Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#76


__ADS_3

Kini, untuk pertama kalinya Merlin bersikap sangat manja dihadapan Dicky. Hal itu membuat Dicky tertegun sesaat.


'Ternyata, dia juga bisa manja? Aku pikir, dia akan kaku dan dingin untuk selamanya. Tapi, setelah saling mengungkapkan perasaan, dia bisa menunjukkan sifat manjanya padaku.'


Dicky terdiam sambil bicara dalam hati. Dia juga terus memperhatikan wajah Merlin yang sekarang sudah beranjak bangun dari duduknya.


"Dic. Kenapa? Kok masih diam? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Merlin memasang wajah serius.


"Eh, tidak ada. Aku hanya sedikit syok dengan tingkah baru yang aku lihat dari kamu. Kemarin-kemarin, aku tidak pernah melihat kamu bicara dengan nada yang manja. Tapi barusan, kamu bicara dengan nada manja padaku. Bisakah aku minta satu hal padamu?"


"Mau minta apa? Jika aku bisa, maka akan aku turuti. Tapi tunggu! Apa ada yang salah dengan nada manja yang aku ucapkan tadi? Jika ia, maaf, aku tidak akan menunjukkannya lagi padamu. Aku janji."


"Eh, apa yang kamu katakan. Aku malah sangat senang dengan sikap manja mu itu. Karena saat kamu mengeluarkan sikap manja, aku merasa, kita adalah pasangan yang sesungguhnya. Bukan seperti hari-hari yang telah lalu. Setiap bertemu hanya bicara dengan nada serius, dingin, juga ketus. Aku tidak suka itu. Rasanya, kita seperti orang asing yang tidak saling kenal. Padahal, aku sudah mengubah hubungan kita menjadi teman. Tapi tetap saja, rasanya aneh."


"Oh ya, aku ingin minta padamu, bisakah kamu tetap bersikap manja padaku, Lin? Karena aku sangat suka sikap manja mu. Dan, mulai sekarang, bisakah kita saling terbuka satu sama lain. Jangan pernah ada rahasia diantara kita berdua. Jika ada hal mengganjal atau tidak mengena di hati, kita harus diskusikan bersama. Agar kelak tidak akan terjadi salah paham diantara kita. Bagaimana? Apa kamu setuju?"


"Mm ... baiklah. Aku setuju dengan usulan itu. Tapi, semuanya butuh waktu untuk bisa mengubah hubungan kita seperti yang kamu harapkan. Karena aku manusia, tidak bisa instan."


"Aku tahu, Lin. Memang semua butuh proses kan? Tidak bisa langsung jadi. Mie instan yang ada tulisannya instan saja butuh proses di masak agar kamu bisa makan. Apalagi kita sebagai manusia. Kamu tenang saja, kita akan sama-sama mulai membangun hubungan kita secara perlahan."


"Kita mulai dari sini. Di tempat ini. Mm ... dari panggilan saja. Aku ingin kamu panggil aku dengan panggilan kakak. Itu akan terasa lebih nyaman."


"Boleh. Aku akan coba buat ngubah panggilan aku ke kamu."


"Jangan kamu lagi dong, sayang." Dicky berucap sambil memasang wajah cemberut pada Merlin.


Mendengar kata sayang yang Dicky ucapkan, Merlin mendadak memasang wajah kaget. Dia menatap wajah Dicky dengan tatapan aneh.


"Sa--sayang?"


Dicky mengangguk pelan.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu gak suka ya? Kalo gak suka, aku gak akan panggil kamu kata itu lagi."


"Eg--eggak kok. Bukan nggak suka. Hanya saja ... hanya saja, itu sedikit aneh di telingaku."


"Aneh, itu karena kamu pertama kali mendengarnya. Tapi, aku yakin, nanti akan terbiasa."


Merlin tidak menjawab. Dia hanya memperlihatkan senyum kecil di bibirnya. Namun, senyum itupun masih terlihat kalau sekarang, dia sedang malu-malu dengan perubahan kehidupannya saat ini.


"Ayo pulang! Hari semakin sore. Nanti, kita akan kemalaman sampai rumah," ucap Merlin mengalihkan perhatian Dicky yang terus menatapnya sejak tadi.


"Mm ... sebenarnya, aku memang ingin mengajak kamu pulang malam, Lin. Ada hal lain yang ingin aku perlihatkan padamu lagi."


"Kamu tidak berniat ajak aku nginap di sini kan, Dic? Eh, kak."


Dicky tersenyum.


"Jika kamu bersedia. Kenapa tidak?"


"Eh ... ng--nggak. Aku gak ingin nginap di sini. Aku gak siap."


"Eh ... anu ... ti--tidak ada. Pokoknya, aku gak mau nginap di sini. Takut papa marah kalo tahu kita datang ke sini tanpa kasi tahu dia dulu. Kita gak izin pada papa sebelumnya buat berkunjung. Lagian, kamu tadi bilang kan? Kalau gak ada yang boleh tinggal di vila indah ini."


"Kita cuma nginap satu malam aja kali. Papa gak akan marah kok. Lagian .... "


"Nggak deh ya. Aku gak mau kalau bikin masalah. Kamu kan tahu seperti apa hidupku sebelumnya. Aku gak mau nambah orang buat benci aku lagi."


Dicky langsung merangkul Merlin secara tiba-tiba. Dia menarik Merlin ke dalam pelukannya.


"Tidak akan ada yang benci kamu lagi, sayang. Lagipula, kamu tidak perlu terlihat gugup seperti itu. Aku tidak akan memaksa kamu untuk tinggal di sini. Juga ... tidak akan memaksa kamu buat melakukan apa yang tidak kamu sukai. Kamu bebas memilih apa yang kamu inginkan, dan bebas menolak apa yang kamu tidak sukai. Aku akan mendengarkan, dan selalu mendukung setiap keputusan kamu."


Mendengar ucapan itu, Merlin yang awalnya ragu dengan pelukan yang Dicky berikan, malah menambah erat pelukan itu. Dia membenamkan wajahnya dengan penuh perasaan. Dia merasakan sebuah ketenangan menghampiri hati.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Dicky. Kata-kata yang kamu ucapkan sangat menenangkan hatiku."


Dicky tersenyum. Dia tidak menjawab ucapan terima kasih itu. Baginya, ketenangan dari ucapan Merlin barusan itu sudah mampu membuat hatinya ikut merasakan hal yang sama. Dia merasa ikut tenang dan sangat bahagia karena mampu membuat orang yang dia cintai bahagia.


"Eh iya, maaf. Aku lupa. Kakak. Maafkan aku ya." Merlin berucap dengan nada canggung.


"Kamu lucu, sayang," ucap Dicky sambil menyentuh hidung Merlin.


"Gak papa. Aku maklum. Semua butuh proses, bukan?"


Mereka sama-sama tersenyum menikmati saat-saat awal bahagia yang berusaha mereka rajut. Berusaha saling melengkapi, itu adalah hal penting untuk berjalan bersama.


Mereka meninggalkan taman mereka saat menyadari hari semakin sore. Setelah berpamitan pada ketua pelayan, mereka meninggalkan vila indah itu.


Saat mobil mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut, Merlin masih terus melihat vila merak yang begitu indah untuk dia tinggalkan.


"Kamu enggan untuk pergi ya?" tanya Dicky saat menyadari perlakuan istrinya yang terus melihat vila itu walau mobil sudah berjalan.


"Tidak juga. Hanya sedikit berat hati saja. Oh ya, sebenarnya, kamu mau perlihatkan padaku hal apa jika kita pulang malam?"


"Sesuatu. Nanti saja, kita akan datang ke sini lagi jika ada waktu."


"Ih, jangan buat aku penasaran. Aku gak mau mikir terus tau."


Sikap manja itu tidak bisa Dicky tolak. Dia tersenyum sambil membelai lembut rambut Merlin.


"Itu .... "


Ciiiit ....


Mobil tiba-tiba berhenti mendadak membuat Dicky tidak sempat bicara. Perhatian mereka teralihkan pada sopir yang tiba-tiba mengerem.

__ADS_1


"Kamu gak papa?" tanya Dicky dengan nada cemas sambil memeriksa keadaan sang istri yang sekarang ada di dalam pelukannya.


"Aku gak papa kok. Gak perlu cemas. Tapi, ada apa ya? Kok ngerem mendadak."


__ADS_2