Terpaksa Kawin Muda

Terpaksa Kawin Muda
#82


__ADS_3

"Mengapa mereka tega melakukan hal itu pada mama? Apa salah mamaku pada mereka? Mengapa mereka begitu kejam pada mama?" tanya Merlin tanpa bisa menahan air mata untuk tidak jatuh.


"Alasannya hanya ada satu, Lin. Mereka ingin bersama tanpa ada penghalang. Hubungan antara papamu dengan mama tiri mu sudah berjalan lama. Hanya saja, tidak bisa bersama selagi mama mu ada. Karena mamamu tidak ingin di madu. Papamu tidak bersedia menceraikan mama kamu. Karena jika bercerai, harta akan terbagi-bagi. Papa juga mama tiri mu tidak ingin harta terpecah, maka mereka memilih jalan ini untuk bersama."


Mendengar ucapan itu, Merlin menggenggam erat tangannya. Dia juga menggertak kan gigi karena sangat geram.


"Kejam. Kalian begitu kejam pada mamaku hanya karena harta. Kalian tidak akan pernah aku lepaskan sekarang. Kalian harus terima imbalan dari apa yang telah kalian lakukan pada mamaku dan aku."


"Kak, katakan padaku apa aku bisa membawa masalah ini kejalur hukum atau tidak. Tolong, aku ingin menyeret mereka ke dalam sel agar mereka tahu apa itu hidup menderita."


"Kamu tenang saja, sayang. Bukti yang kita miliki cukup kuat untuk menyeret mereka ke dalam tahanan. Mungkin, kita juga bisa buat mereka tinggal di dalam sel itu selamanya. Kamu tenang saja. Serahkan semuanya padaku. Kamu tinggal tunggu kabar baik dari aku saja."


"Terima kasih banyak, kak. Aku percaya padamu." Merlin berucap dengan senyum sambil menghambur ke dalam pelukan Dicky. Pelukan yang mampu membuat dia merasa tenang dan nyaman.


______


Malam ini, Dicky sudah menyiapkan semuanya. Dia tidak mengatakan kalau ingin datang ke pesta pertunangan Tora dengan Nining sebelumnya pada Merlin. Tapi, dia menyiapkan semuanya secara diam-diam.


"Gaun pesta?" tanya Merlin dengan wajah tak percaya saat Dicky menyerahkan boks hitam dengan gaun cantik di dalamnya.


"Iya."


"Buat apa gaun ini, Kak?"


"Kenakan saja. Kita akan menghadiri pesta pertunangan seseorang malam ini."


"Seseorang? Apa .... "


"Sayang, kenakan saja. Kamu akan tahu nantinya. Sementara menunggu kamu bersiap-siap, aku tunggu kamu di mobil ya."


Tidak ingin terlalu banyak membuang waktu, Merlin langsung mengikuti apa yang Dicky katakan. Dia memakai gaun indah itu dengan segera.


Gaun itu benar-benar cocok di tubuhnya. Seakan, memang dibuat untuk dirinya.


"Cantik." Merlin berucap sambil memperhatikan dirinya di depan cermin.

__ADS_1


"Tapi, akan lebih bagus jika warna gaun ini hijau tua, bukan pink cair seperti ini."


"Ah, apa yang kamu pikirkan sih, Lin? Sudah bagus punya gaun cantik. Eh, banyak tingkah lagi. Banyak milih. Huh .... " Dia memarahi dirinya sendiri sambil terus melihat cermin.


"Ya ampun, tolong jangan buang waktu, Merlin. Kamu tidak tahu seberapa jauh jalan yang akan kamu tempuh nanti. Jangan buat suamimu kecewa dengan menunggu kamu terlalu lama," ucap Merlin terus bicara dengan dirinya sendiri.


"Karena malam ini Dicky ajak aku menghadiri pertunangan mantan pacar juga mantan teman, maka aku harus buat berdandan cantik agar Dicky tidak dipermalukan."


Merlin langsung membuka laci meja rias. Dia mengeluarkan set alat make-up yang selama ini belum pernah dia sentuh sama sekali sejak dari pertama dibeli.


"Huh ... semoga tutorial make-up yang aku pelajari berguna dengan hasil yang tidak mengecewakan."


Lima belas menit lamanya Dicky menunggu di dalam mobil. Merlin belum juga terlihat keluar dari rumah.


"Tuan muda, apa tuan muda tidak menyiapkan tukang rias untuk mendandani nona muda?" Hero mulai cemas dengan keadaan Merlin. Dia takut kalau Merlin tidak akan tampil dengan dandanan yang memuaskan.


"Aku lupa soal itu, Hero. Karena sebenarnya, aku tidka ingin datang. Tapi, mengingat ucapan Merlin kemarin, aku paksakan buat hadir. Itu aku lakukan untuk membuktikan padanya kalau aku tidak punya rasa apapun lagi buat Nining."


"Lagian, jika dia tidak berdandan cantik juga sangat bagus. Dengan begitu, Tora pasti tidak akan melirik istriku nanti."


"Tapi ... sepertinya, apa yang tuan muda harapkan tidak akan tercapai."


"Apa maksudmu?"


"Coba lihat itu. Nona muda sudah keluar."


Dicky menoleh ke samping untuk melihat apa yang Hero lihat. Seketika, matanya tidak mampu berkedip lagi ketika melihat Merlin yang begitu cantik nan sangat anggun.


"Merlin."


"Kak. Kenapa? Apa ada yang salah dengan dandan aku sekarang? Apa ini tidak cocok?"


"Eh ... ti--tidak. Tidak ada. Kamu cantik sekali. Bahkan, terlalu cantik sampai aku merasa semakin takut untuk memperlihatkan kamu pada orang-orang."


"Kamu bisa aja. Oh ya, Hero juga ikut?"

__ADS_1


"Iya, nona muda. Saya ikut."


"Oh, ya sudah. Jalan sekarang aja deh."


Mobil yang Hero kendarai beranjak meninggalkan rumah. Tidak ada pembicaraan yang terdengar selama perjalan berlangsung. Hanya Dicky yang terus menggenggam erat tangan Merlin dengan penuh kasih sayang. Dia sepertinya sangat takut akan kehilangan Merlin. Dia juga terus memperhatikan wajah Merlin ketika Merlin sibuk melihat jalanan yang mereka lalui.


'Kamu terlalu cantik saat berdandan seperti ini, Lin. Aku jadi semakin takut untuk datang ke pesta nanti. Semoga kamu tetap jadi wanita kuat yang tidak akan terkalahkan oleh godaan dari luar. Karena aku tidak sanggup kehilangan lagi sekarang. Apalagi jika harus kehilangan kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nantinya.'


"Tuan muda, kita sudah sampai." Kata-kata yang Hero ucapkan membuyarkan lamunan Dicky.


"Hah? Kita sudah sampai?"


"Iya, tuan muda. Kita sudah sampai. Ini hotel yang tertera di surat undangan itu."


"Ya Tuhan ... kenapa kita sampai begitu cepat?" tanya Dicky dengan nada kesal.


"Cepat? Kenapa kakak bisa bilang cepat? Kita itu sudah sangat lama berada di dalam mobil, tahu gak?"


"Benarkah? Tapi ... aku merasa tidak begitu."


"Ih, makanya jangan tidur jika sedang dalam perjalanan. Jadinya kan gak terasa apa-apa bukan?"


"Hm ... bisa aja kamu. Oh ya, ingat! Jangan jauh-jauh dari aku."


"Gak akan."


Mereka lalu masuk dengan bergandengan tangan. Pasangan paling serasi mengalahkan tokok utama dalam pesta. Jadi, baru pertama menginjakkan kaki ke aula pesta saja, mereka sudah menjadi pusat perhatian semua tamu yang ada di sana.


"Kak, apa mereka tidak pernah melihat orang?" tanya Merlin dengan suara kecil pada Dicky.


"Kamu bisa aja, sayang. Sudah, jangan hiraukan mereka semua. Kita di sini gak akan lama. Selesai mengucapkan selamat, langsung pergi saja."


Belum sempat Merlin menjawab apa yang Dicky katakan, seorang pemuda datang menghampiri Dicky dengan tatapan yang sepertinya begitu memusuhi Dicky.


"Kamu berani datang juga ternyata? Tunggu! Perempuan yang ada di Sampung mu ini ... wah, cantik sekali. Pantas saja kamu berani datang ke sini ya, tuan muda."

__ADS_1


__ADS_2