Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#80


__ADS_3

Merlin menyerah. Dia tidak ingin terlalu terbawa emosi dengan mempertahankan ego yang menyebabkan rasa kesal pada hatinya. Walau sebenarnya, Merlin merasa masih sangat kesal dan sakit hati dengan teriakan Dicky tadi.


Merlin masih diam. Dia tidak berniat menjawab ucapan Dicky barusan. Sementara Dicky, dia semakin mempererat pelukannya pada tubuh mungil yang terasa begitu menenangkan hati.


"Jangan marah lagi, Lin. Aku tahu salah. Aku akan jelaskan semaunya. Tapi, tolong berikan aku sebuah senyuman agar hati ini tidak merasa takut akan wajah galak itu."


"Hm .... " Merlin berucap sambil memperlihatkan senyum terpaksa yang kelihatan sekali kalau sedang dipaksakan.


"Ya Tuhan ... itu terlihat sekali kalau sedang terpaksa kan. Gak ikhlas banget."


"Ah, sudah. Lepaskan aku, karena aku tidak ingin mempermasalahkan hal yang tidak penting seperti undangan pertunangan yang tidak jelas ini lagi."


"Kamu masih marah. Nada bicaranya masih terdengar kesal tuh."


"Nggak. Siapa yang marah? Aku nggak. Nada bicaraku juga memang begitu."


"Kamu istri aku, tau? Aku sudah sangat paham bagaimana kamu. Dan .... " Tiba-tiba Dicky langsung menggendong Merlin dengan cepat.


"Dicky! Hei ... apa-apaan sih kamu? Turunkan aku."


"Kamu masih kesal. Tidak akan mau mendengarkan apa yang aku katakan. Cara bawa kamu masuk, ya dengan cara ini."


Dicky membawa Merlin ke sofa ruang tamu. Lalu, mendudukkan Merlin pada salah satu sofa yang ada di sana.


"Nah, sekarang sudah duduk. Aku akan jelaskan siapa Tora dan Nining."


Merlin masih diam. Dia masih enggan untuk berucap. Sementara itu, Dicky tersenyum melihat ekspresi kesal namun berusaha Merlin tutupi agar tidak kelihatan.


"Nining adalah gadis kampung yang dipinang Tora. Dia mantan pacarku."


Mendengar ucapan itu, Merlin tiba-tiba melihat wajah Dicky. "Mantan pacar?"


"Hm ... iya." Dicky berucap sambil menganggukkan kepalanya. Lalu kemudian, dia mengatakan semua tentang Nining.


"Jadi ... Nining adalah pacar kesayangan yang membuat kamu menikahi aku? Yang membuat kamu kacau malam itu?"

__ADS_1


"Bukan pacar, nyonya muda Prasetya. Tapi mantan. Tapi ... aku bersyukur juga dengan alasan itu. Karena dia, aku bertemu belahan jiwa yang sebenarnya. Sungguh anugerah dari masalah, bukan?"


"Jangan banyak drama, tuan muda Prasetya. Tidak akan ada manis-manisnya jika banyak drama. Lalu, siapa Tora? Apa kamu juga kenal dia?"


"Tentu saja aku kenal. Dia ... dia mantan temanku."


"Hah? Mantan teman? Yang benar saja. Aku tidak percaya ada mantan teman. Selama ini, yang pernah aku tahu, itu cuma ada mantan pacar. Gak akan ada mantan teman. Gitu dari setiap kata-kata bijak yang aku baca."


"Kata-kata bijak itu tidak sepenuhnya benar, bukan? Buktinya saja aku. Dia menang mantan temanku."


Lalu, Dicky menceritakan semuanya. Segala tentang dia dan Tora. Merlin mendengarkan dengan seksama semua cerita yang Dicky ceritakan padanya.


"Jadi ... karena masalah itu semuanya berubah? Bukankah itu bukan salah kamu?"


"Tidak semua bisa berpikiran terbuka, Merlin


sayang. Karena kita manusia ini punya sifat yang bermacam-macam. Ada banyak orang yang terkadang menolak untuk membuka pikiran mereka. Mereka bahagia dengan apa yang menurut mereka benar dengan apa yang mereka pikirkan."


"Iya, kamu benar kak. Mm ... tapi ... kenapa kamu jadi begitu terbuka dengan aku sekarang. Kenapa kamu bisa ceritakan semua tentang masa lalu mu padaku?"


"Dan kita sudah berjanji untuk saling terbuka satu sama lain. Karena rumah tangga yang akan kita jalani, sangat membutuhkan kejujuran. Paham, nyonya muda Prasetya." Sekarang, setelah mencolek, Dicky malah mencubit manja hidung Merlin.


"Kamu ... ih. Sakit tahu," ucap Merlin sambil memasang wajah manyun yang terlihat sangat lucu.


Dicky tersenyum. Dia begitu bahagia dengan perubahan hubungan mereka. Hubungan mereka sekarang begitu nampak banyak kemajuan. Meskipun berjalan selangkah demi selangkah, tapi terlihat begitu nyata. Dia dan Merlin begitu dekat sekarang.


"Oh ya, ini." Dicky menyerahkan surat yang tadi Merlin berikan padanya dengan kesal. "Bacalah! Aku gak papa. Tapi tolong baca dengan keras. Aku juga ingin dengar."


"Ih, kenapa minta aku yang baca? Baca aja sendiri." Merlin berucap sambil menolak surat tersebut.


"Yakin gak mau baca nih?"


"Mm ... itu ... sini. Jika kamu memaksa, aku akan baca," ucap Merlin dengan cepat mengambil surat yang ada di tangan Dicky.


"Katanya gak mau baca."

__ADS_1


"Itu karena kakak yang maksa."


"Mm .... " Dicky menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah lucu yang merlin perlihatkan.


Merlin tidak ingin menghiraukan Dicky lagi. Dia sibuk membuka surat untuk mengobati rasa penasaran yang memang sejak tadi sudah bersemayam di hatinya.


Tidak terlalu banyak tulisan di atas kertas putih yang bergaris itu. Hanya ada tiga baris saja. Hal itu memudahkan Merlin untuk membaca.


*Dicky, aku kirim surat undangan ini untukmu. Aku harap kamu datang untuk menghadiri pesta pertunangan kami. Datanglah bersama pasanganmu biar tidak terlihat menyedihkan di hari bahagia orang yang kamu cintai. Cih ... kamu tuan muda, tapi sayangnya, pemenang tetap aku. Aku tunggu kedatangan mu.


Begitulah isi pesan yang tertulis di atas kertas putih tersebut. Setelah membaca, Merlin melihat wajah Dicky yang sedang memperhatikan dirinya sejak tadi.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Kamu kesal dengan kata-kata yang dia ucapkan ini? Atau ... jangan-jangan, kamu tidak rela melepaskannya?"


"Apa yang kamu katakan? Siapa bilang aku tidak rela? Dari mana kamu tahu kalau aku tidak rela coba?"


"Dari wajahmu, tuan muda Prasetya. Wajahmu bilang kalau kamu tidak rela."


"Hei ... tidak ada wajahku bilang aku tidak rela ya, nyonya muda. Jangan asal bicara yah. Mm ... cewek itu terkadang lucu, tahu gak? Dia yang cemburu, laki-laki yang di salahkan. Makanya dari tadi aku gak izinkan kamu baca suratnya. Ya karena aku gak ingin di salahkan seperti ini karena kamu cemburu."


"Apa? Aku cemburu? Hei aku gak bilang kalau aku cemburu ya. Jangan mengalihkan pembicaraan."


"Aku tahu kamu cemburu. Aku lihat dari wajahmu kalau kamu sedang cemburu padaku."


"Dicky ....! Jangan sembarangan ya ... aku gak cemburu. Kamu bicara kata-kataku barusan itu. Ih .... "


Merlin langsung memasang wajah manyun dengan ekspresi manja luar biasa. Bukannya merasa bersalah, Dicky malah merasa begitu gemes melihat wajah Merlin yang terkesan begitu imut di matanya.


Puas menikmati pemandangan yang menyenangkan hati itu, Dicky baru mendekat untuk membujuk. Awalnya, Merlin menolak mentah-mentah. Tapi pada akhirnya, luluh juga.


"Kok baru bujuk sekarang?"


"Ya habisnya, seneng lihat wajah ngambek yang sangat lucu itu. Bikin gemes banget. Pengen cubit rasanya."


"Dicky! Berani-berani kamu yah .... "

__ADS_1


__ADS_2