Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#48


__ADS_3

"Eh ... mau ke mana?" tanya pemuda itu sambil menahan tangan Merlin dengan cepat.


"Lepaskan! Kamu gak punya sopan santun?" Merlin menatap tajam ke arah pemuda tersebut.


Mendapat tatapan tajam dari Merlin, si pemuda segera melepaskan tangan Merlin. Dia menarik senyum bersalah yang terlihat sangat tidak enak untuk dilihat.


"Eh ... maaf. Maafkan aku, nona cantik. Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan padamu. Aku hanya ... hanya ingin menahan kamu supaya jangan pergi saja. Aku cuma ingin berteman denganmu. Oh ya, siapa nama kamu? Namaku ... Tora."


Ya, dia Tora. Sahabat masa lalu Dicky yang sekarang sudah berubah menjadi musuh bebuyutan untuk Dicky. Tora terus menahan uluran tangannya yang masih belum Merlin sambut.


Sementara Merlin, dia diam sambil melihat uluran tangan itu. Rasanya agak berat untuk dia menyambut uluran tangan tersebut.


"Maaf Tora. Aku buru-buru. Lain kali saja," ucap Merlin sambil berjalan cepat meninggalkan Tora.


Bukannya marah dengan sikap angkuh, acuh, dan sombong yang Merlin tunjukkan, Tora malah tersenyum manis sambil melihat kepergian Merlin. Ternyata benar, ada banyak tipe laki-laki di dunia ini yang melihat kelebihan perempuan. Ada yang marah jika diabaikan. Ada pula yang malahan semakin merasa tertarik jika diabaikan. Benar-benar beragam sifat yang laki-laki miliki.


"Luar biasa. Perempuan pertama yang sangat berani menolak aku. Bahkan, sekedar berkenalan saja tidak mau. Tuturnya juga terdengar sangat tegas dan berani. Gadis cantik yang luar biasa," ucap Tora sambil terus tersenyum.


"Ah ... rasa apa ini? Tora-Tora. Sadar kamu. Baru pertama ketemu sudah mikir yang jauh-jauh. Ini hati juga, ngapain rasanya jadi aneh gini. Benar-benar gak masuk akal kalian semua anggota tubuhku."


Tora sibuk memikirkan Merlin. Sementara Merlin, dia terus berjalan menjauh meninggalkan taman.

__ADS_1


"Semoga pemuda aneh itu tidak mengikuti aku. Ih, bikin kesal saja. Aku datang ke sini untuk menenangkan pikiran. Kenapa malah bertemu dengan orang gila sih?"


Saat itu pula, sebuah mobil menepi karena Melihat Merlin. Penumpang yang ada di dalam mobil tersebut langsung turun dengan cepat untuk menghampiri Merlin yang masih diam berdiri di bahu jalan.


"Lin. Kamu kok bisa ada di sini sih?" tanya Dicky dengan wajah yang terlihat sangat lega. Dia langsung menyelimuti Merlin dengan baju jas yang dia bawa dari mobil sebelumnya. Kemudian, dia merangkul tubuh mungil yang sudah tertutup jas itu dengan penuh kasih sayang.


Merlin tidak berucap. Lidahnya terasa sangat berat untuk dia gerakkan. Perlakuan Dicky barusan membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


Dia juga tidak tahu harus senang atau sedih sekarang. Karena di satu sisi, dia bahagia dengan perlakuan Dicky barusan. Sementara di sisi lain hatinya, dia sedih. Tapi entah sedih karena apa. Mungkin sedih karena masalah yang baru saja dia alami, atau mungkin sedih karena perlakuan Dicky yang terlalu manis. Namun sementara dia tahu, dalam hati Dicky bukan dia yang bertahta, melainkan perempuan lain yang tidak dia ketahui siapa namanya. Yang membuat Dicky kehilangan separuh akal sehatnya waktu itu.


"Lin. Ayo pulang! Kita bicarakan di rumah saja apa yang telah terjadi hari ini," ucap Dicky dengan tangan yang masih melingkar di bahu mungil milik Merlin.


Entah dapat dorongan dari mana, Merlin langsung mengikuti apa yang Dicky katakan. Namun, dia masih tidak berucap sepatah katapun pada Dicky untuk saat ini.


Sejak masuk ke dalam mobil, hingga mobil berjalan meninggalkan tempat sebelumnya, Merlin masih tetap diam. Dia tidak berucap sepatah katapun. Hal itu membuat Dicky kembali merasa cemas.


Dalam perasaan cemas itu, Dicky tidak memikirkan hal lain selain mengembalikan Merlin ke sifat awalnya. Dicky menyentuh tangan Merlin yang kebetulan berada di atas pangkuan si pemiliknya.


Hal itu sontak membuat Merlin sedikit kaget. Namun, dia terlalu lemah untuk menolak sentuhan dari laki-laki yang pesonanya sangat kuat seperti Dicky.


"Lin, aku minta maaf untuk kejadian tadi pagi. Maafkan aku yang datang terlambat sehingga kamu dapat masalah besar tadi."

__ADS_1


"Tidak perlu minta maaf padaku. Itu bukan salah kamu. Lagian, semuanya sudah terjadi, Dic. Tidak bisa diubah lagi."


"Kamu marah padaku, Lin? Karena semua masalah ini, akulah penyebabnya."


"Sudah aku katakan tadi, itu bukan salah kamu. Jadi, kamu tidak perlu menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi padaku. Aku tidak marah. Hanya sedikit kecewa dengan apa yang baru saja aku alami. Sayangnya, aku tidak tahu harus bilang kecewa pada siapa. Karena yang salah di sini bukan orang lain, melainkan diriku sendiri."


"Kenapa kamu malah menyalahkan dirimu sendiri, Merlin? Aku yang mengajak kamu menikah kemarin, bukan? Jika tidak, kejadiannya tidak akan seperti ini. Kamu tidak akan dikucilkan dan tidak akan dikeluarkan dari sekolah hari ini."


Merlin terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dari Dicky. Wajah sedih kini terlihat dengan jelas di wajah Merlin. Sepertinya, usaha untuk tetap tegar atas masalah yang baru saja dia alami, tidak akan berhasil.


Menyadari perubahan raut wajah Merlin, Dicky segera menyentuh pundak Merlin dengan lembut.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Menangis lah jika kamu tidak kuat untuk menahan tangisan itu lagi."


"Si--siapa bi--bilang aku ingin .... " Merlin ingin menyanggah. Namun sayangnya, air mata tidak bisa diajak kerja sama. Air mata itu jatuh duluan sebelum dia selesai bicara.


Tanpa berucap lagi, Dicky langsung menarik Merlin ke dalam pelukannya. Itulah wanita. Berusaha untuk tetap tegar dan terlihat kuat. Padahal sebenarnya, sangat amat rapuh.


"Hiks ... hiks .... " Isak tangis terdengar jelas sekarang. Karena saat ini, Merlin benar-benar ingin menumpahkan kesedihan yang ada dalam hatinya. Dada bidang itu dia rasa mampu untuk menjadi penyangga dari rapuhnya hati yang sedang terluka.


"Dic, mereka telah mengeluarkan aku dari sekolah. Bagaimana aku bisa mengejar apa yang aku cita-citakan sekarang?" tanya Merlin di sela-sela tangisannya.

__ADS_1


"Jangan pikirkan soal itu. Ada aku di belakangmu. Kamu tidak akan dikeluarkan dengan kekuasaan yang aku miliki." Dicky berucap sambil membelai lembut rambut Merlin.


__ADS_2