang ada di sana saling pandang. Kepala sekolah yang awalnya duduk di kursinya, langsung bangun.


"Merlin?" tanya kepala sekolah balik.


"Ya, Merlin. Siswa kelas dua pintar yang barusan kalian panggil ke kantor ini."


"Oh, dia? Siswa yang tidak bermoral seperti itu tidak layak berada di sekolah elit seperti ini. Dia sudah pergi dari sini beberapa menit yang lalu. Aku selaku kepala sekolah sudah mengeluarkannya."


"Apa! Apa anda sadar dengan apa yang anda ucapkan barusan itu?" tanya Dicky benar-benar kesal. Jika saja tidak ada Tio yang menahan tubuhnya, mungkin kepala sekolah itu sudah dia pukul dengan sangat keras sekuat yang dia bisa.


"Dicky sudah. Jangan gunakan kekerasan untuk menyelesaikan setiap masalah yang kamu hadapi."


"Tidak bisa. Aku tidak bisa tidak menggunakan kekerasan sekarang. Karena dia selaku orang berpendidikan tidak tau sopan santun. Bisa-bisanya dia bicara buruk seperti itu pada Merlin."

__ADS_1


"Tuan muda, saya selaku kepala sekolah hanya melakukan hal yang wajar yang bisa saya lakukan untuk melindungi nama baik sekolah ini. Kenapa tuan muda malah menyalahkan saya sekarang?"


"Hal wajar? Kenapa aku tidak boleh menyalahkan kamu? Selaku kepala sekolah, kamu bertindak terlalu gegabah. Tidak mencari bukti dari kesalahan yang dilimpahkan dari satu orang ke orang yang dituduh bersalah. Aku tidak akan memaafkan kamu jika terjadi hal buruk pada, Merlin. Karena dia adalah istriku."


"Apa! Istri tuan muda?"


Seluruh telinga yang mendengarkan ucapan Dicky barusan, kaget bukan kepalang. Tio yang memegang Dicky, seketika melepaskan pegangannya. Dengan tatapan tak percaya, dia tatap sahabat baiknya itu.


"Is--istri kamu, Dic? Dia istri kamu?" tanya Tio dengan nada dan suara benar-benar tak percaya.


"Iya, kenapa? Kalian tidak percaya dengan apa yang aku katakan? Kalian bisa panggil papaku datang ke sekolah. Papa akan menjelaskan semuanya."


"Di mana kamu, Lin? Semoga kamu tidak berubah menjadi bodoh hanya karena hal ini," ucap Dicky bicara sendiri sambil terus menelusuri koridor sekolah.


Dicky juga tak lupa menghubungi Hero untuk menyebar orang agar Merlin segera dia temukan. Karena sebelumnya, dia sudah menanyakan keberadaan Merlin pada bi Imah yang ada di rumah.


"Nona belum pulang, tuan muda. Ada apa ya, tuan muda?"


"Tidak ada. Aku hanya bertanya."

__ADS_1


Begitulah percakapan singkat antara bi Imah dengan Dicky sebelumnya. Tanpa mengucap kata putus lagi, Dicky langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Hal itu karena hatinya semakin di penuhi rasa cemas akan keberadaan Merlin.


Sementara itu, di rumah Tias, Intan sedang memperingati Tias supaya tidak mengganggu hubungan Dicky dengan Merlin lagi. Itu dia lakukan karena rasa pedulinya pada ibu dan anak yang sudah dia anggap saudara dekat. Karena sejujurnya, dia sangat memahami siapa Bagas suaminya. Ancaman Bagas itu tidak main-main. Setiap yang Bagas ucapakan, pasti akan dia lakukan.


"Tias, aku tidak ingin kalian berada dalam masalah. Tolong dengarkan apa yang aku katakan ini. Jangan bermimpi menjadi bagian dari anggota keluarga Prasetya lagi. Karena .... "


"Karena apa, Kak? Karena kami tidak cocok? Apa ... karena kakak tidak ingin peduli dengan kami lagi?"


"Sejujurnya, aku sungguh kecewa dengan kakak. Kakak telah mengingkari janji kakak pada kami, kak. Kakak bilang ingin menjodohkan Cindy dengan anak tiri kakak. Tapi apa? Kakak malah bilang kami harus menjauh dan melupakan apa yang telah kakak janjikan."


"Tunggu! Apa jangan-jangan, sekarang kakak sudah merasa puas dengan apa yang kakak miliki? Kakak sudah mendapatkan apa yang kakak mau dari keluarga Prasetya? Iya, kak? Itu makanya, kakak tidak ingin menjodohkan Cindy dengan tuan muda Prasetya lagi."


"Aduh ... apa yang kamu katakan ini, Tias? Aku tidak mendapatkan apapun dari keluarga Prasetya sekarang. Jangankan mendapat apa yang aku inginkan, dapat perlakuan yang baik dari mas Bagas saja tidak untuk saat ini. Aku juga tidak tahu apa sebabnya, mas Bagas berubah seperti itu padaku."


"Kalau begitu, kenapa kakak tidak terus menjalankan rencana besar yang sebelumnya kita rencanakan, kak? Kita nikahkan Dicky dengan Cindy. Dengan begitu, posisi kakak sebagai mama tiri di keluarga Prasetya akan aman. Karena setidaknya separuh dari harta keluarga Prasetya berada di bawah genggaman tangan kita jika Cindy jadi nyonya muda keluarga Prasetya."


"Aku tidak inginkan harta keluarga Prasetya lagi, Tias. Karena itu sebenarnya, tidak terlalu penting buat aku. Yang terpenting itu adalah, posisi aku sebagai nyonya besar keluarga Prasetya. Aku tidak ingin posisi itu hilang dari aku."


"Ya maka dari itu, kak. Kakak harus punya pijakan yang kuat. Jika Cindy jadi nyonya muda, maka kakak selaku kerabat juga tidak mudah untuk digantikan. Bayangkan saja, kakak dan Cindy itu saudaraan. Ya meskipun saudara jauh. Tapi setidaknya, tuan besar Bagas itu pasti akan mikir dua kali buat gantiin posisi kakak dengan perempuan lain. Secara, menantunya adalah kerabat kakak."

__ADS_1


__ADS_2