
Merlin membalas senyum itu dengan senyum lebar yang terlihat begitu manis di mata Dicky yang sedang bersembunyi di balik tanaman hias. Melihat senyum itu, tanpa bisa Dicky cegah. Hatinya begitu sekarang menginginkan senyum itu untuk dia lihat setiap saat.
'Dia benar. Sekeras apapun hati manusia, pasti akan luluh jika diperlihatkan dengan ketulusan yang kita miliki. Merlin, aku akan perlihatkan ketulusan yang aku punya padamu.' Dicky berucap dalam hati.
'Ah, sial! Apa yang aku pikirkan sih sebenarnya?' Dicky kembali bicara dalam hati. Namun, kali ini dia merasa sedikit kesal pada dirinya sendiri.
Sebenarnya, dia menginginkan Merlin untuk menjadi bagian dari hidupnya. Tapi, perasaan egois itu lebih besar dari pada cinta. Jadinya, dia selalu kalau dengan rasa egois yang meraja lela di hatinya saat ini.
Dicky beranjak pergi. Dia meninggalkan tempat di mana dia sebelumnya berdiri. Sementara itu, Tio sudah berhasil membujuk Cindy agar mau bicara dengannya. Karena kebetulan sedang gerimis, Cindy menerima tawaran Tio untuk berteduh di dalam mobil.
"Aku sedang mama tugaskan untuk mencari orang. Mama melarang aku pulang sebelum aku menemukan orang yang aku cari." Cindy berucap sambil menundukkan kepalanya.
"Orang? Apa boleh aku tahu siapa orang itu?"
"Tidak. Aku tidak bisa mengatakan siapa orang itu. Karena itu adalah hal pribadi."
"Ya sudah kalo gitu. Bagaimana kalau aku bantu kamu carikan saja orang itu sekarang? Mungkin, jika aku membantumu, kita akan menemukan orang itu."
"Tidak. Tidak perlu. Aku tidak ingin menemukan orang itu. Karena ... karena ... sebenarnya, aku yang sengaja membiarkan orang itu pergi. Karena aku kasihan dengan orang itu. Mama memperlakukan dia secara tidak layak. Jadi, aku bantu dia buat pergi."
"Tapi, aku tidak menyangka, mama malah memperlakukan aku sangat kasar gara-gara orang itu hilang. Mama bahkan melarang aku pulang jika aku tidak menemukan orang itu."
Meskipun merasa tidak mengerti dengan apa yang Cindy katakan, Tio terpaksa membenarkan semua perkataan Cindy. Dia pun menawarkan untuk memberikan Cindy tempat tinggal malam ini karena dia yakin, orang yang gadis itu cari tidak akan ketemu dalam waktu singkat. Atau bahkan tidak akan bertemu sama sekali.
Selesai bicara dengan Intan, Merlin memilih untuk mendatangi ruang kerja Bagas. Dia tahu Bagas ada di dalam dari salah satu pelayan yang sedang bertugas di ruang tamu.
Merlin mengetuk pintu dengan perasaan berat. Sedikit rasa takut juga menghiasi hati Merlin saat ini. Rasa itu semakin kuat ketika suara Bagas yang terdengar berat dari dalam ruangan yang mempersilahkan dia masuk ke dalam.
"Merlin." Bagas berucap sambil memberikan senyum manis ketika melihat wajah menantunya yang muncul saat pintu terbuka.
__ADS_1
"Apa papa sedang sibuk?" tanya Merlin dengan sangat hati-hati.
"Tidak juga. Hanya sedikit bekerja agar tidak terlalu banyak membuang waktu secara sia-sia. Oh ya, ayo sini duduk."
"Baik, Pa." Merlin berjalan pelan mendekat, lalu duduk di depan Bagas.
"Hm ... pa, aku ke sini karena ingin bicara sesuatu sama papa. Papa benar-benar gak sibukkan?"
"Kamu mau bicara apa, Nak? Bicarakan saja. Tidak perlu merasa sungkan, juga tidak perlu merasa takut. Anggap aku papa kandungmu."
Merlin terdiam sambil menatap lekat wajah Bagas yang ada di depannya saat ini. Dalam hati dia berkata.
'Sayangnya, papa kandungku tidak sebaik kamu, pa. Dia malahan tidak menganggap aku anak kandungnya.'
"Merlin. Kok diam?" Bagas berucap saat melihat Merlin diam termenung.
"Eh, mm iy--iya, Pa. Maaf. Aku sedang mengingat apa yang ingin aku bicarakan dengan papa tadi."
"Sekarang, kita bicarakan hal lain saja sambil menunggu ingatan kamu kembali."
"Eh ... tidak perlu, Pa. Aku sudah ingat apa yang ingin aku bicarakan sama papa sekarang."
"Kamu ini .... " Bagas berucap sambil menggelengkan kepalanya. Juga, tidak dia lupakan senyum manis buat Merlin.
"Pa, aku ingin minta satu hal sama papa. Tolong papa selidiki soal orang yang sudah menyekap dan menganiaya mama. Kasihan sekali mama, Pa. Dia butuh keadilan atas apa yang dia alami selama beberapa hari terakhir ini."
Mendengar ucapan itu, Bagas tidak langsung menjawab. Dia malahan terdiam sambil melihat wajah Merlin yang ada di hadapannya sekarang.
"Pa, aku hanya ingin peduli saja. Tidak bermaksud apa-apa. Juga tidak ada paksaan dari siapa-siapa. Aku minta bantuan sama papa ini, murni permintaan dari hati. Hati yang tidak terima jika kejahatan tidak mendapat balasan."
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu peduli dengan Intan. Kamu sudah tahu bukan? Intan itu bukan mama kandung Dicky. Intan juga sangat tidak baik. Dia licik dan ... ah, masih banyak lagi keburukan yang Intan lakukan untuk keluarga ini."
"Aku sudah tahu semua hal tentang mama Intan, Pa. Aku peduli karena aku merasa kasihan. Dia adalah anggota keluarga Prasetya, namun tidak dianggap sebagai anggota keluarga sama sekali."
"Papa ingat, aku datang hari ini karena mama. Aku tidak sengaja menemukan mama di jalan .... "
Lalu, Merlin menceritakan semua yang terjadi hari ini antara dia dengan Intan. Bagaimana mereka bertemu pertama kali, hingga dia sampai ke kediaman Prasetya ini. Semua ia ceritakan sampai tidak ada satupun yang terlewatkan.
Bagas yang mendengar cerita itu hanya menganggukkan kepala saja. Meski dia merasa masih kesal dengan apa yang Intan susah lakukan pada keluarganya. Namun, perkataan Merlin itu bisa dia terima dengan pikiran waras.
"Baiklah, papa mengerti dengan semua yang kamu katakan. Kamu tenang saja, papa akan cari tahu apa yang sudah terjadi dengan Intan selama dia tidak ada di rumah."
"Terima kasih banyak, Pa. Papa sudah mau mendengarkan apa yang aku katakan. Semoga keluarga ini kembali harmonis seperti sebelumnya. Oh ya, sepertinya, aku harus permisi dulu. Karena ini sudah sore, aku dan Dicky akan kembali ke rumah."
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Sering-sering main ke kediaman ini ya, Merlin."
"Iya, Pa. Pasti."
Merlin pun meninggalkan ruangan tersebut. Setelah berpamitan pada Bagas, dia juga tak lupa berpamitan pada Intan.
Mereka berdua mengantarkan Merlin sampai ke mobil. Dengan lambaian tangan, mereka melepaskan kepergian Merlin.
Bagas menahan tangan Intan ketika ingin berbalik setelah mobil anak mereka sudah tidak terlihat lagi. Untuk sesaat, mata mereka saling tatap. Namun, itu tidak lama. Karena Bagas melepaskan tangan Intan segera.
"Ikut aku ke ruang kerja. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu di sana."
"Mau bicara apa, Mas? Kenapa harus ke ruang kerja sih? Kenapa gak di sini saja?"
"Jangan banyak bertanya. Ikuti saja apa yang aku katakan."
__ADS_1
"Baiklah."