Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#85


__ADS_3

Merlin datang, dan tiba-tiba memberikan sentuhan kecil di pundak Dicky. Hal itu membuat Dicky merasa kaget karena pikirannya yang berkelana entah ke mana barusan.


"Lho, kok kaget sih, kak? Mm ... kamu sedang melamun ya barusan? Hayo ... melamun soal apa? Katakan padaku! Apa yang kamu pikirkan barusan sampai kaget saat aku sentuh."


"Sayang, kamu yang tiba-tiba yang membuat aku merasa kaget, tahu gak?"


"Beneran? Gak bohong?"


"Oke, aku tahu aku tidak bisa bohong padamu. Aku sedang mikir soal Tora. Mereka baru tunangan dua hari, tapi udah langsung nikah aja sekarang. Apa itu gak terlalu cepat? Lagian, aku tahu kalau Tora itu cuma hanya ingin memperalat Nining saja. Dia tidak serius dengan pertunangan itu."


"Kamu ... kamu cemas dengan keadaan Nining?"


Pertanyaan yang penuh dengan aura kecemburuan itu membuat Dicky merasa tidak enak. Segera dia tarik tubuh Merlin untuk dia bawa ke dalam pelukannya.


"Masih cemburu aja ternyata. Aku gak punya rasa lagi pada Nining. Hanya sekedar bicara karena penasaran saja. Kenapa harus mikir berlebihan sih?" Dicky mencubit manja hidung Merlin.


"Lagian, jika aku punya rasa, tidak akan datang dan menyelesaikan permasalahan dengan cepat malam itu, bukan? Kamu juga tahu bagaimana perasaanku padamu, sayang. Sudah, jangan ada kata cemburu lagi. Harus menanamkan rasa saling percaya dalam hubungan kita sekarang."


"Iya, aku tahu kalau kamu tidak punya rasa pada mantan pacarmu. Aku hanya sekedar usil saja. Itu aja kamu tanggapi dengan serius."


"Bagaimana gak serius, sayang. Wajah kamu itu bikin aku merasa takut, tahu gak? Ya meskipun aku bukan tipe laki-laki yang takut akan istri. Tapi setidaknya, rasa sayang itu juga harus dijaga."


"Kamu yakin kalau kamu bukan dari golongan laki-laki yang takut akan istri, kak?"

__ADS_1


"Tentu saja. Aku memang bukan laki-laki yang takut akan istri. Tapi, aku dari golongan laki-laki yang sayang akan istri."


"Bilang aja kamu sedang ngeles. Oh ya, bagaimana keadaan papa sekarang ya? Apa dia masih menjalani penyelidikan lebih lanjut?"


"Iya. Dia masih menjalani penyelidikan lebih lanjut. Kita akan dikabari jika sudah selesai penyelidikan nanti."


Merlin terdiam. Dia memikirkan apa yang sudah terjadi dua hari yang lalu. Begitu banyak peristiwa yang dia lewati dalam waktu singkat. Malam itu dia menghadiri pesta pertunangan manta. Sedangkan siangnya, polisi menangkap papa juga mama tirinya atas tuduhan pembunuhan berencana.


Papanya begitu marah sampai memaki-maki dirinya habis-habisan.


"Dasar anak tidak tahu terima kasih. Meski kamu anak kandungku, tapi aku tidak pernah suka padamu. Karena kamu terlahir dari seorang wanita yang tidak aku sukai."


Dari situlah Merlin tahu kenapa dia tidak papanya sayangi selama ini. Ternyata, papanya tidak suka dengan almarhumah mamanya. Pernikahan yang berawal dari perjodohan oleh kedua orang tua, hal itu menyimpan rasa benci yang teramat dalam buat sang papa. Tapi, karena harta warisan, sang papa hanya bisa bersandiwara dengan pura-pura baik. Hingga saat yang tepat itu datang.


Dialah, Jenny. Anak Mita yang selama ini berstatus anak tiri Bondan. Ternyata, dia anak kandung yang mereka rahasiakan identitasnya karena takut harta kekayaan tidak bisa diwariskan karena Jenny adalah kesalahan fatal akibat lahir di luar nikah.


Merlin terhenyak tak percaya dengan semua kenyataan itu. Dia benar-benar syok saat tahu semua rahasia besar. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menyaksikan semua yang telah terjadi.


Sementara Jenny. Pukulan mental yang datang bertubi-tubi itu semakin tidak bisa dia terima dengan akal sehatnya. Dia semakin tertekan dan tidak bisa menguasai diri lagi sekarang.


Jenny mulai ngamuk-ngamuk setelah penangkapan orang tuanya. Dia mulai menyakiti semua orang yang dia lihat. Karena hal itu, tetangga tidak ingin Jenny ada di sekitar mereka. Dan pada akhirnya, karena tidak punya pilihan lain, Jenny harus di tempatkan di rumah sakit jiwa setelah satu hari penangkapan mama dan papanya.


Sentuhan lembut menyadarkan Merlin dari lamunannya. Dia menoleh ke samping untuk melihat Dicky yang sedari tadi menatapnya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Sekarang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Dicky sambil mempersembahkan senyum tipis khas miliknya.


"Tidak ada. Hanya ikut memikirkan apa yang kak Dicky pikirkan saja. Semua yang kita lalui dalam waktu singkat ini rasanya seperti mimpi. Aku juga merasa tak habis pikir dengan semua ini."


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Lima hari lagi, pesta pernikahan kita akan diadakan. Kamu tidak perlu capek-capek mikir apa yang sudah kita lewati sebelumnya. Karena setelah pesta pernikahan usai, kita akan pergi berlibur ke negara yang sangat ingin kamu datangi. Dan, kita akan menetap di sana. Seperti apa yang kamu impikan."


"Apa? Kita akan menetap di luar negeri?"


Merlin kaget bukan kepalang. Dia sampai terbangun dari duduknya saat mendengar ucapan Dicky barusan.


"Tentu saja. Kita akan mulai kehidupan baru kita di luar negeri. Dengan pindah ke luar negeri, kita akan lupa dengan masalah yang sudah terjadi di sini. Bagaimana? Apa kamu setuju dengan ide ini, Lin?"


Merlin tidak langsung menjawab. Dia diam sambil terus menatap mata Dicky yang sedang berharap persetujuan darinya.


"Bagaimana? Apa kamu keberatan? Jika kamu tidak ingin, maka aku tidak akan memaksa."


"Tidak. Aku bukan tidak ingin, kak. Hanya sedikit kaget saja. Mungkin, apa yang kak Dicky katakan itu benar adanya. Kita memang harus pergi dari sini, dan mulai hidup baru di tempat lain. Dengan begitu, kita akan merasa lebih bahagia."


"Kamu setuju?" tanya Dicky dengan wajah yang sangat bahagia.


"Tentu saja. Aku setuju. Bahkan, sangat setuju."


Karena rasa bahagia itu, Dicky langsung menarik Merlin ke dalam pelukannya. Mereka saling memejamkan mata untuk melepaskan beban berat yang ada dalam hati masing-masing.

__ADS_1


Sekarang, harapan mereka adalah, menata hidup baru yang lebih baik di tempat yang baru. Melupakan semua masalah yang telah mereka lewati sebelumnya.


__ADS_2