
Setelah kepergian Hero meninggalkan kamar itu, Dicky kembali berucap dalam keadaan setengah sadar. Kali ini, nada bicaranya melemah, namun terdengar sangat menyedihkan.
Bukan hanya berucap, Dicky juga menangis. Air mata jatuh perlahan dari matanya yang masih tertutup rapat. Merlin mendekat, lalu duduk di samping Dicky. Matanya menatap wajah tampan yang sedang terlelap sedih dengan perasaan ikut bersedih pula.
"Kasihan kamu, Dicky. Apa rasanya begitu sakit sampai kamu terlihat sangat menderita sekarang?" Merlin berucap sambil mengangkat tangan untuk menyeka air mata yang jatuh.
Tidak ada reaksi apapun dari Dicky. Merlin semakin merasa kasihan dengan pemuda yang berstatus sebagai suaminya saat dia melihat wajah tampan yang terlihat sedang menahan banyak beban itu. Meskipun sebenarnya, ada rasa lain yang sedang bermain dalam hati Merlin saat ini. Yaitu, rasa puas yang entah kenapa bisa dia rasakan di saat-saat seperti ini.
Hari semakin larut malam. Merlin merasa kelelahan sekarang. Dia pun mengakhiri aktifitasnya memperhatikan wajah tampan Dicky yang sedang terlelap.
Tangan nakal itu ingin membelai wajah tampan yang membuat imannya goyah. Tapi, dia segera sadar, kalau itu tidak ada gunanya. Buat apa melakukan hal-hal yang tidak berguna seperti membelai wajah orang yang sedang bersedih karena perempuan lain? Itu sama saja melakukan hal bodoh yang nyata. Setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran Merlin saat ini.
Dia kesal. Namun, hatinya tidak bisa marah. Karena saat melihat wajah Dicky yang sedang terluka, hatinya ikut merasakan hal yang sama. Ikut merasakan kesedihan yang Dicky rasakan saat ini, meskipun sebenarnya, Merlin tidak menginginkan hal itu.
Akhirnya, Merlin beranjak menjauh dari Dicky karena sudah tidak kuat menahan kantuk. Merlin merebahkan tubuhnya ke atas sofa yang berada di depan jendela. Dengan cepat, dia terhanyut ke alam mimpi karena memang sudah sangat mengantuk.
___
Adzan subuh sayup-sayup menyentuh telinga Merlin. Membuat Merlin yang sedang terlelap harus memaksakan diri untuk membuka matanya yang terasa sangat berat.
Dia pun memilih bangun dari baringnya saat ingat dengan Dicky yang berada di kamarnya saat ini. Perlahan, dia melangkah mendekat ke tempat tidur untuk mengecek keadaan Dicky sekarang.
Dicky masih terlihat diam dengan mata yang masih tertutup rapat seperti tadi malam. Perasaan cemas perlahan menyelip masuk menghampiri hati Merlin sekarang. Benaknya berpikiran yang tidak-tidak untuk kesehatan Dicky. Hal itu membuat hatinya semakin merasa cemas bahkan takut sekarang.
"Dic, apa kamu sudah baik-baik saja sekarang? Atau ... jangan bilang kalau kamu semakin tidak baik subuh ini ya," ucap Merlin dengan nada cemas bicara sendiri.
__ADS_1
Dia sengaja bicara dengan Dicky yang masih terlelap. Meski dia tahu kalau Dicky tidak akan menjawab apa yang dia katakan, tapi karena rasa cemas, dia mengabaikan soal itu.
Perlahan, Merlin beranjak semakin dekat dengan tubuh Dicky. Dia menatap wajah itu lagi subuh ini. Dengan tatapan cemas bercampur sedih. Tangannya ringan bergerak menyentuh dahi Dicky.
"Dic. Semoga kamu gak papa lagi sekarang," ucap Merlin sambil menyentuh dahi Dicky dengan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba saja, Dicky membuka mata karena sentuhan itu. Merlin yang kaget, kini semakin kaget saat tangan Dicky merangkul tubuh mungilnya untuk di bawa ke dalam pelukan.
"Dicky!" Merlin berteriak kaget sambil berusaha menghindar. Namun sayang, usaha itu tidak berhasil karena kekuatan Dicky jauh di atas kekuatan yang Merlin punya.
"Lepaskan aku, Dicky! Sadarlah! Aku Merlin, bukan gadis pujaan hatimu!"
Merlin berucap cepat saat tubuhnya benar-benar terkunci dalam pelukan Dicky. Dia yang tidak bisa apa-apa, hanya bisa berusaha menyadarkan Dicky atas apa yang Dicky lakukan padanya sekarang.
Mendengar ucapan itu, Dicky malah tersenyum manis. Bukannya melepaskan pelukan, dia malah semakin mempererat pelukannya pada tubuh mungil yang terasa begitu menghangatkan hatinya yang baru saja terluka.
"Apa? Kamu sudah sadar? Yang benar saja. Kalau benar-benar sudah sadar, maka jangan bermain-main dengan aku. Lepaskan aku sekarang juga!"
"Tidak akan. Aku tidak akan melepaskan kamu, Merlin."
"Dicky! Kamu sudah gila ya! Aku tahu kamu masih dalam pengaruh alkohol. Kamu belum sadar sepenuhnya. Jadi tolong, sadarkan dirimu dan lepaskan aku sekarang juga."
Dicky kembali tersenyum.
"Jika aku belum sadar sepenuhnya, memangnya kenapa? Aku tetap tidak ingin sadar dan aku tidak akan melepaskan kamu, Merlin."
__ADS_1
"Aku akan teriak sekarang juga. Biar Hero dan bi Imah datang ke kamar ini."
"Teriak lah jika kamu ingin teriak. Satu hal yang harus kamu ingat, aku dan kamu adalah pasangan suami istri. Sebagai sepasang suami istri, hal apapun yang aku lakukan padamu ini wajar."
"Dicky! Kamu sudah gila! Lepaskan aku!"
Merlin memberontak sekuat tenaga. Berusaha melepaskan dirinya sendiri dari pelukan Dicky. Karena apa yang Dicky katakan barusan itu benar sepenuhnya.
Semakin Merlin memberontak, semakin kuat pula tubuhnya Dicky peluk. Hingga posisi mereka berpindah, dari Merlin yang berada di atas tubuh Dicky, berganti ke bawah.
"Merlin tolong, hentikan apa yang kamu lakukan ini. Jangan berontak lagi, aku mohon. Aku hanya ingin memeluk tubuh untuk sebentar saja. Karena itu membuat hatiku merasa nyaman dengan pelukan ini."
Seketika, tubuh Merlin melakukan apa yang Dicky katakan. Berhenti bergerak dan tidak melakukan perlawanan lagi. Mata mereka saling tatap untuk beberapa saat lamanya.
Mata itu memancarkan sinar kesedihan yang membuat Merlin merasa kasihan. Pesona kuat tiada tandingan yang Dicky miliki, sulit untuk Merlin lawan. Meski hatinya tidak menginginkan untuk mengikuti apa yang Dicky katakan, tapi tubuhnya melakukan hal berbeda.
Dicky kembali membalikkan posisi mereka. Lalu, dia kembali membawa Merlin ke dalam pelukannya. Kali ini, Merlin sama sekali tidak berontak, dia hanya membiarkan Dicky melakukan apa yang Dicky inginkan.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka saling berpelukan. Bukan mereka, hanya Dicky saja. Merlin hanya membiarkan Dicky melakukan apa yang Dicky ingin lakukan tanpa berniat membalas perlakuan itu sedikitpun.
Perlahan, pelukan itu akhirnya melonggar. Merlin memanfaatkan hal itu untuk kabur dari Dicky. Karena kebetulan, dia juga ingin pergi ke kamar mandi karena panggilan alam yang dia rasakan.
"Aku mohon jangan pergi," ucap Dicky sambil menahan tangan Merlin.
"Aku ingin ke kamar mandi. Bagaimana aku tidak boleh pergi?"
__ADS_1
"Baiklah. Pergilah. Tapi, aku mohon kamu cepat kembali."
Merlin tidak menjawab. Dia segera beranjak menuju tempat yang ia ingin tuju. Namun, sudut bibir itu tiba-tiba mengukir senyum kecil tanpa bisa dia cegah. Karena hatinya merasa bahagia dengan apa yang baru saja dia lalui.