Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#70


__ADS_3

Sementara itu, di dalam kamar tersebut, Jenny sedang meringkuk di sudut kamar dengan tubuh yang berbalut selimut tebal. Sedangkan Yoga, dia duduk di atas lantai dengan wajah yang memar dengan bersandarkan diri pada tembok.


Aksi guling-gulingan yang Mita lakukan tiba-tiba berhenti ketika dia menyadari keberadaan Merlin dan Dicky di tengah-tengah para tamu hotel yang sedang berkerumun. Dengan tatapan marah, Mita bagun dari duduknya.


"Kau! Kau adalah penyebab semua masalah ini. Iyakan?" Mita menuding Merlin secara langsung.


"Apa yang baru saja kamu katakan, ibu tua? Jangan sembarang bicara pada istriku. Jangan asal tuduh. Jika tidak ingin aku tuntut kamu dengan tuduhan pencemaran nama baik."


"Aku tidak asal tuduh, tuan muda. Istrimu ini memang penyebab semua masalah yang terjadi pada anakku."


"Katakan! Kenapa kamu tega melakukan itu pada kakakmu, hah? Dia tidak bersalah, Merlin. Kenapa kamu malah menjebak dia?"


Mendadak, Mita merubah nada bicaranya yang keras menjadi lemah lembut bak seseorang yang benar-benar sedang tertindas. Semua itu dia lakukan agar semua yang melihat kejadian ini akan berpikir, kalau apa yang baru saja terjadi pada Jenny itu memang ulah Merlin.


"Aku tahu, kedatangan kami ke dalam keluarga kamu tidak pernah kamu terima. Aku memang menikah dengan papamu yang sudah menduda karena rasa cinta. Tapi, apakah aku salah jika menjadi mama tiri mu?"


"Aku selalu diam kamu perlakukan tidak layak di rumah. Tapi kali ini, aku tidak bisa diam karena kamu sudah menyakiti kakakmu. Dia todak bersalah, Merlin. Yang salah itu aku. Aku yang telah menerima lamaran papamu dan bersedia menikah dengannya. Lalu aku juga yang membawa Jenny datang ke rumah kalian. Aku yang salah karena hal itu. Tapi ... apakah .... "


"Cukup! Apa kamu punya bukti untuk menuduh istriku yang menjebak anakmu? Dan lagian, apakah kata-kata yang kamu ucapkan barusan itu memang fakta atau hanya omongan kamu saja."


"Tidak baik jika hanya bicara saja, tapi buktinya tidak ada. Kamu bisa memfitnah orang lain. Fitnah sama dengan mencemarkan mana baik. Maka jika aku melaporkan kamu ke polisi, kamu akan di kena hukuman penjara."


"Dicky. Tidak perlu menjelaskan apapun pada mama tiri ku ini. Dia tidak akan paham. Dia sengaja ingin merusak nama baik aku, karena kemarin dia tahu, harta warisan yang orang tuaku punya tidak bisa diubah nama atas nama anaknya."


Merlin angkat bicara setelah diam begitu lama. Dia sengaja mengatakan hal itu di depan semua orang untuk menyelesaikan masalah drama yang mama tirinya buat saat ini.

__ADS_1


Sungguh luar biasa. Ekspresi kaget yang Mita perlihatkan benar-benar sesuai dengan apa yang Merlin harapkan. Mita benar-benar kaget dengan ucapan Merlin barusan. Wajah sedih bak orang yang sedang tertindas itu tiba-tiba berubah memerah dengan mata melebar tak percaya. Mita mengalihkan pandangannya dari Merlin ke Bondan.


"Cepat jelaskan padaku, Mas! Apa benar yang dia katakan, hah? Kamu tidak bisa mengubah nama Merlin dengan nada Jenny?"


Karena terlalu kaget dan sangat emosi dengan apa yang baru saja dia dengar, Mita tiba-tiba lupa dengan keberadaan orang-orang yang sedang berkumpul memperhatikan dirinya. Sandiwara tertindas yang dia mainkan, hilang seketika.


"Uh! Ternyata dia benar-benar mama tiri yang jahat. Aku pikir, semua yang dia katakan barusan itu fakta. Ternyata cuma sandiwara," ucap salah seorang ibu-ibu yang berada di kerumunan.


"Iya. Aku pikir memang ada anak tiri yang kejam. Tahunya ... tidak."


"Dasar orang tidak punya muka. Buang-buang waktu kita melihat pertunjukan sandiwara keluarga yang tidak benar ini."


"Iya, hampir saja aku marah dengan gadis malang itu. Tahunya ... dia yang ditindas, bukan menindas."


Dia mematung tak berdaya. Tidak tahu harus berkata apa untuk membersihkan nama baiknya yang sudah hancur berantakan.


Dicky tersenyum kecil. Kebetulan yang luar biasa buat dia saat memilih kamar ini sebagai kamar untuk membuat pertujukan besar buat Jenny. Tapi sebenarnya, itu bukan kebetulan, melainkan, sudah dia rencanakan.


Kemarin malam, dia tahu kalau pagi ini akan ada ibu-ibu dari beberapa komunitas emak-emak rempong yang akan menginap di hotel ini. Komunitas itu sedang melakukan kegiatan bersama.


Entah apa kegiatannya, Dicky juga tidak tahu. Yang jelas, kehadiran ibu-ibu itu bisa sangat menguntungkan buatnya. Dan ternyata itu memang benar. Ibu-ibu itu memang benar-benar menambah hangat suasana besar rencana yang dia laksanakan.


Raut memerah karena malu terlihat dengan sangat jelas di wajah Mita. Sementara Bondan, dia hanya menunduk karena ikut merasa malu akibat ulah istrinya.


Setelah petugas datang, semuanya bubar. Jenny dan Yoga di bawa ke kantor keamanan dengan Mita yang terus mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Sementara itu, Bondan terus menatap Merlin dengan tatapan yang sulit untuk Merlin tebak. Karena tatapan itu tidak seperti biasanya. Ingin Merlin artikan dengan tatapan marah, namun bukan.


"Sayang, ayo jalan! Kita masih punya urusan yang harus kita selesaikan." Dicky berucap sambil menyentuh pelan bahu Merlin.


"Eh, iy--iya. Ayo!"


"Tunggu!" Bondan tiba-tiba berucap sambil menahan tangan Merlin yang baru saja ingin melangkah.


"Tolong lepaskan tangan istri saya sekarang juga. Anda tidak berhak menyentuh tangannya, apalagi memegang," ucap Dicky dengan nada penuh penekanan juga tatapan tajam.


"Maaf, tuan muda. Sepertinya tuan muda sudah lupa akan satu hal. Dia ini anak saya. Jadi .... "


"Heh! Anak? Benarkah aku anak anda?" tanya Merlin memotong ucapan papanya dengan cepat. Sejujurnya, dia tidak ingin bicara, namun hati kecilnya menginginkan dia untuk ikut bicara.


"Merlin. Jaga bicara kamu. Aku ini papamu bagaimanapun caranya."


"Benarkah? Sayangnya, tidak ada papa yang menjual anaknya pada orang lain. Juga ... tidak ada papa yang tega memutuskan hubungan dengan anaknya hanya karena membela orang yang jelas-jelas datang dari luar."


"Mereka bukan orang yang datang dari luar, Merlin. Mereka itu mama dan kakak tiri kamu. Seharusnya, kamu bisa berdamai dengan mereka. Kenapa kamu malah selalu bikin perkara pada mereka, ha? Sampai kapan kamu harus memusuhi mereka? Yang bawa mereka itu aku, papa kamu. Bukan mereka yang datang sendiri."


Mendengar ucapan itu, hati Merlin kembali tergores dan terasa sangat pedih. Dia tidak menyangka, sampai detik inipun, papa kandungnya masih tetap membela anak tirinya yang jelas-jelas telah mencoreng wajahnya dengan kotoran.


"Terserah papa mau bilang apa. Aku tidak punya urusan lagi dengan papa."


"Ayo, Dicky! Kita pergi," ucap Merlin tidak ingin bicara lagi. Karena saat ini, hatinya sudah sangat-sangat jenuh dan bosan. Jangankan bicara, melihat saja rasa sangat amat malas.

__ADS_1


__ADS_2