Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#45


__ADS_3

Harapan itu kembali pupus. Merlin kembali menjatuhkan air mata karena terlalu sedih. Dia menangis sambil menyembunyikan wajahnya diantara kedua lengan.


'Kenapa bisa begini? Kenapa Jenny tak habis-habisnya membuat ulah dengan aku?' Merlin berucap dalma hati sambil menggenggam erat tangannya.


Derap langkah kaki seseorang terdengar semakin mendekat. Tangisan itu berhenti seketika saat sentuhan seseorang mendarat di bahu Merlin.


Sontak, sentuhan itu membuat Merlin mengangkat kepala meski tidak ingin melihat orang tersebut.


"Ibuk." Bibir Merlin berucap pelan saat melihat orang yang barusan menyentuh pundaknya. Orang itu adalah wali kelas Merlin.


"Ikut ibuk ke kantor sekarang juga." Guru itu bicara dengan nada sedikit meninggi.


Tanpa bicara sepatah katapun, Merlin mengikuti apa yang guru itu katakan. Dia berjalan perlahan mengikuti langkah guru tersebut dari belakang.


Saat keluar dari kelas, dia melihat kerumunan teman-teman sekelas yang berkumpul di samping kelasnya. Mereka melihat Merlin dengan tatapan yang sangat tidak mengenakkan hati. Tatapan penuh ejekan, juga tatapan sinis yang terlihat sekali tidak menyukai keberadaan Merlin. Mereka melihat Merlin bak melihat kotoran yang menjijikkan.


Berusaha mengabaikan tatapan dari semua teman-temanya, Merlin terus fokus dengan langkah kaki menuju kantor seperti yang wali kelas minta. Sementara itu, di kelas Dicky sedang sibuk dengan gosip tentang Merlin yang sedang merebak.


Gosip itu terdengar sampai ke telinga Dicky. Namun, dia tidak terlalu memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekolah mereka. Karena kebetulan, dia juga baru masuk setelah ikut meliburkan diri sesuai libur panjang yang dia ambil untuk Merlin. Lagipula, dia baru saja menjejakkan kakinya di depan pintu kelas.


Tio yang melihat ke datangan sang sahabat, segera menghampiri Dicky.


"Hei ... baru muncul aja lo, Dic. Udah selesai libur panjangnya?"


"Hm ... udah. Kalo belum, mana mungkin aku datang ke sekolah hari ini."


"Oh ya, pada ngomongin apa sih nih sebenarnya? Ramai banget kayaknya."

__ADS_1


"Makanya jangan libur terlalu lama, tuan muda. Kan jadi serba gak tahu soal kabar yang terjadi di sekolah."


"Jangan banyak bicara. Tinggal jawab saja apa yang aku tanyakan padamu, kan gampang."


"Hm ... kebiasaan. Bertanya mau. Tapi gak sabaran. Mereka sedang menggosipkan anak kelas sebelah. Katanya, sudah menikah tapi berani datang ke sekolah."


"Kelas sebelah? Kelas dua pintar maksud kamu?" Dicky bertanya dengan nada serius sambil menatap Tio dengan tatapan yang tak kalah antusias.


Dia menanyakan hal itu karena ingat, Merlin berada di kelas dua pintar. Sedangkan dia, berada di kelas dua jenius. Sekolah menengah itu terdapat empat kelas untuk masing-masing angkatan. Angkatan satu, dua, dan tiga. Angkatan satu sama dengan kelas satu, dan begitu selanjutnya. Sedangkan untuk pembagian setiap kelasnya, disebut dengan kelas satu jenius, cerdas, pintar, dan pandai.


Dicky berada di angkatan dua, tepatnya di kelas jenius. Karena dia adalah tuan muda terpandang. Tentu saja tempatnya berada di peringkat pertama. Sementara Merlin di peringat ketiga dengan julukan kelas pintar. Namun, kelas mereka bersebelahan.


"Iya, kelas dua pintar. Kelas mana lagi yang berada di sebelah kita? Gak mungkinkan yang sebelah sana. Itu terlalu jauh dengan kita," ucap Tio dengan nada bercanda sambil melihat ke luar.


"Siapa murid yang mereka bicarakan? Maksudku, siapa namanya?" tanya Dicky benar-benar antusias.


"Tumben kamu antusias, Dic? Biasanya, gak ingin tahu tuh sola gosip apapun."


"Katakan saja! Jangan banyak bicara hal yang tidak ingin aku dengar."


"Oh Tuhan ... kapan kamu itu bersikap hangat pada orang lain ya? Bertanya saja tidak mau bersikap lemah lembut. Ya Tuhan .... "


"Tio .... "


"Iya-iya. Akan aku katakan namanya. Mereka sedang membicarakan Merlin."


"Apa! Merlin?" Raut kaget tergambar dengan sangat jelas di wajah Dicky sekarang. Tanpa menunggu jawaban dari Tio lagi, dia segera beranjak meninggalkan tempatnya.

__ADS_1


"Hei ... mau ke mana sih lo, Dicky?"


Dicky tidak menjawab. Dia terus berjalan cepat meninggalkan kelas. Tio mengikuti langkah Dicky dari belakang.


"Mau ke mana sih?" tanya Tio masih dengan rasa penasaran.


"Jangan banyak tanya."


"Ngapain kita ke sini?" tanya Tio masih tidak bisa menahan rasa penasaran saat mereka berada di depan pintu masuk kelas dua pintar tersebut.


"Sudah aku katakan, jangan banyak tanya. Aku tidak minta kamu ikut aku tadi, Tio." Dicky berucap dengan tatapan tajam. Tatapan yang membuat Tio merasa sedikit merinding.


"Merlin!" Dicky memanggil nama Merlin sambil melangkah masuk ke dalam kelas tersebut.


Sontak, semua mata yang ada di dalam kelas tersebut melihat ke arah Dicky. Kelas itupun hening seketika. Namun, tidak untuk waktu yang lama. Karena beberapa detik kemudian, kelas itu sangat gaduh karena kedatangan tuan muda yang terkenal itu.


"Di mana Merlin?" tanya Dicky membuat para pengagum terdiam kembali. Mereka saling pandang satu sama lain. Tentunya, dengan wajah yang tidak senang dengan nama yang mereka dengar barusan.


"Katakan di mana Merlin! Apa kalian semua bisu sampai tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ku?"


"Merlin di kantor kepala sekolah sekarang. Dia dimintai keterangan atas rumor yang beredar baru-baru ini." Jenny angkat bicara setelah dima beberapa saat lamanya.


Dicky berjalan mendekat ke arah Jenny. Dengan tatapan tajam, dia tatap mata Jenny. Tatapan itu membuat Jenny diam membisu.


"Jika terjadi sesuatu dengan dia nantinya, kamu akan tau akibat dari ulah yang kamu buat. Ingat itu!" Dicky berucap dengan nada penuh penekanan.


Hal itu membuat kaget seisi kelas. Sementara Dicky, dia langsung beranjak pergi setelah mengucapkan kata-kata ancaman itu pada Jenny.

__ADS_1


__ADS_2