
Merlin lalu memakai dress itu. Sungguh kebetulan yang luar biasa. Dress itu begitu cocok di tubuhnya.
Untuk sesaat, Merlin menatap dirinya di depan kaca setelah memakai dress tersebut.
"Ini benar-benar indah," gumam Merlin sambil tersenyum.
Lalu kemudian, dia bergegas meninggalkan kamar apartemen setelah ingat dengan Hero yang sedang menunggunya di bawah.
Hero sedang melakukan vidio call dengan Dicky ketika melihat Merlin datang dari kejauhan. Saat itu, Hero kaget ketika melihat Merlin datang dengan dress hijau tua di tubuhnya.
"Ada apa, Hero? Kenapa kamu bengong seperti baru saja melihat penampakan?"
"Ti--tidak ada, tuan muda. Aku hanya ... hanya .... "
"Hanya apa?"
"Hanya melihat nona muda datang sekarang."
"Cuma melihat dia saja kamu bengong? Yang benar saja?"
"Tuan muda, nona .... "
"Ada apa sih, Hero? Kenapa kamu seperti merasa ada yang salah dengan dia. Jika benar ada, maka katakan langsung. Jangan buat aku penasaran yang akan berakhir yang emosi nantinya."
"Nona ... aku tidak bisa menjelaskan. Sebaiknya, tuan muda lihat saja langsung apa yang salah dengan nona muda saat ini."
Hero lalu memutar kamera sehingga Dicky bisa melihat Merlin secara langsung. Betapa kagetnya Dicky ketika melihat Merlin yang sedang menggenakan dress hijau tua sambil berjalan mendekat.
"Lancang! Siapa yang mengizinkan dia menyentuh barang-barang ku, hah!"
Dicky berucap dengan nada tinggi. Dia terlihat begitu marah sekarang
"Tunggu di sana, Hero! Aku akan ke sana sekarang."
"Tapi, tuan muda. Kami akan berangkat sekarang. Bagaimana .... "
"Tidak ada berangkat sebelum aku sampai. Paham!"
"Baiklah, tuan muda. Saya paham."
__ADS_1
"Hero. Maaf membuat kamu menunggu aku terlalu lama. Ayo berangkat sekarang!"
"Maaf, nona muda. Sepertinya, kita belum bisa berangkat sekarang."
"Lho, kenapa? Kenapa belum bisa berangkat sekarang sih?"
"Karena, tuan muda sedang dalam perjalanan ke sini. Kita harus bertemu dengan tuan muda terlebih dahulu."
"Lho, bukannya tadi dia bilang, aku bisa pergi ke mana aku mau?"
"Saya juga tidak mengerti, nona. Yang pasti, saya melakukan sesuai perintah dari tuan muda. Maaf .... "
"Tidak perlu minta maaf, Hero. Aku memahami posisi kamu sebagai asisten Dicky. Kamu pasti mendengarkan apa yang Dicky katakan. Sedangkan aku ... ah, sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Aku akan ikuti apa yang Dicky katakan."
Hero menatap Merlin dengan tatapan bersalah sekaligus iba. Dia tidak tahu kenapa dia bisa merasakan hal itu. Tapi yang jelas, dia menyesali apa yang baru saja dia lakukan.
'Ya Tuhan ... maafkan aku. Aku tidak seharusnya mengatakan pada tuan muda tentang nona tadi. Ah, kenapa aku mendadak jadi bego begini sih? Sekarang, nona pasti akan mendapat masalah karena dress itu. Aduh .... '
Hero mengutuk dirinya sendiri dalam hati sambil terus melihat Merlin dengan tatapan iba. Tak lama kemudian, mobil hitam seri terbatas milik Dicky berhenti di samping mobil yang Hero bawa.
Dicky segera keluar dari mobil itu tanpa menunggu sopir membukakan pintu terlebih dahulu. Dengan tatapan tajam, dia menatap Merlin sekarang.
"Ada apa sih, Dicky? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?"
Melihat hal itu, Hero yang sedang menyimpan rasa bersalah, segera keluar dari mobil.
"Tuan muda ta .... "
"Kamu diam di sini, Hero. Ini urusan aku dengan dia. Kamu tidak perlu ikut campur. Urusan kamu itu mendengarkan apa yang aku perintahkan. Mengerti?"
"Maaf, tuan muda," ucap Hero tidak berani membantah. Meski umurnya jauh lebih tua dari Dicky. Tapi, kedudukannya sangatlah jauh berbeda. Mana mungkin dia berani membantah apa yang Dicky katakan. Karena biar muda, Dicky tetap bosnya.
Dicky lalu menarik tangan Merlin. Tenaga Dicky terlalu kuat sehingga Merlin tidak bisa bertahan. Dia terpaksa mengikuti Dicky, karena tangannya yang Dicky tarik.
"Dicky! Lepaskan aku! Kamu ini apa-apaan sih?"
"Kamu yang apa-apaan, Merlin. Berani-beraninya kamu menyentuh barang-barang ku. Apa sudah lupa dengan perjanjian yang kita buat?"
"Aku tidak lupa."
__ADS_1
"Ikut aku!"
Dicky tidak ingin ada yang tahu soal masalahnya. Maka dari itu, dia diam sambil terus menarik tangan Merlin hingga mereka sampai di depan pintu apartemen miliknya.
"Buka pintunya sekarang juga!"
"Bagaimana bisa aku membuka pintu jika tanganku masih kamu genggam."
Dicky lalu melepaskan genggaman itu segera.
"Cepat buka!"
"Sabar! Aku bukan robot yang bisa langsung melakukan apa yang kamu perintahkan. Aku butuh waktu dan proses untuk melakukan semua perintah dari kamu."
"Cepat, Merlin! Jangan uji kesabaran yang sedikit ini."
"Iya!"
Merlin lalu membuka pintu itu. Setelah pintu terbuka, Dicky kembali menggenggam tangan Merlin untuk ia bawa ke dalam dengan segera.
"Lepas! Aku bisa masuk sendiri."
"Kenapa kamu begitu tidak tahu diri, Merlin? Kenapa kamu sentuh barang-barang ku, hah!"
"Apa yang kamu maksud itu, hm? Apa karena baju yang aku pakai ini?"
"Tentu saja. Kamu sudah tahu apa masalahnya. Tapi kenapa kamu masih melakukan kesalahan itu. Kamu dan keluargamu sama saja. Kalian sama-sama tidak tahu malu ternyata."
Plak! Sebuah tamparan mendarat ke pipi putih nan mulus milik Dicky. Sangking kuatnya tamparan itu, sampai membuat wajah Dicky berpaling ke samping.
Dicky menyentuh pipinya yang terasa sangat panas akibat tamparan keras dari Merlin barusan. Seumur hidupnya, baru pertama kali ada gadis yang begitu berani dengannya. Bahkan, berani memberikan dia sebuah tamparan yang sangat keras seperti barusan.
"Jaga mulut kamu, Dicky. Aku memang punya hutang besar padamu karena papaku. Tapi bukan berarti kamu seenaknya menyamai aku dengan keluargaku."
"Katanya, kamu orang kaya yang punya uang banyak. Tapi hanya karena sebuah dress yang aku pinjam, kamu mengeluarkan sifat aslimu yang begitu buruk di hadapanku."
"Tapi ... itu bagus sebenarnya. Dengan begitu, aku jadi semakin tahu bagaimana kamu sebenarnya."
"Diam Merlin. Ini bukan karena harga atau uang. Tapi, ini karena kamu yang begitu lancang menyentuh barang yang aku punya. Aku tidak pernah berpikir, kamu begitu liar ternyata. Pantas saja papa dan seluruh keluargamu membenci kamu."
__ADS_1