
Meski masih merasa tidak enak dengan apa yang baru saja terjadi, Merlin tetap memilih mengikuti apa yang papa mertua dan suaminya katakan. Mereka berjalan masuk ke dalam sambil sesekali ngobrol.
"Dic, nanti ajak Merlin keliling mansion. Tunjukkan padanya setiap sudut kediaman kita. Karena dia adalah bagian dari keluarga Prasetya, jadi ... dia wajib tahu setiap sudut mansion ini."
"Jangan sekarang, Pa. Kasihan dia. Dia pasti sangat lelah jika aku ajak dia keliling mansion. Lain kali saja, jika ada waktu menginap di sini, baru aku ajak keliling mansion."
"Kamu gak ingin istrimu tahu setiap sudut kediaman kita, Dicky? Dia wajib tahu karena mansion ini juga bagian dari milik kamu. Milik kamu, itu artinya milik dia."
"Aku tahu, papa. Hanya saja, mansion ini besar. Kasihan Merlin. Dia sudah capek jalan-jalan, mana mungkin aku tega melihat dia capek lagi hanya untuk jalan-jalan keliling mansion. Dia butuh istirahat. Jadi, aku akan bawakan dia langsung ke kamar saja."
"Ah, terserah kamu saja. Jangan bilang kalian mau ngapa-ngapain di kamar. Karena hari masih siang."
Mendengar hal itu, Merlin yang sedari tadi memilih diam sambil mendengarkan perdebatan antara mertua dengan suaminya, kini diam mematung. Hal itu membuat bik Imah sedikit cemas.
"Ada apa, nona? Kenapa nona tiba-tiba berhenti?"
Mendengar ucapan itu, Dicky yang berjalan duluan, kini memutar tubuhnya untuk melihat Merlin. Dia juga menghampiri Merlin yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya.
"Ada apa, Lin? Apa yang terjadi?"
"Eh ... ti--tidak ada. Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit lelah saja." Merlin berucap sambil nyengir kuda.
"Ya sudah kalo gitu, jika kamu lelah, aku gendong saja."
"Apa! Ti--tidak perlu. Tidak perlu, Dicky. Aku tidak terlalu lelah. Hanya sedikit lelah."
"Sama saja. Ayo! Naik ke punggungku." Dicky berucap sambil memberikan punggungnya pada Merlin.
"Eh! Tidak perlu. Tidak-tidak."
"Ya sudah kalo gitu."
__ADS_1
Bukannya menyerah, Dicky malah menggendong Merlin langsung dengan kedua tangannya. Hal itu sontak membuat Merlin sangat kaget. Dia sampai berteriak keras. Teriakan itu membuat semua yang mendengar segera menghentikan kegiatan mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Dicky! Jangan main-main! Turunkan aku!"
"Tidak akan. Aku tidak akan menurunkan kamu."
"Dicky, kamu udah gak waras ya! Di sini ... ada banyak orang."
Merlin sangat malu sehingga wajahnya terlihat memerah. Karena ketika dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ada banyak pekerja yang berkumpul. Bukan hanya itu, tak jauh dari mereka masih ada Bagas yang sedang berdiri tegak.
"Kami tidak melihatnya. Tenang saja, Merlin." Bagas berucap sambil menahan senyum.
Kata-kata yang papa mertuanya ucapkan barusan benar-benar membuat Merlin semakin malu saja. Dia sampai tidak ingin membuka matanya karena malu untuk melihat sekeliling.
Bukannya merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan pada Merlin sekarang, Dicky malah menikmati apa yang terjadi. Dia tersenyum manis sambil terus membawa Merlin menaiki lift untuk naik ke lantai tiga, tempat di mana kamarnya berada.
Para pekerja terus memperhatikan tuan mudanya hingga masuk ke dalam lift. Senyum mereka tak hentinya menghiasi bibir sambil terus melihat dengan pandangan bahagia.
"Iya. Tuan muda pulang bawa istrinya. Bermesraan di hadapan kita. Ah ... aku rasanya ikut merasakan kebahagiaan yang tuan muda rasakan sekarang."
"Tentu saja kita ikut bahagia. Karena tuan muda itu, adalah tuan muda kita. Oh ya, istri tuan muda ternyata cantik banget ya. Meskipun terlihat sangat sederhana. Tapi, benar-benar cantik."
"Hm ... cocok banget dengan tuan muda kita yang tampan tak terkira itu."
"Ehem ... kalian bergosip di tempat umum. Yang kalian gosip itu anak dari majikan kalian lagi. Apa kalian tidak takut, bonus kalian anak aku kurangi?" tanya Bagas yang sedari tadi masih diam menikmati gosipan dari para pekerja yang bekerja di rumahnya.
"Ee ... tu--tuan besar. Ma--maafkan kami. Kami tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara soal tuan muda. Karena kami ikut bahagia dengan kebahagiaan tuan muda sekarang."
"Aku maklumi. Tapi sebaiknya, kalian hormati aku yang masih ada di sini. Kalian ngobrol di depan aku secara langsung. Oh Tuhan ... kalian anggap apa aku ini. Sudahlah anak dan menantuku tidak menganggap aku ada. Kalian juga ikut-ikutan. Ah ... bikin emosi aja."
"Ma--maaf, tuan besar."
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf. Sebaiknya, kalian lanjut bekerja. Ingat! Jangan menggosip lagi."
"Baik, tuan besar. Kami permisi."
"Mm."
Para karyawan langsung meninggalkan Bagas dengan cepat. Kini tinggal bi Imah yang masih terdiam di tempat sebelumnya dia berdiri.
Bagas melihat bi Imah dengan senyum manis di bibirnya.
"Bibi, kamu adalah asisten rumah tangga yang menantuku carikan sendiri. Kamu pasti sudah kenal dekat dengan Merlin, bukan? Karena kamu adalah asisten rumah tangga yang Merlin percaya, maka kamu adalah tamuku di mansion ini. Ayo ikut aku, bik! Aku akan antar kan bibi ke kamar tamu untuk istirahat."
"Eh, ti--tidak perlu, tuan besar. Tidak perlu merepotkan tuan untuk mengantar saya ke kamar. Katakan saja di mana kamarnya, biar saja pergi sendiri saja."
"Jangan sungkan. Aku sangat menyukai menantuku. Jadi, aku akan membuat dia bahagia dan merasa nyaman berada di kediamanku sekarang."
"Tapi .... "
"Sudah aku katakan, bukan? Jangan sungkan. Aku melakukan semua ini karena menantuku."
"Ba--baiklah."
Bi Imah berjalan meninggalkan tempatnya. Dia mengikuti langkah Bagas yang menuju lantai dua dengan menaiki anak tangga. Sementara itu, di sisi lain, sepasang mata sedang menatap kepergian Bagas dan bi Imah menaiki anak tangga tersebut.
"Begitu pedulinya mas Bagas sama menantu kesayangannya itu. Sampai-sampai, pembantu dari menantunya dia anggap seperti tamu spesial."
"Ya Tuhan ... aku benar-benar dianggap tidak ada di mata semua penghuni mansion ini. Mereka semua sibuk menyambut kedatangan anggota keluarga baru, sampai-sampai, aku yang terluka ini tidak mereka pedulikan."
"Kalau begitu, untuk apa aku pulang ke rumah ini sebenarnya? Toh aku juga tak dianggap ada di sini."
Intan bicara pada dirinya sendiri. Tentunya, dengan buliran bening yang menghiasi pipi kusam yang tidak terkena polesan bedak selama berhari-hari.
__ADS_1