
Merlin ingin langsung menghindar dari Dicky dengan beranjak tanpa berucap sepatah kata terlebih dahulu. Tapi ... hal itu tidak terjadi. Karena Dicky dengan sigap menahan tangan Merlin agar tidak pergi dari hadapannya.
"Tunggu!"
"Dicky! Lepas!" Merlin berucap dengan nada tinggi.
"Tidak akan."
"Lepas aku bilang!"
"Tidak."
Bukannya melepaskan, Dicky malah menarik Merlin ke dalam pelukannya. Hal itu sontak membuat Merlin kaget bukan kepalang. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Bagaimana tidak? Itu adalah kali pertama buat Merlin berada dalam pelukan seorang laki-laki. Apalagi ... laki-laki itu Dicky. Pangeran tampan yang punya pesona tingkat dewa.
"Dicky lepas!"
Merlin berteriak sambil mendorong kuat tubuh Dicky supaya bisa menjauh darinya. Usaha itu tidak sia-sia. Karena dorongan keras itu, tubuh Dicky beranjak mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jaga sikapmu padaku. Meski aku gadis yang keluargamu beli dengan uang sejumlah dua puluh milyar, tapi aku bukan boneka yang tidak punya perasaan. Kamu tidak bisa bertindak sesuka hati padaku."
Dicky menatap tajam wajah Merlin. Untuk beberapa saat lamanya, Dicky terdiam sambil terus menatap.
"Aku bukan boneka Dicky. Aku punya perasaan. Aku akan berusaha tahu diri siapa aku," ucap Merlin dengan nada lemah.
Dia lelah bersikap kuat. Karena pada dasarnya, dia juga wanita yang rapuh. Hatinya begitu rapuh sebenarnya. Tapi, dia hanya berusaha untuk tetap tegar walau pada akhirnya, dia tetap tidak bisa selamanya tegar.
__ADS_1
Perlahan, air mata itu jatuh melintasi pipi. Karena luka yang tergores, susah untuk dia tutupi. Walau sebenarnya, dia sudah berusaha sekuat tenaga agar tidak memperlihatkan kelemahannya pada laki-laki yang berada dihadapannya saat ini.
Guratan bersalah, kini tergambar dengan jelas di wajah Dicky ketika dia melihat Merlin menangis tanpa suara dengan wajah tertunduk. Meskipun dia tahu, kalau gadis itu sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya sekarang. Tapi, sangat bodoh jika dia tidak tahu kalau gadis itu sedang sangat bersedih saat ini.
"Merlin ... maaf."
Kata itu sontak membuat Merlin mengangkat kan kepalanya. Karena dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang kupingnya dengar barusan.
"Aku minta maaf atas perlakuan buruk ku padamu kemarin-kemarin. Aku tidak seharusnya bersikap kasar padamu seperti itu. Karena semua yang terjadi, itu bukan keinginanmu. Lagipula, kamu ada di sini karena aku. Aku salah. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu," ucap Dicky dengan nada penuh penyesalan.
Kata-kata yang Dicky ucapkan barusan semakin membuat Merlin membelalak tak percaya. Bagaimana tidak? Apa yang baru saja dia dengar, itu sungguh diluar logika baginya. Karena apa yang dia lalui kemarin, sungguh sangat miris.
"Aku tahu kamu masih marah padaku. Tapi, aku harap, kamu bisa memaafkan aku atas sikap kasar ku padamu kemarin."
"Oh ya, maaf untuk aku yang tidak sempat membelikan baju baru buat kamu. Ini ... jika tidak keberatan, kamu bisa kenakan bajuku terlebih dahulu," ucap Dicky sambil mengulur sebuah switer yang sedari tadi dia pegang.
"Kamu bisa ganti baju sekarang. Aku tunggu kamu di meja makan." Selesai berucap, Dicky langsung beranjak meninggalkan tempatnya. Meninggalkan Merlin yang terlihat masih dengan tatapan bingung diam di tempat dia berdiri sebelumnya.
Merlin menatap switer yang ada di tangannya untuk beberapa saat. Lalu, dia menarik napas panjang kemudian membuangnya secara perlahan.
'Sudahlah, Merlin. Ikuti saja apa yang dia katakan. Toh kamu punya hutang besar padanya. Dua puluh milyar, Merlin. Dua puluh milyar. Itu hutang yang sangat besar. Yang tidak mungkin bisa kamu bayar selama bertahun-tahun hanya dengan kerja tanpa kelulusan.' Merlin berucap dalam hati sambil terus menatap switer abu-abu tersebut.
Merlin memilih mendengarkan apa yang Dicky katakan. Mengganti baju yang dia pakai saat ini, dengan switer yang Dicky berikan. Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang Dicky mau. Lagipula, baju yang dia kenakan memang sudah sangat bau dan tidak nyaman untuk dia pakai lagi sekarang.
Switer itu dia pakaikan ke tubuhnya. Tercium aroma khas yang entah wangi apa dari switer tersebut. Yang jelas, aroma itu mampu membuat pikirannya merasa sedikit tenang dan nyaman.
__ADS_1
Untuk beberapa saat lamanya, Merlin menikmati bau switer tersebut. Sampai pada akhirnya, dia sadar kalau dia harus segera keluar dari kamar mandi ini. Karena sekarang, Dicky sedang menantinya di meja makan.
Merlin berjalan pelan menuju meja makan. Di sana, Dicky sedang duduk di salah satu kursi dengan dua piring nasi goreng yang sudah tersedia di atas meja. Sedangkan Dicky sendiri, sibuk dengan mengutak-atik ponsel yang ada di tangannya.
Menyadari kedatangan Merlin mendekati ke arahnya. Dicky segera menghentikan apa yang ia lakukan barusan. Dia beralih melihat Merlin yang berjalan semakin mendekat.
Untuk sesaat, mata mereka saling pandang. Namun, Merlin dengan cepat menghindar dari tatapan Dicky. Berbeda halnya dengan Dicky, dia malah terus menatap Merlin yang sedang memakai switer miliknya.
Sebuah senyum terukir tanpa bisa Dicky tahan. Hatinya merasa geli dengan apa yang dia lihat saat ini. Bagaimana tidak? Merlin dengan switer kebesaran itu terlihat begitu lucu dan imut menurut Dicky.
"Kenapa? Aku terlucu seperti badut ya?" tanya Merlin dengan nada kesal.
Dicky segera menghentikan senyumannya barusan. Dia mengangkat satu alis sambil terus melihat Merlin.
"Siapa bilang kamu lucu seperti badut? Aku? Gak deh kayaknya."
"Memang gak bilang. Tapi kamu barusan tersenyum sambil terus melihat aku dengan switer yang kebesaran ini."
"Puas kamu ngerjain aku?"
"Hei ... aku gak sedang ngerjain kamu kok. Jadi cewek itu harus banyak berpikiran positif, mbak Merlin. Orang senyum belum tentu mengejek. Barangkali, suka."
"Suka?" tanya Merlin tak percaya. Namun, dia segera ingat siapa dia dan siapa Dicky.
"Suka ngerjain maksudnya?"
__ADS_1
"Ah ... sudahlah. Gak perlu bahas soal ngerjain atau tidak. Yang pasti, aku tidak ngerjain kamu barusan."
"Ayo duduk! Kita sarapan bersama. Setelah itu, kita ke mall buat belanja."