
Terdengar tawa di seberang sana. Tio merasa geli dengan ucapan Dicky barusan yang benar-benar kesal padanya.
"Tio .... "
"Oh, maaf tuan muda. Aku lupa soal itu."
"Baiklah, aku akan katakan infonya. Tolong jangan marah ya." Tio berucap dengan nada menggoda.
"Katakan cepat! Aku tidak punya banyak stok kesabaran."
"Baik-baik."
"Jenny ternyata jatuh cinta pada anak pintar kelas kita. Dia sekarang sedang berusaha mengejar cowok pintar itu untuk dia pacari, Dicky."
"Cowok pintar? Dika maksud kamu?"
"Hm ... iya. Siapa lagi kalau bukan Dika. Meski terlahir dari keluarga sederhana, tapi dia juga punya latar belakang yang bagus. Makanya, dia juga jadi incaran para gadis."
"Aku tidak butuh penjelasan darimu, Tio. Aku hanya menyebut namanya, tidak minta kamu menjelaskan."
"Iya aku tahu. Ah, serba salah bicara denganmu. Aku bicara seperti itu, cuma ingin memastikan kamu saja, kamu tidak berniat membantu usaha Jenny buat semakin dekat dengan Dika bukan?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak bodoh, Tio. Jika aku bantu, namanya menolong, bukan memberi pelajaran buat dia."
"Bagus deh kalo gitu. Aku setuju. Katakan saja rencananya nanti padaku. Aku akan bantu apapun rencana yang ingin kamu jalankan untuk dia."
"Nanti, kamu akan tahu."
"Baiklah. Sampai jumpa nanti."
__ADS_1
"Hm .... "
Panggilan itupun langsung berakhir. Setelah panggilan selesai, Dicky langsung ingat dengan Merlin. Saat tidak menemukan Merlin lagi, mendadak, hati Dicky dilanda kepanikan. Dia segera turun dari lantai atas untuk mencari keberadaan Merlin.
Sementara Tio, setelah panggilan terputus, dia langsung menyadari kalau sekarang, dia berada di jalan yang tidak dia ketahui tempatnya. Tio baru sadar, kalau dia salah jalan setelah panggilan berakhir.
"Ah! Di mana ini? Aku terlalu asik ngobrol sampai lupa dengan jalan. Tio-Tio, kamu ini masih waras gak sih?"
Tio mendengus dengan kesal atas apa yang baru saja dia alami. Seketika, dia menepikan mobilnya, lalu menghentikan mobil tersebut. Sesaat kemudian, mata Tio liar menyapu seluruh jalanan asing yang baru saja dia datangi itu dengan seksama.
Tiba-tiba, mata Tio menangkap sesosok perempuan yang sedang menangis. Mau berpikiran yang nggak-nggak, tapi hari siang bolong. Mana perempuan itu jauh dari bayangan yang menakutkan lagi.
Tio berjalan mendekat setelah mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki. Meski sebenarnya, keberanian itu masih lebih kecil dari rasa takut yang ada dalam hatinya sekarang. Namun, dia tetap melangkah memaksakan hati mendekat.
"Ee ... mbak. Eh, adek. Aduh ... siapa ya? Ah, apa sajalah. Kamu kenapa menangis di sini? Ada masalah apa sampai nangis di luar seperti ini?"
"Iya aku tahu itu bukan urusan aku. Tapi ... sebenarnya aku butuh pertolongan kamu. Aku tersesat. Tidak tahu jalan pulang. Tolong, katakan padaku ini jalan apa!"
Mendengar ucapan itu, gadis tersebut mengangkat wajahnya. Saat Tio bertatapan dengan gadis itu, dia seperti pernah melihat gadis tersebut. Cuman, sayangnya ingatan itu tidak jelas sehingga Tio tidak tahu pernah bertemu di mana.
"Kamu ... sepertinya, aku pernah melihat kamu. Tapi di mana ya?" tanya Tio terus berusaha mengingat.
"Aku tidak kenal kamu. Kamu tanya ini jalan apa, bukan? Ini jalan Melati. Tinggal jalan sedikit kebelakang saja, kamu sudah bisa menemukan jalan raya."
"Ah, terima kasih banyak. Kamu ternyata sangat baik. Oh ya, di mana rumahmu? Biar aku antar kamu pulang sekalian. Kebetulan, hari sangat mendung. Sepertinya akan turun hujan sebentar lagi."
"Aku ... aku belum bisa pulang sekarang. Tugas yang aku miliki masih belum aku selesaikan." Perempuan itu berucap dengan nada sedih.
"Tugas? Kamu punya tugas? Mm ... katakan padaku apa tugasmu. Biar aku bantu kamu selesaikan."
__ADS_1
"Tidak perlu! Aku tidak perlu bantuan darimu. Kamu pergi saja," ucap gadis itu dengan nada sedikit takut.
"Kenapa kamu terlihat sangat tegang saat aku katakan aku ingin membantu kamu? Apakah ... tunggu, aku ingat aku pernah bertemu kamu di mana. Kamu Cindy bukan? Calon istri tuan muda Prasetya yang tidak dianggap itu?"
"Bu--bukan! Bukan. Aku bukan ... Cindy. Aku bukan calon istri Dicky."
"Nah lho, tau dari mana kamu kalau tuan muda Prasetya itu namanya Dicky hm?"
"Itu ... pergi sana. Gak perlu bahas soal yang tidak penting. Aku tidak ingin buang waktuku buat ngobrol sama kamu. Pergi-pergi!"
Selesai bicara seperti itu, gadis yang tak lain adalah Cindy itupun bangun dari duduknya. Dia berniat untuk segera beranjak meninggalkan Tio yang telah membuat hatinya merasa sangat kesal. Namun, tangan Tio bergerak cepat untuk menghalangi niat Cindy yang berusaha ingin pergi meninggalkannya.
Sementara Dicky, dia bergegas menuju taman untuk memastikan keadaan sang istrinya telah luput dari penglihatan matanya barusan.
"Sial! Jika terjadi apa-apa dengan Merlin, aku tidak akan mengampuni mu." Dicky bergumam sambil terus berjalan cepat.
Kekhawatiran Dicky itu sebenarnya terlalu berlebihan. Karena Merlin dan Intan sekarang sedang berada di bawah pohon yang lebat. Di sana juga ada para tukang kebun yang sedang membersihkan tanaman. Jadi, bagiamana mungkin Intan melakukan sesuatu yang tidak baik di tempat terbuka. Dan lagipula, ini adalah mansion. Tempat yang di jaga ketat oleh orang-orang terpercaya selama puluhan tahun.
Langkah Dicky terhenti ketika melihat Merlin yang sedang menyeka air mata Intan yang sedang jatuh perlahan di pipi. Merlin juga terlihat begitu antusias dengan tatapan mengiba melihat ke wajah Intan yang sedang tunduk sambil menangis.
"Tante, jangan pergi dari sini. Mereka mungkin hanya marah sesaat saja pada tante. Jadi, tante harus tetap bersabar dan tunjukkan pada mereka, kalau tante tidak seburuk yang mereka kira. Jikapun tante pernah melakukan kesalahan sebelumnya, itu wajar. Karena kita sebagai manusia biasa, melakukan kesalahan itu adalah hal yang lumrah."
"Kamu memang anak yang baik, Merlin. Kamu punya jiwa besar untuk memaafkan orang lain. Kamu juga anak yang paling berani yang pernah aku temui. Kata-katamu mampu menenangkan hati yang sedang bergemuruh. Tapi, tidak semudah itu untuk mencari maaf di keluarga ini, Nak. Mereka tidak sama seperti kamu. Mereka semua punya hati yang keras."
"Sekeras-kerasnya karang, pasti akan terkikis oleh ombak, tante. Begitu juga hati manusia. Sekeras apapun hati orang, pasti akan luluh jika kita terus memperlihatkan ketulusan yang kita miliki."
Intan terdiam. Lalu, senyum manis terukir di bibirnya. Dia tersenyum sambil memegang lembut tangan Merlin.
"Kamu benar. Tante akan coba apa yang kamu katakan. Oh ya, dari tadi ... kamu panggil aku tante melulu. Mm ... aku ini ... mamanya Dicky lho. Yah ... meskipun mama tiri yang sama sekali tidak dia anggap ada."
__ADS_1