Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#21


__ADS_3

Mendengar penuturan itu, Dicky langsung melihat Hero yang ada di sampingnya. Hero tidak bergeming. Dia hanya diam sambil melihat kepergian Merlin yang meninggalkan sekat pembatas ruang tamu dengan kamar apartemen tersebut.


Saat itu, Dicky baru menyadari apa yang dia lakukan pada Merlin barusan. Dia seperti sedang berusaha menjaga hati Merlin agar tidak kesal padanya. Dan Hero, Hero menyadari apa yang telah terjadi. Makanya, Hero hanya diam saat Dicky melihat padanya.


'Ah, biarkan saja. Biarkan mereka berpikir apa yang ingin mereka pikirkan. Yang jelas, aku sedang berusaha memperbaiki hubungan antara aku dengan Merlin. Jika aku tidak melakukannya, mungkin mama akan tahu semua yang telah terjadi antara aku dan Merlin,' kata Dicky dalam hati.


Beberapa menit menunggu, Merlin keluar dengan wajah yang terlihat segar. Dia gadis sederhana yang terlihat sangat cantik. Hanya saja, hati Dicky masih ada seseorang yang menghuni. Jadi, kecantikan karena kesederhanaan itu hanya bisa dia puji dengan setengah hati.


"Nona sangat cantik, tuan muda."


"Yah, lumayan. Masih terlihat seperti gadis kota cantik pada umumnya."


"Apakah benar begitu?" tanya Hero sambil menoleh untuk melihat wajah Dicky yang ada di sampingnya.


"Tentu saja."


"Tapi, tuan muda menyukainya bukan? Karena aku ingat, tuan muda sangat menyukai gadis dengan kesederhanaan."


Dicky menoleh. "Aku menyukai gadis desa yang cantik dengan kesederhanaannya. Karena itu lebih terlihat natural. Bukan gadis kota."


"Dan, seharusnya kamu tahu apa yang sedang kamu katakan barusan. Aku tidak akan pernah menggantikan dia dengan siapapun, walau terlihat sesederhana apapun orang itu. Karena dia, tidak akan ada gantinya dalam hatiku," ucap Dicky dengan nada penuh penekanan.


"Maaf, tuan muda. Saya salah."


Belum sempat Dicky menjawab apa yang Hero katakan, Merlin sudah sampai.


"Kalian sedang bicara soal apa? Terlihat begitu serius kayaknya."


"Tidak ada. Ayo berangkat sekarang! Hari sudah semkin siang."


Mereka lalu meninggalkan apartemen lantai lima itu dengan cepat. Suasana perjalanan terasa agak dingin dan kaku. Karena tidak ada yang berucap satu patah katapun di antara mereka bertiga.


____


Mereka sampai di mall terbesar di kota itu setelah menempuh waktu hampir satu jam perjalanan. Hero langsung membuka pintu untuk Dicky. Sedangkan sopir, membuka pintu untuk Merlin.


"Terima kasih banyak, pak. Tapi, sepertinya, lain kali bapak tidak perlu melakukan hal itu untukku. Aku bisa kok buka pintu ini sendiri," ucap Merlin sambil keluar dari mobil tersebut.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih, Lin? Itukan memang tanggung jawab pak sopir pada majikannya. Dia bukain pintu buat kamu, karena kamu adalah istriku."


"Iya, nona. Ini memang sudah tanggung jawab saya. Bapak hanya melakukan tugas bapak dengan baik. Itu saja."


"Pak, aku memang istri tuan muda kalian. Tapi aku bukan tuan putri. Tidak perlu melakukan apa yang bisa aku lakukan sendiri ya," ucap Merlin sambil tersenyum manis. Lalu beranjak pergi mendahului Dicky dan Hero yang terlihat sedang kebingungan dengan sikap Merlin barusan.


"Tuan muda, sikapnya berbanding terbalik dengan Cindy."


"Aku tau."


"Pak Tejo. Lain kali, ikuti saja apa yang dia katakan. Jika dia tidak mau, maka jangan lakukan."


"Baik, tuan muda. Akan bapak lakukan seperti perintah tuan muda."


Dicky dan Hero bergegas menyusul Merlin yang berjalan masuk ke mall duluan. Dengan langkah besar, akhirnya, mereka bertiga bisa sama-sama masuk ke dalam secara bersamaan.


"Hero. Temani Merlin belanja apa yang dia inginkan. Aku akan pergi cari sesuatu untuk seseorang."


"Baik, tuan muda."


Merlin mengikuti dengan langkah berat. Karena hatinya sedang merasakan sedikit rasa kecewa akibat ucapan Dicky barusan. Sejujurnya, dia berharap ditemani oleh Dicky dalam memilih apa yang ingin dia beli. Hanya saja, sepertinya, itu tidak akan terwujud.


Rasa kecewa itu semakin kuat saat mendengar ucapan Dicky yang mengatakan akan membeli sesuatu untuk seseorang. Itu artinya, Dicky datang ke mall ini bukan hanya untuk menemani dan membeli barang-barang untuknya. Melainkan, karena ingin membelikan barang untuk seseorang.


"Nona, kita sudah sampai. Silahkan pilih apa yang nona inginkan di sini," ucap Hero ketika mereka samapi di tempat pakaian perempuan.


"Aku ... sepertinya, mood belanjaku sudah hilang, Hero. Aku tidak tahu apa yang ingin aku beli di sini."


'Ya Tuhan, belanja pakai mood? Yang benar saja. Apakah semua wanita seperti ini? Mau belanja harus ada moodnya dulu. Jika tidak ada mood belanja, maka tidak akan jadi belanja. huh .... 'Hero mengeluh dalam hati.


"Lho, bukannya tadi terlihat bersemangat, nona muda? Lagipula, nona muda tidak ada baju untuk dipakai nanti. Di sini ada banyak baju, nona muda bisa ambil semua yang nona suka."


"Aku tidak tahu yang mana yang aku suka, Hero. Aku bingung sekarang."


"Oh ... ya sudah kalo gitu. Biarkan saya coba pilih baju untuk nona muda. Bagaimana?"


"Terserah kamu saja. Kamu bisa melakukan apa yang kamu inginkan."

__ADS_1


"Hm ... baiklah. Saya akan coba pilih. Nona tunggu dan lihat nanti. Jika tidak suka, maka langsung katakan saja ya."


"Terserah kamu saja."


"Oke. Tunggu di sini," ucap Hero sambil beranjak.


Baru juga Hero pergi beberapa langkah untuk memilih baju, Merlin langsung memutar tubuh. Tiba-tiba, dia langsung menabrak seseorang yang sedang berjalan mendekat ke arah dirinya.


"Aduh .... " Orang itu mengeluh sambil memegang bahunya.


"Ah maaf, aku tidak sengaja melakukannya."


"Hei! Gadis tidak punya mata, bisa-bisanya kamu menabrak tubuh mungilku ini. Benar-benar menyebalkan," ucap orang yang baru saja bertabrakan dengan Merlin.


"Lho, aku kan sudah bilang, kalau aku gak sengaja. Kamu kok malah ngegas gitu. Kamu juga yang salah, main jalan gak lihat orang." Merlin membalas dengan nada yang sama.


"Eh ... kamu kok malah ikutan ngegas sih. Kamu yang tiba-tiba bergerak sehingga menabrak putriku." Perempuan paruh baya yang ada di sebelah gadis itu ikutan bicara dengan nada yang tak kalah tinggi.


"Lho, kalian kok malah menyalahkan aku sih. Ini itu bukan karena di sengaja lho ya. Tabrakan kecil saja kalian permasalahkan, bagaimana jika tabrakan besar yang mengakibatkan dia jatuh pingsan atau mungkin, sekarat," ucap Merlin sambil mengarahkan telunjuknya pada gadis yang baru saja bertabrakan dengannya.


Mata kedua orang yang ada dihadapannya membelalak akibat ucapan Merlin.


"Apa kamu bilang? Kamu nyumpahin anak saya biar sekarat? Dasar gadis tidak tahu diri kamu ya. Bisa-bisanya kamu berucap kata-kata buruk pada anak saya," ucap wanita itu dengan nada keras yang membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka bertiga.


Saat itu, gadis yang seumuran dengan Merlin menyadari satu hal. Matanya fokus pada ada yang baru saja dia sadari. Hal itu membuat dia benar-benar melotot untuk meyakinkan apa yang dia lihat saat ini.


"Ma, itu ... apa benar yang aku lihat? Baju yang dia pakai itu, baju milik kak Dicky!" Gadis itu berucap dengan nada tinggi lebih mirip menjerit sambil menunjuk ke arah Merlin.


Merlin mendadak di buat bingung dengan apa yang gadis itu ucapkan. Bagaimana tidak? Gadis itu bicara soal switer yang dia pakai sekarang. Switer ini memang milik Dicky, tapi bagaimana gadis ini bisa tahu dengan baju ini? Hal itulah yang membuat Merlin di selimuti dengan rasa bingung.


Saat itu pula, Hero datang dengan membawa dua pasang baju di tangannya. Satu dress sederhana berwarna merah muda, sedangkan satu berwarna kuning. Hero langsung memanggil Merlin untuk menanyakan pendapat soal baju yang dia pilih itu.


"Nona muda, bagaimana .... " Hero tidak bisa melanjutkan kata-kata yang ingin dia ucapkan saat melihat kedua orang yang ada di hadapan Merlin saat ini. Lidahnya terasa kelu saat melihat kedua orang tersebut.


Sementara itu, dua orang yang baru saja berdebat dengan Merlin mendadak kaget dengan kehadiran Hero. Bukan dengan kehadiran, tapi dengan panggilan yang Hero ucapkan barusan. Panggilan yang membuat mereka tidak bisa bernapas dengan baik karena kaget.


"He--Hero? Barusan ... kamu panggil dia apa?" tanya gadis itu dengan tatapan juga nada tak percaya dengan apa yang telinganya dengar.

__ADS_1


__ADS_2